Jika hari pertama adalah tentang euforia dan semangat, maka hari kedua adalah tentang kesungguhan.
Ramadan tidak lagi terasa seperti tamu yang baru datang. Ia mulai menetap. Dan di situlah ujian kecil mulai terasa. Rasa haus mulai lebih nyata. Lapar mulai mengetuk lebih keras. Kantuk selepas subuh terasa lebih berat. Tubuh mulai beradaptasi, dan hati mulai ditanya: “Apakah engkau sungguh-sungguh?”
Hari kedua adalah hari yang sunyi. Tidak seramai pengumuman awal Ramadan. Tidak semeriah malam pertama tarawih. Namun justru di sinilah kualitas diuji.
Allah berfirman:
“…Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu…” (QS. Ali Imran: 133)
Bersegera bukan hanya di hari pertama. Tetapi juga di hari kedua. Ketiga. Hingga akhir. Ramadan bukan perlombaan 100 meter. Ia adalah maraton ruhani. Ia meminta konsistensi, bukan sekadar ledakan semangat.
Ujian yang Tak Terlihat
Hari kedua seringkali menghadirkan ujian yang lebih halus. Bukan lapar yang berat, tetapi lisan yang hampir terpeleset. Bukan haus yang menyiksa, tetapi emosi yang nyaris meledak. Ada pesan singkat yang membuat kesal. Ada pekerjaan yang terasa lebih melelahkan. Ada anak yang lebih rewel dari biasanya. Di situlah puasa menemukan maknanya.
Rasulullah saw bersabda:
“Puasa itu perisai. Jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan jangan pula berbuat bodoh…” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari kedua mengajarkan kita bahwa puasa bukan hanya menahan perut, tetapi juga menahan reaksi. Di hari kedua, tilawah terasa lebih tenang. Suara imam tarawih mulai akrab di telinga. Doa-doa mulai lebih khusyuk.
Hati yang kemarin bergetar karena suasana, kini mulai bergetar karena kesadaran. Kita mulai merenung. Sudahkah puasa ini mengubah caraku berbicara? Sudahkah ia melembutkan hatiku? Sudahkah aku lebih sabar hari ini dibanding kemarin?
Ramadan bukan tentang kesempurnaan instan. Ia tentang perubahan perlahan namun pasti.
Menjaga Api yang Telah Dinyalakan
Hari kedua adalah penjaga bara. Jika kita lengah, api semangat bisa meredup. Tapi jika kita rawat, ia akan menjadi cahaya hingga akhir bulan.
Jangan biarkan Ramadan hanya kuat di awal. Jangan biarkan target Qur’an hanya ramai di grup, tetapi sepi di tangan. Jangan biarkan tarawih hanya ramai di saf depan hari pertama, lalu longgar di hari-hari berikutnya. Hari kedua adalah komitmen yang diperbarui.
Mungkin puasa kita masih biasa. Mungkin tilawah kita belum banyak. Mungkin doa kita masih terbata. Tidak apa-apa. Yang penting, hati tidak mundur. Karena Ramadan yang mengesankan bukan yang paling ramai, tetapi yang paling dalam. Bukan yang paling terlihat, tetapi yang paling terasa.
Hari kedua adalah pesan lembut dari langit: “Aku masih di sini. Jangan kendur. Teruskan.”
Semoga Ramadan hari kedua ini bukan hanya kelanjutan, tetapi peningkatan. Semoga bukan hanya bertahan, tetapi bertumbuh. (*)
