Hari Disabilitas Internasional, Belajar dari Ibunda Thomas Alva Edison

Thomas Alva Edison dan Nancy Elliott. (aish)
*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistabligh.id
www.majelistabligh.id -

Thomas Alva Edison adalah pencipta dan mengembangkan banyak peralatan penting yang hingga saat ini dipakai oleh manusia. Beberapa peralatan yang ia ciptakan seperti pembangkit tenaga listrik, alat komunikasi, rekaman suara, dan gambar bergerak. Penemuan seperti kamera, bola lampu listrik, mempunyai dampak luas pada dunia industri modern.

Di balik kejeniusan Edison, pria kelahiran 18 Oktober 1931 itu sejak kecil sudah menderita disabilitas mental. Ia kesulitan mengikuti pelajaran sekolah sejak duduk di bangku sekolah dasar, sampai gurunya pun tak sanggup lagi.

Edison kecil, murid kelas 3 sebuah sekolah dasar, suatu hari pulang lebih awal dari sekolahnya. Ia diminta oleh Kepala Sekolah untuk menyampaikan surat kepada ibunya. Sesampai di rumah, ia menyerahkan surat itu pada Nancy Elliott, ibunda Edison, dan segera membacanya. Lalu air mata seorang ibu mengucur tak terbendung.

Edison bertanya, apa isi surat itu dan kenapa ibunya menangis. Ibunya tak menjawab, hanya membacakan surat itu dengan suara keras: “Anak Ibu adalah seorang jenius. Sekolah ini terlalu kecil baginya dan tidak memiliki cukup guru yang baik untuk mendidiknya. Silakan Ibu ajari dia sendiri.”

Itu adalah pesan yang sangat jelas bahwa Edison diberhentikan dari sekolahnya. Maka ibunya mengajar sendiri anaknya dengan tekun, sabar dan dedikatif. Kerja keras, kesabaran dan ketekunan Nancy Elliott dalam mendidik anaknya membuahkan hasil yang melampaui harapan. Edison dengan cepat menunjukkan bakat besar dalam urusan mekanik, selain rajin melakukan bermacam-macam eksperimen kimia.

Singkatnya, Nancy Elliott meninggal dunia pada usia tua. Dan ketika Edison memeriksa barang-barang peninggalan sang ibu, ia menemukan surat Kepala Sekolah di masa ia duduk di SD dulu. Ia segera membuka dan membacanya:

“Anak Ibu mengidap gangguan mental. Kami tidak akan mengizinkannya datang ke sekolah lagi.”

Saat itulah Edison menyadari apa yang telah dilakukan ibunya untuknya puluhan tahun lalu, tidak ingin menjatuhkan dirinya. Ibunya tidak menyebutnya dia sebagai anak yang mengalami gangguan mental, tetapi justru menyebut sebagai anak yang jenius, yang istimewa. Ibunya memang berbohong tentang isi surat itu, tetapi demi kebaikan Edison.

Ia memilih menyusun skenario yang justru membesarkan hati, membalik cerita dan menutupi kelemahan yang tampaknya ia ketahui memang diidap oleh anaknya. Nancy Elliott menciptakan konteks di mana anaknya dapat tumbuh mencapai potensi penuhnya.

Hari Disabilitas Internasional

International Day of Persons with Disabilities atau Hari Disabilitas Internasional diperingati setiap 3 Desember. Peringatan ini sebagai momen penting untuk mendorong penghormatan, pemajuan, serta peningkatan kesejahteraan penyandang disabilitas di berbagai bidang kehidupan.

Penyandang disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu yang lama dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Penyandang disabilitas jangan sampai dipandang sebagai kekurangan, justru harus dipandang sebagai orang yang istimewa. Sebab tidak ada manusia yang sempurna. Di balik kelebihan ada kekurangan, dan di balik kekurangan ada kelebihan.

Selalu dukung penyandang disabilitas untuk terus maju, seperti Ibunda Thomas Alva Edison, selalu mendukung dan membimbing anaknya tanpa menjatuhkan sedikitpun. Pada akhirnya Edison menjadi orang yang istimewa, penemu hebat dunia, meski ia sejak kecil memiliki gangguan mental. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search