Tiap 2 Mei, kita ramai-ramai mengucapkan “Selamat Hari Pendidikan Nasional.” Sekolah dihias, pidato dibacakan, beberapa orang posting kutipan Ki Hadjar Dewantara.
Tapi setelah itu? Esoknya semua kembali seperti biasa. Padahal kalau mau jujur, pertanyaannya bukan “sudahkah kita memperingati,” tapi “sudahkah kita memahami?”
Pendidikan di negeri ini masih seperti rumah besar yang banyak pintunya rusak. Ada anak yang semangat belajar tapi tak punya buku.
Ada guru yang mengajar dengan hati, tapi gajinya tidak cukup beli beras sebulan. Ada juga sekolah megah yang kosong karena muridnya harus membantu orang tua di sawah.
Masalah bukan hanya soal kurikulum atau gedung, tapi soal ketimpangan kesempatan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Secara psikologis, anak yang tumbuh dalam keterbatasan sering mengalami inferioritas sosial, perasaan bahwa dirinya lebih rendah dibanding anak-anak lain yang punya akses lebih baik.
Ini bisa melahirkan motivasi ekstrinsik yang semu—belajar hanya demi nilai atau pujian, bukan karena ingin tahu.
Sementara di sisi lain, anak-anak yang terlalu ditekan untuk “berprestasi” sering mengalami burnout akademik, kelelahan emosional karena standar yang tidak sesuai dengan fase tumbuh-kembang mereka.
Ki Hadjar pernah bilang, “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak.”
Tapi hari ini, banyak anak justru kehilangan arah karena sistem yang menuntut nilai, bukan makna.
Padahal sejatinya, pendidikan bukan mencetak ranking, tapi membentuk manusia yang sadar akan dirinya dan lingkungannya.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Itu berarti ilmu bukan hanya alat untuk bekerja, tapi juga jalan untuk membentuk harga diri, percaya diri, dan arah hidup yang kuat.
Sayangnya, tidak semua anak punya kesempatan yang sama untuk menempuh jalan itu.
Pendidikan yang timpang bisa mengikis harapan, dan secara psikologis menanamkan luka-luka kecil yang terbawa sampai dewasa.
Hari Pendidikan Nasional seharusnya jadi momen kita menunduk, lalu merenung. Apakah pendidikan kita sudah adil?
Sudah menyentuh semua anak, atau hanya mereka yang dekat kota dan wifi? Karena sejatinya, merayakan pendidikan bukan hanya urusan seremoni.
Tapi soal memastikan bahwa setiap anak—dimanapun dia lahir—punya hak yang sama untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi. (*)
