Banyak orang menyangka harta tak bisa dibawa mati. Padahal bisa, asal digunakan di jalan Allah.
Hal itu disampaikan Ustaz Dr. Abdul Wahab dalam Khotbah Jumat di Masjid Al Khoory, kompleks Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), pada Jumat (25/7/2025).
Ustaz Wahab—begitu panggilan karibnya—menegaskan bahwa kehidupan manusia tidak berhenti di dunia, melainkan berlanjut ke alam kubur, alam akhirat, hingga ke surga atau neraka.
“Oleh karena itu, bekal terbaik perlu disiapkan sejak hidup di dunia,” tegasnya.
Salah satu bekal yang paling efektif, menurutnya, adalah wakaf. Wakaf dinilai sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir meskipun sang pemberi telah wafat.
Ia pun mengutip QS Ali Imran: 92 serta hadis riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan tiga amalan yang tidak terputus setelah kematian: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan.
“Harta bukan untuk dibanggakan, tapi untuk dimanfaatkan. Wakaf adalah salah satu bentuk investasi kekal menuju akhirat,” ujar Ustaz Wahab.
“Harta itu bisa dibawa mati jika dijadikan sebagai amal jariyah. Wakaf adalah salah satu bentuk bekal terbaik menuju akhirat,” imbuhnya.
Ia merujuk pada QS Ali Imran: 92 yang menyatakan bahwa seseorang tidak akan memperoleh kebajikan yang sempurna sebelum menafkahkan harta yang dicintainya.
Hal ini ditegaskan pula oleh hadis riwayat Abu Hurairah bahwa ketika manusia wafat, seluruh amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ustaz Wahab mengajak jamaah memahami bahwa kehidupan manusia tidak berakhir di dunia.
“Setelah wafat, manusia berpindah ke alam barzakh yang menjadi gerbang menuju akhirat,” katanya.
Di alam kubur, terang dia, suasananya serupa dengan dunia. Yang mukmin akan mendapat kenikmatan, sementara yang durhaka akan mendapat siksa.
“Kehidupan setelah kematian tidak berhenti di kubur. Setelah itu ada kiamat, kebangkitan, mizan (timbangan amal), hingga melintasi siratal mustaqim. Di sinilah titik akhir manusia, surga atau neraka,” jelas Ustaz Wahab.
Sebagai bentuk ikhtiar, umat Islam dianjurkan untuk menyiapkan bekal terbaik. Ustaz Wahab mencontohkan seorang pengusaha di Tulungagung yang mewakafkan tanah senilai Rp7 miliar kepada Persyarikatan Muhammadiyah untuk membangun masjid.
“Ini adalah contoh wakaf cerdas karena masjid itu akan terus membawa manfaat dan pahala bagi sang wakif,” papar Ustaz Wahab.
Dia juga menjelaskan bahwa wakaf terbagi menjadi dua. Pertama, wakaf benda tidak bergerak, seperti tanah dan bangunan. Kedua, wakaf benda bergerak, seperti uang, royalti, saham, laba usaha, dan lainnya.
“Wakaf produktif misalnya memperbaiki fasilitas masjid dari uang pribadi. Itu menjadi tabungan abadi kita di akhirat,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengangkat konsep ilmu yang bermanfaat, seperti memberikan beasiswa. Mahasiswa penerima beasiswa, ketika kelak mengajar dan menyalurkan ilmunya kepada orang lain, akan menjadi pahala berantai bagi pemberi bantuan.
Terakhir, Ustaz Wahab menegaskan bahwa anak yang saleh tidak hanya anak kandung, tetapi juga bisa berasal dari anak-anak yang telah kita bantu dan akhirnya menjadi pribadi yang mendoakan kebaikan bagi para dermawan.
“Jangan remehkan harta. Ketika digunakan di jalan Allah, ia menjadi bekal tak ternilai untuk kehidupan abadi di akhirat,” pungkasnya. (wh)
