Hidup itu Bermanfaat atau Dimanfaatkan

Hidup itu Bermanfaat atau Dimanfaatkan
www.majelistabligh.id -

*Oleh: Imam Budi Utomo SH
Anggota Majelis Tabligh Muhammadiyah Jawa Timur

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Artinya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.” (HR Ath-Thabari).

Hadis ini menyimpan makna mendalam tentang tujuan hidup yang sesungguhnya. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang kerap kali mengedepankan kepentingan pribadi, pertanyaan “Apakah kita hidup untuk bermanfaat atau dimanfaatkan?” menjadi semakin relevan.

Banyak di antara kita yang terjebak dalam siklus rutinitas harian, sibuk mengejar materi dan kesuksesan pribadi. Namun, tanpa disadari, kehidupan yang hanya berfokus pada diri sendiri seringkali terasa hampa dan kurang bermakna. Sebaliknya, ketika kita berbagi kebaikan, membantu sesama, dan berkontribusi positif bagi lingkungan sekitar, kita akan merasakan kepuasan dan kebahagiaan yang sejati.

Dengan kita merasakan kebahagian berbagi, makin bisa memahami kebenaran sabda Rasulullah SAW tersebut.

Kisah-kisah inspiratif dari berbagai penjuru dunia menunjukkan betapa besarnya dampak positif yang dihasilkan oleh individu yang memilih untuk hidup bermanfaat. Dari relawan yang tanpa lelah membantu korban bencana, hingga para guru yang mendidik generasi penerus bangsa, semua menunjukkan bahwa kehidupan yang bermakna terletak pada pengabdian dan kontribusi bagi orang lain.

Di Surabaya, kota pahlawan yang dikenal dengan semangat juang dan gotong royongnya, banyak contoh nyata individu yang hidup bermanfaat. Mulai dari warga yang aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, hingga para pengusaha yang memberikan kesempatan kerja dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi lokal. Mereka merupakan teladan bagi kita semua untuk menjadikan hidup kita lebih bermakna.

Namun, kita juga perlu waspada terhadap potensi untuk dimanfaatkan. Sikap empati dan kebijaksanaan diperlukan agar kebaikan yang kita berikan tidak disalahgunakan. Kita harus mampu membedakan antara membantu dan dieksploitasi.

Pada akhirnya, pilihan ada di tangan kita. Apakah kita ingin hidup hanya untuk diri sendiri, atau ingin meninggalkan warisan positif bagi generasi mendatang? Marilah kita jadikan hidup kita sebuah berkah bagi orang lain, dan menjadikan diri kita sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Hidup yang bermanfaat bukan hanya memberikan kebahagiaan bagi orang lain, tetapi juga memberikan kebahagiaan yang tak ternilai bagi diri kita sendiri. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search