*) Oleh: Ferry Is Mirza DM
Sebagai umat Rasulullah saw, kita diajarkan untuk senantiasa menjauhi sifat sombong dan merasa diri paling hebat.
Sifat ini bukan hanya dilarang, tetapi juga diwariskan oleh iblis, seperti digambarkan dalam Al-Qur’an ketika iblis menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam.
Penolakannya disertai kesombongan, dan hal ini mengantarkannya pada kehinaan abadi serta tempat di neraka Jahanam.
Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam!’ Maka mereka pun sujud kecuali iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.” (QS Al-Baqarah: 34)
Sifat sombong menjadi awal kehancuran iblis, dan sifat yang sama bisa menjadi penyebab kehancuran manusia. Oleh karena itu, sebagai hamba Allah, kita harus menyadari bahwa kesombongan adalah penghalang menuju rahmat dan surga-Nya.
Dalam kehidupan yang penuh nikmat ini, Allah telah memberikan berbagai anugerah yang tidak mampu kita hitung. Dalam Al-Qur’an disebutkan:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya.” (QS An-Nahl: 18)
Rasa syukur menjadi kunci untuk menjaga hati dari kesombongan. Dengan bersyukur, kita menyadari bahwa semua nikmat adalah pemberian Allah, bukan hasil usaha semata.
Maka, mari tingkatkan keimanan dan ketaqwaan kita dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Kesombongan sering kali berakar dari keinginan untuk terlihat lebih hebat dari orang lain. Allah memperingatkan kita dalam firman-Nya:
“Dan janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya engkau tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan mampu menjulang setinggi gunung.” (QS Al-Isra: 37)
Ayat ini mengajarkan bahwa kesombongan tidaklah wajar bagi manusia. Berapa pun harta, kekuasaan, atau kemampuan yang kita miliki, semua itu terbatas dan berasal dari Allah. Kita diingatkan untuk tetap rendah hati dan menyadari kelemahan diri.
Kesombongan juga dilarang karena dapat merusak hubungan antar sesama manusia. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu memalingkan wajahmu dari manusia karena sombong dan janganlah berjalan di bumi ini dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Luqman: 18)
Sifat sombong membuat seseorang sulit menerima nasihat, enggan mengakui kesalahan, dan cenderung memandang rendah orang lain. Hal ini menghalangi seseorang dari keridhaan Allah dan kebaikan dalam hidupnya.
Dari sisi ilmu psikologi, kesombongan sering kali merupakan bentuk kompensasi terhadap rasa rendah diri.
Orang yang sombong biasanya berusaha menutupi kelemahannya dengan sikap arogan atau menunjukkan kelebihan secara berlebihan. Sikap ini tidak hanya merugikan dirinya, tetapi juga menciptakan jarak dengan orang lain.
Sebaliknya, sikap rendah hati justru menarik simpati dan menciptakan hubungan yang harmonis dengan orang lain.
Dengan rendah hati, seseorang mampu melihat kelebihan orang lain, menghormati mereka, dan menempatkan diri dalam posisi yang seimbang.
Hadis Nabi tentang Kesombongan
Rasulullah saw juga memperingatkan kita tentang bahaya kesombongan. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat rasa sombong meskipun sebesar biji sawi.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa kesombongan adalah penghalang masuk surga. Orang yang sombong sering kali sulit menerima kebenaran dan lebih memilih membanggakan dirinya sendiri, meskipun itu hanya berdasar ilusi.
Kisah iblis menjadi pelajaran penting bagi kita semua. Kesombongan yang ditunjukkan iblis saat menolak bersujud kepada Nabi Adam menunjukkan betapa berbahayanya sifat ini.
Ia menganggap dirinya lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Nabi Adam diciptakan dari tanah.
Allah SWT mencatat kesombongan iblis dalam firman-Nya:
“(Iblis) berkata, ‘Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.'” (QS Al-A’raf: 12)
Kesombongan iblis tidak hanya mengantarkannya pada kehinaan, tetapi juga menjadikannya musuh abadi bagi manusia. Oleh karena itu, manusia harus menjauhi sifat ini agar tidak mengikuti jejak iblis.
Rendah hati bukan berarti merendahkan diri, melainkan sikap yang wajar sesuai kemampuan dan realitas. Rasulullah saw adalah teladan terbaik dalam sikap rendah hati.
Meskipun beliau adalah pemimpin umat, beliau tetap sederhana dalam kehidupan sehari-hari dan menghormati semua orang tanpa memandang status atau jabatan.
Dalam kehidupan sosial, rendah hati menciptakan suasana saling menghormati dan menjaga keharmonisan.
Dengan rendah hati, seseorang mampu menerima kritik, belajar dari kesalahan, dan terus memperbaiki diri.
Kesombongan adalah penyakit hati yang harus dihindari. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjauhi sifat ini dan senantiasa menjaga hati agar tetap rendah hati dan bersyukur.
Dengan demikian, kita dapat terhindar dari siksa neraka dan mendapatkan rahmat-Nya.
“Ya Allah, jauhkanlah kami dari sifat sombong dan takabur. Jadikanlah kami hamba-Mu yang rendah hati, bersyukur atas nikmat-Mu, dan selalu mendekat kepada-Mu. Aamiin.”
Semoga artikel ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus meningkatkan ibadah, keimanan, dan ketaqkwaan. Aamiin. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
