Dalam sebuah hadis qudsi, Allah Ta’ala berfirman:
“Wahai sekalian hamba-Ku, kalian semua berada dalam kesesatan kecuali yang Aku beri petunjuk. Maka mintalah petunjuk kepada-Ku, niscaya akan Aku beri petunjuk.” (HR. Muslim, no. 6737)
Pelajaran yang Terkandung dalam Hadis Ini
Jika seseorang bertanya tentang anugerah Allah Azza wa Jalla yang paling indah, maka jawabannya adalah hidayah. Kita bisa salat karena hidayah dari Allah Azza wa Jalla.
Kita bisa berpuasa karena hidayah dari-Nya. Kita bisa menuntut ilmu karena hidayah dari-Nya, dan begitu pula dengan amal-amal lainnya.
Kita bisa hidup dalam naungan kedekatan dengan Allah berkat hidayah-Nya. Merasakan manisnya iman dan indahnya Islam pun karena hidayah dari-Nya.
Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk senantiasa memohon petunjuk kepada-Nya, karena hanya Allah Azza wa Jalla yang mampu membuka hati, menjadikannya tunduk, dan rela menerima kebenaran.
Hidayah adalah anugerah Allah Azza wa Jalla yang paling agung dan paling indah. Jika kita diperintahkan untuk mensyukuri berbagai nikmat Allah, maka nikmat hidayah adalah nikmat yang paling layak kita syukuri—dengan ucapan, perbuatan, dan pengakuan bahwa semua itu berasal dari-Nya.
Rasulullah saw adalah manusia paling mulia, pemimpin para nabi dan rasul. Namun perhatikan bagaimana Allah Ta’ala berfirman kepada beliau:
“Dan sesungguhnya mereka benar-benar hampir membuatmu tergelincir dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-adakan sesuatu yang lain terhadap Kami. Jika itu terjadi, niscaya mereka menjadikanmu sebagai teman yang setia. Dan sekiranya Kami tidak meneguhkan hatimu (di atas hidayah), niscaya engkau hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 73–74)
Imam As-Suyuthi rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya tentang sebab turunnya ayat ini. Beliau menukil riwayat dari Ibnu Abbas:
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata, “Umayyah bin Khalaf, Abu Jahl, dan beberapa orang Quraisy datang menemui Rasulullah saw. Mereka berkata, ‘Wahai Muhammad, marilah menyembah tuhan-tuhan kami, niscaya kami akan memeluk agamamu bersamamu.’”
Permintaan itu sangat berat bagi Rasulullah saw. Beliau amat menginginkan keislaman kaumnya. Dalam keadaan itu, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat-Nya:
“Sesungguhnya mereka hampir memalingkanmu dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu agar kamu mengada-adakan sesuatu yang lain terhadap Kami. Jika itu terjadi, niscaya mereka akan menjadikanmu sebagai sahabat yang setia. Sekiranya Kami tidak meneguhkan hatimu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 73–74)
As-Suyuthi rahimahullah melanjutkan:
“Saya berpendapat bahwa riwayat ini adalah riwayat paling sahih yang menjelaskan sebab turunnya ayat tersebut. Sanadnya jayyid dan memiliki syahid (penguat) dari sanad lain.” (Lubab an-Naqul fi Asbab an-Nuzul, hal. 183)
Allah Ta’ala mengingatkan Rasul-Nya bahwa hidayah dan taufik yang membuat hati beliau tetap teguh di atas kebenaran datang semata-mata dari Allah. Lalu bagaimana dengan kita, manusia biasa yang penuh dosa?
Sungguh, hidayah adalah anugerah yang sangat besar dari Allah Azza wa Jalla. Jangan pernah mengira bahwa hidayah datang karena usaha kita semata. Sadarilah bahwa semua itu adalah pemberian Allah Ta’ala.
Segala puji bagi Allah SWT atas nikmat hidayah. Coba bayangkan betapa besar karunia Allah SWT kepada hamba-Nya: Dialah yang menetapkan syariat dan bentuk-bentuk ibadah yang mendatangkan pahala. Dia pula yang memberi pahala atas ibadah yang kita lakukan, bahkan melipatgandakannya. Dia yang menyediakan surga sebagai tempat kembali bagi hamba-hamba-Nya yang saleh.
Tak cukup sampai di situ, Dia juga yang memberi taufik dan hidayah agar kita mampu melakukan kebaikan dan istiqamah di atas jalan kebenaran.
Padahal, Allah Ta’ala tidak membutuhkan kita dan tidak membutuhkan ibadah kita.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu takkan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Tema Hadis dalam Al-Qur’an
Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fatihah: 6)
Dan dalam ayat lain:
“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk menerima agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka celakalah mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Az-Zumar: 22)
“Dan sesungguhnya mereka hampir membuatmu tergelincir dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengada-adakan sesuatu yang lain terhadap Kami. Jika itu terjadi, niscaya mereka menjadikanmu sebagai teman yang setia. Dan sekiranya Kami tidak meneguhkan hatimu (di atas hidayah), niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka.” (QS. Al-Isra’: 73–74). (*)
