*)Oleh: Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
Ibadah haji adalah wujud dari panggilan Allah, sebagaimana firman Alah,
وَاَ ذِّنْ فِى النَّا سِ بِا لْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَا لًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَا مِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,”
(QS Al-Hajj: 27)
Hendaknya setiap muslim meneladani kesetiaan Nabi Ibrahim AS, yang mengorbankan apa pun demi ketaatan kepada Allah.
Begitu pula dengan perjuangan Hajar dalam mencari air untuk putranya, Ismail, yang akhirnya mengalirkan air Zam-zam, simbol kasih sayang dan mukjizat dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Setiap langkah dalam ibadah haji menyimpan pelajaran akhlak, kesabaran, dan totalitas penghambaan. Haji mengajarkan kita arti cinta dan kepasrahan kepada Sang Pencipta.
Haji juga mengajarkan kita, pentingnya menjaga lisan dan sikap selama melaksanakan ibadah haji.
Barang siapa yang berhaji dan tidak berkata-kata kotor serta berbuat kefasikan, maka ia akan kembali dari hajinya seperti bayi yang baru dilahirkan.
Haji bukan hanya ibadah fisik, tapi perjalanan batiniah untuk membersihkan jiwa dan mendekat kepada Allah.
“Haji yang mabrur tidak ada balasan bagi pelakunya selain surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Semoga kita semua diberikan kesempatan untuk memenuhi panggilan suci ini.
Barakallahu fiikum. (*)
