Hari Kebangkitan Nasional, Haedar Nashir: Bangkitkan Kesadaran Kolektif untuk Persatuan dan Kemajuan

www.majelistabligh.id -

Hari Kebangkitan Nasional bukanlah milik satu kelompok atau golongan tertentu dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia merupakan hasil dari sinergi perjuangan seluruh elemen masyarakat Indonesia yang terdorong oleh semangat yang sama, yaitu mengakhiri penderitaan akibat penjajahan yang telah berlangsung berabad-abad.

Kebangkitan itu merupakan refleksi dari kesadaran kolektif bangsa yang ingin hidup merdeka dan berdaulat di atas tanah airnya sendiri.

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional yang jatuh setiap tanggal 20 Mei, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menyampaikan pesan penting kepada seluruh rakyat Indonesia.

Dia mengajak seluruh elemen bangsa, terutama para pemimpin dan generasi muda, untuk menghidupkan kembali semangat kebangkitan sebagai kekuatan moral dan kolektif demi menjaga persatuan nasional, merawat keberagaman, serta mendorong kemajuan bangsa secara berkelanjutan.

Menurut Haedar, peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya sekadar rutinitas seremonial tahunan, melainkan sarat dengan pelajaran historis yang relevan untuk kehidupan berbangsa saat ini.

Salah satu pelajaran terpenting adalah bagaimana tokoh-tokoh pergerakan nasional dari berbagai latar belakang ideologi, suku, agama, dan budaya mampu bersatu dalam tujuan mulia: menghapus penjajahan dan membangun Indonesia yang merdeka melalui perjuangan yang terorganisir, modern, dan tersistematis.

“Para pendiri bangsa itu, meskipun berbeda pandangan politik maupun ideologi, mampu mengesampingkan ego masing-masing dan bersatu dalam spirit pergerakan nasional,” ungkap Haedar.

Mereka, lanjutnya, menunjukkan sikap kenegarawanan yang tinggi dengan menjadikan kepentingan bangsa dan cita-cita kemerdekaan sebagai prioritas utama, di atas kepentingan pribadi atau golongan.

Kesadaran kolektif ini tumbuh subur karena rakyat dan pemimpin bangsa pada masa itu mengalami penderitaan yang sama akibat penjajahan.

Kondisi tersebut mendorong lahirnya komitmen bersama yang kemudian dituangkan dalam konstitusi, yaitu UUD 1945, yang dalam pembukaannya secara tegas menyatakan bahwa penjajahan di muka bumi harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Haedar Nashir juga mengajak kita semua untuk bercermin pada semangat dan keteladanan para tokoh bangsa di masa lalu, yang rela menanggalkan kepentingan individu dan kelompok demi satu kepentingan besar: kemerdekaan Indonesia. Dalam perjuangan mereka, terdapat semangat pengorbanan, etika luhur, dan karakter pejuang yang layak menjadi inspirasi bagi para pemimpin bangsa saat ini.

“Kita perlu menumbuhkan kembali semangat kenegarawanan itu, agar para elit bangsa benar-benar menjadi pelayan rakyat, bukan justru menumpuk kekuasaan dan kekayaan pribadi. Bila para pemimpin memiliki semangat itu, berbagai persoalan bangsa seperti korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dominasi oligarki, dan ketimpangan sosial dapat diatasi,” tegasnya.

Haedar menyoroti bahwa krisis yang dihadapi bangsa Indonesia hingga saat ini banyak berakar pada hasrat kekuasaan yang tak terkendali dan kepentingan sempit yang mengabaikan nasib rakyat.

Maka dari itu, ia menegaskan bahwa Indonesia yang sedang kita bangun bukanlah untuk segelintir golongan—entah itu kelompok kaya, elit politik, atau kelompok etnis tertentu—melainkan Indonesia harus menjadi rumah bersama, tempat di mana keadilan, kesejahteraan, dan kesetaraan menjadi milik semua anak bangsa.

Dalam konteks ini, ia mengutip pidato Presiden Soekarno pada 1 Juni 1945 yang menekankan bahwa Indonesia merdeka haruslah menjadi milik bersama. Semangat inklusif ini menjadi kunci untuk menjaga keutuhan bangsa di tengah pluralitas yang dimiliki oleh Indonesia.

Haedar juga menekankan pentingnya menjadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai ajang refleksi dan pembentukan karakter bangsa.

Para elit politik, pejabat negara, dan seluruh tokoh masyarakat harus menyadari bahwa mereka memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan teladan sebagai negarawan sejati. Seorang negarawan bukan hanya berpikir tentang kenyamanan pribadi, tetapi justru tetap memiliki semangat pengabdian bahkan dalam situasi sulit sekalipun.

“Karakter pejuang itu tidak lekang oleh waktu. Ia tetap harus hidup dalam jiwa para pemimpin bangsa, apalagi di tengah berbagai tantangan global dan domestik yang kompleks,” tegasnya.

Sebagai penutup, Haedar mengajak seluruh komponen bangsa untuk memaknai Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya sebagai peringatan sejarah, tetapi juga sebagai momentum membangkitkan kembali kesadaran kolektif.

Kesadaran untuk hidup bersama secara damai, saling menghargai perbedaan, dan bekerja sama memajukan bangsa. Ia menekankan bahwa bangsa ini hanya akan maju jika seluruh anak bangsa menjadikan dirinya bagian integral dari Indonesia, yang siap berjuang, berkorban, dan melayani demi masa depan yang lebih baik. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search