Ramadan selalu datang dengan cara yang sama, hilal terlihat, takbir berkumandang, masjid kembali bercahaya. Namun setiap tahun, ia selalu terasa berbeda. Ada getar yang tidak pernah benar-benar bisa dijelaskan. Seolah-olah ada pintu langit yang kembali terbuka, dan hati kita dipanggil untuk pulang.
Ramadan bukan sekadar bulan dalam kalender hijriyah. Ia adalah ruang perjumpaan. Perjumpaan antara manusia dan Tuhannya. Perjumpaan antara dosa dan ampunan. Perjumpaan antara lelah dan harapan.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia tentang membangun ketakwaan. Tentang menghadirkan Allah dalam setiap detik kesadaran.
Fajar yang Berbeda
Hari pertama Ramadan selalu memiliki rasa yang unik. Sahur terasa lebih syahdu. Azan Subuh seperti lebih menyentuh. Bahkan langkah menuju masjid terasa lebih ringan. Ada semangat baru. Ada tekad yang ingin diperbarui.
Di pagi hari, suasana berbeda. Orang-orang yang biasanya tergesa kini berjalan lebih tenang. Anak-anak belajar tentang arti puasa. Orang tua menata niat. Para guru mengawali pembelajaran dengan nasihat dan doa.
Hari pertama adalah tentang niat. Tentang komitmen. Tentang harapan agar Ramadan kali ini tidak berlalu seperti tahun-tahun sebelumnya.
Ramadan dan Pembersihan Hati
Ramadan sejatinya adalah bulan pembersihan. Tidak hanya tubuh dari makan dan minum, tetapi hati dari iri, dengki, amarah, dan kelalaian.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barangsiapa berpuasa Ramadan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bayangkan, dosa-dosa yang menumpuk selama sebelas bulan, dibersihkan dalam satu bulan penuh rahmat.
Ramadan mengajarkan kita untuk menahan bukan hanya lapar, tetapi juga lisan. Bukan hanya haus, tetapi juga ego. Bukan hanya keinginan, tetapi juga amarah.
Ramadan dan Kepedulian
Di bulan ini, rasa empati tumbuh. Kita merasakan sedikit dari apa yang dirasakan mereka yang kekurangan. Kita belajar bahwa rezeki bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dibagi.
Masjid-masjid ramai dengan buka bersama. Kotak infak penuh dengan tangan-tangan yang ingin berbagi. Anak-anak belajar arti sedekah. Orang dewasa belajar arti syukur. Ramadan adalah sekolah jiwa. Setiap hari adalah pelajaran. Setiap tarawih adalah penguatan. Setiap tilawah adalah pengingat.
Seringkali kita memulai Ramadan dengan semangat membara. Target khatam Qur’an. Target sedekah. Target memperbaiki diri. Namun semangat itu perlahan menurun. Hari pertama adalah pondasi. Jika pondasinya kuat, insya Allah bangunannya kokoh hingga akhir.
Mari jadikan Ramadan di hari pertama ini sebagai momentum. Bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi transformasi ruhani. Jangan hanya tubuh yang berpuasa, tetapi hati juga ikut berpuasa dari segala yang melalaikan.
Ramadan tidak pernah meminta kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta kita untuk kembali. Kembali pada doa-doa yang lama kita tinggalkan. Kembali pada sujud yang sempat kita lupakan. Kembali pada Al-Qur’an yang mungkin lama tak kita sentuh.
Semoga Ramadan kali ini benar-benar hidup di hati kita. Bukan hanya satu bulan, tetapi sepanjang usia.
Selamat menjemput Ramadan. Semoga ia tinggal di hati, bukan sekadar lewat di kalender. (*)
