Hikmah Tersembunyinya Azab Kubur: Rahmat Allah yang Menjaga Aib dan Keimanan

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
www.majelistabligh.id -

Di antara akidah yang disepakati oleh ahlus sunnah adalah menetapkan adanya adzab dan nikmat kubur.

Adanya azab kubur bagi orang-orang yang berhak mendapatkannya adalah di antara pokok keimanan yang harus kita yakini.

Termasuk di antara rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala kepada hamba-Nya adalah Allah Ta’ala tidak menampakkan azab kubur tersebut sehingga dapat didengar atau dilihat manusia yang masih hidup di dunia ini.

Para ulama rahimahumullah telah membahas hikmah tidak dinampakkannya azab kubur ini di dalam kitab-kitab mereka, khususnya yang membahas tentang akidah.

Di antara hikmah hal ini adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama berikut ini:

Pertama, hal ini untuk menutupi aib si mayit dan juga keluarga si mayit. Jika semasa hidupnya si mayit tersebut memiliki kedudukan atau secara lahiriyah (yang tampak) adalah orang saleh, namun ternyata manusia mengetahui bahwa dia diazab dalam kuburnya, tentu ini akan membuka aib si mayit tersebut di dunia.

Demikian juga keluarga si mayit akan dipermalukan dan dihinakan di hadapan masyarakat karena ternyata salah satu anggota keluarganya diazab di dalam kuburnya.

Kedua, jika azab kubur tersebut dinampakkan, maka tidak ada yang berani untuk memakamkan saudaranya yang meninggal dunia.

Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

لَوْلَا أَنْ لَا تَدَافَنُوا لَدَعَوْتُ اللهَ أَنْ يُسْمِعَكُمْ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Seandainya kalau bukan karena kalian saling memakamkan, maka aku ingin berdoa kepada Allah untuk memperdengarkan kepada kalian adzab kubur yang aku dengar.”

Abu Abdillah Al-Qurthubi rahimahullah mengatakan,”Para ulama kita menjelaskan bahwa sesungguhnya jin dan manusia tidak mendengar azab kubur adalah (karena) sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam: “Seandainya kalau bukan karena kalian saling memakamkan’ (al-hadits).

Allah Ta’ala menyembunyikan (adzab kubur) dari kita -sehingga kita bisa saling memakamkan- adalah karena hikmah dan kelembutan-Nya.

Hal ini disebabkan rasa takut yang meliputi manusia jika mendengarnya, sehingga mereka tidak akan berani untuk mendekat ke pemakaman untuk menguburkan (orang yang meninggal dunia).

Manusia bisa jadi binasa jika mendengarnya, karena mereka tidak memiliki kekuatan untuk mendengar adzab Allah di alam dunia ini, karena lemahnya kekuatan mereka.”

Ketiga, sebagai ujian keimanan bagi manusia untuk beriman terhadap hal yang ghaib. Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata,

فاذا شَاءَ الله سُبْحَانَهُ أَن يطلع على ذَلِك بعض عبيده اطلعه وغيبه عَن غَيره إِذْ لَو طلع الْعباد كلهم لزالت كلمة التَّكْلِيف وَالْإِيمَان بِالْغَيْبِ وَلما تدافن النَّاس كَمَا فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنهُ لَوْلَا أَن لَا تدافنوا لَدَعَوْت الله أَن يسمعكم من عَذَاب الْقَبْر مَا أسمع. وَلما كَانَت هَذِه الْحِكْمَة منفية فِي حق الْبَهَائِم سَمِعت ذَلِك وادركته كَمَا حادت برَسُول الله بغلته وكادت تلقيه لما مر بِمن يعذب فِي قَبره

“Jika Allah menghendaki untuk menampakkan adzab kubur kepada sebagian manusia tentu Allah nampakkan dan Allah sembunyikan dari hamba-hambaNya yang lain. Akan tetapi, jika Allah tampakkan kepada seluruh manusia, maka hilanglah beban syariat (taklif) dan (hilang pula kewajiban untuk) beriman kepada perkara yang ghaib.

Demikian pula, manusia tidak akan berani memakamkan sebagaimana yang terdapat dalam Shahihain dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (bersabda), ‘Seandainya kalau bukan karena kalian saling memakamkan, maka aku ingin berdoa kepada Allah untuk memperdengarkan kepada kalian adzab kubur yang aku dengar.’

Oleh karena itu, ketika hikmah seperti ini tidak terdapat dalam diri binatang ternak, maka binatang ternak pun mendengar adzab kubur dan mengetahuinya. Sebagaimana bagal (peranakan kuda dengan keledai, pen.) milik Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berjalan miring dan hampir-hampir melemparkan barang-barang bawaannya ketika melewati orang yang sedang diadzab di kuburnya.” (*)

Tinggalkan Balasan

Search