Halalbihalal Umsida untuk Memperkuat Harmoni Syawal

Halalbihalal keluarga besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. (ist)
www.majelistabligh.id -

Momentum halalbihalal di lingkungan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjadi ruang refleksi untuk melanjutkan nilai-nilai Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Tahun ini, mengusung tema “Harmoni Syawal: Merangkai Kebersamaan Menuju Ketaqwaan dan Kebahagiaan”.

Prof. Dr. Ahmad Zuhdi, DH. M.FilI., selaku pemateri menyampaikan bahwa halalbihalal harus dimaknai lebih dalam, bukan hanya sebagai ajang saling bersalaman.

“Halalbihalal ini mengingatkan kita pada peristiwa mulia selama Ramadan. Tidak cukup hanya dikenang, tetapi harus dijadikan bekal hidup untuk 11 bulan ke depan,” ungkapnya.

Ia menekankan bahwa Ramadan seharusnya menjadi titik awal perubahan, bukan hanya ritual tahunan yang berulang tanpa makna. Prof. Zuhdi menjelaskan bahwa konsep perayaan dalam Islam memiliki perbedaan mendasar dengan tradisi sebelum Islam.

Ia menyinggung adanya perayaan kuno seperti Nairuz dan Mahrajan yang berasal dari wilayah Persia (sekarang Iran), yang identik dengan pesta, hiburan, bahkan konsumsi alkohol. Namun, Islam kemudian mengganti tradisi tersebut dengan dua hari raya utama, yaitu Idulfitri dan Iduladha, yang memiliki nilai spiritual dan sosial yang kuat.

“Dalam Islam, perayaan bukan hanya hiburan, tapi juga penguatan tauhid dan kepedulian sosial,” jelasnya.

Perayaan Idulfitri diawali dengan salat berjamaah, yang idealnya dilakukan di lapangan terbuka sebagai simbol kebersamaan umat. Selain itu, terdapat kewajiban zakat fitrah yang bertujuan memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang kurang mampu, dapat merasakan kebahagiaan di hari raya.

Menariknya, ia juga menjelaskan bahwa Islam tidak menutup ruang kebahagiaan dalam perayaan. Musik dan nyanyian tetap diperbolehkan selama tidak melanggar batas syariat.

Hal ini dicontohkan dari kisah pada masa Rasulullah, di mana terdapat dua perempuan yang bernyanyi pada hari raya, dan hal tersebut tidak dilarang selama tetap dalam koridor yang wajar. “Islam itu tidak kaku. Ada ruang kebahagiaan, tapi tetap dalam batas yang benar,” tambahnya.

Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu juga menekankan bahwa halalbihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara lain. Ia menjelaskan bahwa istilah halalbihalal tidak berasal dari bahasa Arab secara formal, melainkan merupakan kreativitas ulama nusantara dalam merumuskan tradisi saling memaafkan setelah Ramadan.

“Halalbihalal itu sebenarnya bentuk dari budaya kita untuk menyempurnakan ibadah Ramadan, khususnya dalam hal memaafkan,” jelasnya.

Menurutnya, dalam ajaran Islam, pengampunan dosa tidak hanya bergantung pada hubungan dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Jika seseorang memiliki kesalahan kepada orang lain, maka pengampunan tidak akan sempurna tanpa adanya permintaan maaf secara langsung.

Dari sinilah muncul tradisi halalbi halal sebagai bentuk penyempurna ibadah Ramadan. Ia juga mengaitkan sejarah halal bi halal dengan dinamika sosial Indonesia, termasuk peran tokoh-tokoh nasional dalam memperkuat tradisi ini sebagai sarana rekonsiliasi dan mempererat hubungan sosial.

Di akhir pemaparannya, Prof Zuhdi mengajak seluruh peserta untuk menjadikan Syawal sebagai momentum melanjutkan nilai-nilai Ramadan. Harmoni yang terbangun melalui halalbihalal harus terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam hubungan dengan Allah maupun sesama manusia.

Hal ini sejalan dengan tujuan utama Ramadan, yaitu memperoleh ampunan dan meningkatkan kualitas diri sebagai manusia. “Kalau Ramadan kita berhasil, maka Syawal harus menjadi bukti perubahan itu,” pungkasnya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search