Bulan Suci Ramadan tinggal menghitung hari lagi. Umat Islam telah bersiap diri memasuki mode juang. Karena hakikat utama dari bulan Ramadan adalah sebagai wadah pembinaan diri seorang Muslim, baik dari segi spiritual, moral, relasi sosial, bahkan pengendalian pola makan.
Perjalanan spiritual selama 30 hari itu bagaikan medan pertempuran. Adapun ibadah salat fardhu, sholat sunnah tarawih, puasa, sedekah, zakat, dan ibadah lainnya. layaknya senjata tempur yang menemani momen berproses menjemput kemenangan, menjadi versi terbaik diri sendiri sebagai seorang Hamba.
Esensi berpuasa sejatinya mengajarkan manusia akan kehidupan yang tidak hanya tentang kepuasan materi pribadi, tetapi juga spiritual diri. Kala Ramadan, seorang hamba diberi ruang yang luas untuk merefleksikan hubungannya dengan Allah, sesama manusia, dan alam sekitar.
Hal ini perlahan menumbuhkan kesadaran akan kehadiran Allah Swt sebagai Zat Pengendali Kehidupan yang sesungguhnya, yang pada akhirnya membentuk pribadi yang bertakwa sebagaimana difirmankan dalam QS Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang orang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa”
Takwa berarti melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan segala larangan-Nya. Hamba yang bertakwa, hidup dalam garis kesadaran penuh atas kehadiran Allah Swtdi setiap aspek kehidupannya. Kesadaran inilah yang menjaganya dari berbagai godaan yang membatalkan puasa, karena saat itulah dirinya tengah berlindung dalam perisai yang telah Allah berikan.
الصِّيَامُ جُنَّةٌ كَجُنَّةِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْقِتَالِ
Puasa adalah perisai yang melindungi seseorang sebagaimana perisai dalam peperangan [HR. an-Nasā’ī, Ibn Mājah, dan Aḥmad].
Alhasil, puasa menjadi proses penyadaran diri dan melihat kehidupan secara mendalam dari kacamata batiniah dan lahiriah, sehingga hidup dapat terasa lebih lengkap, penuh berkah, dan rahmat dari-Nya.
Wahana Edukasi Moral
Sebagai wahana edukasi moral, puasa menjadi sarana pendidikan diri dan pembentukan karakter akhlakul karimah bagi seorang hamba. Salah satunya, mampu membantu membersihkan hati dari sifat dengki sebagaimana sabda Nabi dalam Hadis Riwayat Ahmad
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَذْهَبَ كَثِيرٌ مِنْ حَرِّ صَدْرِهِ فَلْيَصُمْ شَهْرَ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ
“Barang siapa yang merasa senang apabila banyak sifat dengki dalam hatinya hilang, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan kesabaran (Ramadan) dan tiga hari pada setiap bulan lainnya”
Selain itu, puasa turut menjadi wahana edukasi moral atas kejujuran. Menurut sebuah Hadis, jikalau seorang hamba berkata bohong saat puasa, maka sejatinya puasa yang ia lakukan tidaklah ada artinya.
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
“Barang siapa yang tidak menghindari berkata dan berbuat bohong, maka Allah tidak memandang perlu orang itu meninggalkan makanan dan minumannya (tidak ada artinya puasa)” (HR al-Bukhārī, Abū Dāwūd, at-Tirmiżī, dan Aḥmad)
Wahana Relasi Sosial
Puasa membuka kesadaran akan fakta bahwasanya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Sesama manusia saling membutuhkan dukungan dan bantuan orang lain. Maka ketika puasa Ramadan, umat muslim dianjurkan untuk banyak berbuat baik dengan sesama. Memperbanyak sedekah dan membantu saudara terkhususnya kepada kaum fakir miskin. Aktivitas ini sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama yang terimplementasikan melalui aksi saling memberi, saling membantu, dan menciptakan kebersamaan.
Dalam ajaran Islam, makan adalah keharusan alamiah yang tidak dapat dihindari. Namun dalam kondisi tertentu, wajib bagi seseorang untuk makan, bahkan yang diharamkan bisa dijadikan halal jika memang tujuannya untuk mempertahankan kelangsungan hidup.
Adapun puasa sejatinya sebagai bentuk keharusan untuk mengendalikan pola makan. Sesuai dengan firman Allah
…وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا…..
“… dan makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS Al-’Araf : 31)
Lebih lanjut, puasa menjadi wahana individu untuk belajar sederhana dalam mengkonsumsi makanan. Hal ini demi menjaga kesehatan. Karena sesungguhnya, dalam Islam, kesehatan merupakan suatu keutamaan. Maka dengan mengendalikan jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi, turut menjadi salah satu upaya seorang Hamba dalam menjaga ketakwaannya kepada Allah Swt.|| Majelis Tarjih dan dan Tajdid Muhammdiyah.
