*)oleh: Dimas Yusuf Afrizal, M.Pd.
Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UM Purwokerto
Hari Pendidikan Nasional diperingati sebagai momentum reflektif untuk mengevaluasi perjalanan dan arah pendidikan Indonesia. Di tengah berbagai capaian, masih terdapat sejumlah tantangan besar yang harus dihadapi, seperti penguatan karakter peserta didik, kesenjangan akses pendidikan, dan literasi moral yang belum merata. Dalam konteks ini, gagasan KH Ahmad Dahlan tentang pendidikan sebagai jalan pencerahan kembali menjadi sangat relevan.
Bagi Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi merupakan proses membentuk manusia seutuhnya—cerdas secara intelektual dan tercerahkan secara spiritual. Maka dari itu, peringatan Hari Pendidikan Nasional adalah saat yang tepat untuk menengok kembali nilai-nilai pendidikan yang mencerahkan sebagaimana diwariskan oleh para tokoh bangsa, termasuk KH Ahmad Dahlan.
Sebagai pendiri Muhammadiyah sekaligus seorang pendidik sejati, KH Ahmad Dahlan memandang pendidikan sebagai kunci perubahan sosial dan kebangkitan umat. Pendidikan yang ideal, menurut beliau, adalah pendidikan yang membebaskan manusia dari kebodohan, keterbelakangan, dan ketidakadilan—baik secara intelektual maupun spiritual. Beliau tidak sekadar mendirikan sekolah, tetapi membangun sistem pendidikan yang menyatukan ilmu agama dan ilmu umum, iman dan akal, serta nilai dan pengetahuan. Dari gagasan inilah lahir konsep pendidikan berkemajuan dalam Muhammadiyah.
Pendidikan berkemajuan sangat sejalan dengan cita-cita pendidikan nasional sebagaimana dirumuskan oleh Ki Hajar Dewantara, yakni memerdekakan manusia, menuntun kodrat alam dan zaman, serta membentuk insan yang utuh. Oleh karena itu, refleksi terhadap gagasan KH Ahmad Dahlan menjadi penting agar Hari Pendidikan Nasional tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi sarana evaluasi mendalam terhadap arah dan tujuan pendidikan nasional saat ini.
Di era digital dan global yang sarat tantangan, arus informasi datang begitu cepat. Namun kemampuan generasi muda untuk memilah, memahami, dan mengkritisi informasi tersebut belum sepenuhnya menjadi bagian kuat dari sistem pendidikan kita. Akibatnya, muncul berbagai fenomena negatif di ruang digital seperti hoaks, ujaran kebencian, perundungan siber, hingga perilaku pamer kekayaan (flexing) yang menyesatkan nilai kehidupan.
Kondisi ini menuntut pendekatan pendidikan yang tidak hanya menekankan capaian akademik, tetapi juga memperkuat karakter dan nilai moral. Dalam konteks inilah nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah menjadi sangat relevan. Muhammadiyah tidak hanya menekankan penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga penanaman nilai-nilai tauhid, kejujuran, kemandirian, dan kepedulian sosial. Melalui pendidikan berkemajuan, sekolah-sekolah Muhammadiyah diharapkan menjadi ruang pembentukan insan yang berpikir logis, bersikap etis, dan mampu memberi solusi atas tantangan zaman.
Guru menjadi ujung tombak dalam mewujudkan visi pendidikan ini. Mereka bukan hanya pengajar, tetapi agen perubahan, pencerah umat, dan pelanjut misi dakwah KH Ahmad Dahlan. Dengan integritas dan dedikasi, guru harus membimbing siswa agar tidak hanya unggul dalam pengetahuan, tetapi juga berakhlak mulia.
Pendidikan sejati bukan hanya tentang pengajaran di ruang kelas, tetapi juga tentang penanaman nilai dalam kehidupan sehari-hari. Melalui pendekatan yang humanis, inklusif, dan berakar pada nilai-nilai Islam berkemajuan, pendidikan dapat menghidupkan kembali ruhnya: membebaskan, mencerahkan, dan memanusiakan.
Pada Hari Pendidikan Nasional ini, marilah kita bersama-sama merefleksikan kembali nilai-nilai dasar pendidikan yang diwariskan para pendiri bangsa, terutama KH Ahmad Dahlan. Sebab pendidikan yang sejati bukan hanya mencetak manusia pintar, tetapi membentuk insan berkarakter, yang mampu membawa perubahan menuju masyarakat yang adil, beradab, dan tercerahkan. (*)
