Hisab, Rukyat, dan Cahaya Ilmu Falak

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistablig.id
www.majelistabligh.id -

Langit Indonesia pada Jumat Legi, 20 Maret 2026, menyimpan kisah yang tak pernah usang: kisah tentang perbedaan yang justru menghidupkan makna. Sebagian umat Muslim menjemput pagi dengan takbir kemenangan, melaksanakan Salat Idulfitri di lapangan-lapangan luas, di halaman masjid, dan di sudut-sudut desa yang penuh haru.

Namun, sebagian lainnya masih menundukkan diri dalam puasa, menyempurnakan Ramadan dengan keyakinan yang sama kuatnya, menggenapkan 30 hari puasa karena hilal tak terlihat.

Perbedaan ini bukan sekadar perbedaan hari, melainkan perbedaan cara memandang langit. Di satu sisi, ada metode hisab —perhitungan astronomis yang presisi. Di sisi lain, ada rukyatul hilal—pengamatan langsung terhadap bulan sabit pertama. Keduanya lahir dari tradisi keilmuan yang panjang, dan keduanya memiliki akar yang sama: ikhtiar manusia untuk memahami tanda-tanda semesta.

Sejak berabad-abad silam, para ilmuwan Muslim telah menapaki jalan ilmu falak dengan kesungguhan yang mengagumkan. Nama-nama seperti Abu Abdullah Muhammad ibn Jabir ibn Sinan al-Raqqa al-Harrani al-Sabiʾ al-Battani, yang memperbaiki nilai tahun matahari dan memperkenalkan metode pengamatan yang lebih akurat. Juga Abu Rayhan Muhammad ibn Ahmad al-Biruni, yang mengukur keliling bumi dengan ketelitian luar biasa, menjadi bukti bahwa hisab bukanlah hal baru dalam tradisi Islam. Bahkan Nasir al-Din al-Tusi melalui observatorium Maragha telah mengembangkan model matematika untuk memahami pergerakan benda langit.

Mereka hidup di zaman ketika teleskop belum ditemukan, ketika langit dibaca dengan mata telanjang dan alat sederhana. Namun, ketekunan mereka melahirkan perhitungan yang menjadi fondasi astronomi modern. Hari ini, warisan itu diteruskan oleh ilmuwan seperti Johannes Kepler dengan hukum gerak planetnya, hingga Neil deGrasse Tyson yang menghidupkan kembali minat publik terhadap kosmos.

Teknologi Astronomi Terus Berkembang

Perkembangan teknologi telah membawa ilmu falak ke tingkat yang nyaris tanpa cela. Dengan bantuan satelit, teleskop digital, dan perangkat lunak astronomi, posisi bulan dapat dihitung hingga tingkat presisi detik. Fenomena seperti gerhana matahari dan bulan tidak lagi sekadar diperkirakan, tetapi dapat dipastikan waktu kejadiannya secara akurat, bahkan hingga lokasi terbaik untuk mengamatinya. Lembaga seperti NASA secara rutin merilis data astronomi dengan tingkat akurasi yang sangat tinggi, menjadi rujukan global dalam pengamatan langit.

Dalam konteks ini, penggunaan hisab oleh organisasi seperti Muhammadiyah melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah bentuk ijtihad yang berpijak pada tradisi ilmu sekaligus kemajuan teknologi. Ini bukan sekadar pilihan praktis, tetapi juga refleksi dari keyakinan bahwa ilmu pengetahuan adalah bagian dari ibadah—membaca ayat-ayat kauniyah yang terbentang di langit. Ayat kauniyah adalah ilmu Allah yang berupa alam semesta dengan seluruh hukum yang menyertainya.

Menariknya, sejumlah pondok pesantren di Indonesia juga mulai membuka diri terhadap pendekatan ini. Lembaga seperti Pondok Modern Darussalam Gontor, serta pesantren-pesantren Al Falah, Ploso Kediri dan Malang, telah memasukkan ilmu falak modern dalam kurikulum mereka. Ini menandai sebuah pergeseran: dari sekadar tradisi menuju sintesis antara tradisi dan sains.

Namun, di tengah kemajuan tersebut, negara masih memegang peran sentral melalui sidang isbat yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Dengan mengandalkan hasil rukyatul hilal dari 117 titik pengamatan, pemerintah menetapkan awal Ramadan dan Syawal secara resmi.

Mekanisme ini dimaksudkan untuk menjaga kesatuan, namun di sisi lain juga memunculkan pertanyaan yang tak sederhana: sampai kapan negara akan berada dalam wilayah ijtihad yang sejatinya dinamis?

Data menunjukkan bahwa kemampuan teknologi Indonesia sebenarnya tidak tertinggal. Badan-badan seperti observatorium nasional dan perguruan tinggi telah mampu melakukan perhitungan astronomi dengan akurasi tinggi, setara dengan standar internasional. Bahkan, perangkat lunak astronomi yang digunakan secara global memungkinkan siapa pun untuk menghitung posisi hilal secara mandiri.

Di sinilah kita dihadapkan pada pilihan yang bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis. Apakah kita akan terus bertahan pada metode observasi langsung sebagai bentuk kehati-hatian, ataukah beralih sepenuhnya pada hisab yang menawarkan kepastian dan keseragaman?

Barangkali, jawabannya tidak harus tunggal. Sebab, seperti langit yang luas, Islam pun memberi ruang bagi keragaman ijtihad. Perbedaan bukanlah retakan, melainkan cahaya yang memantul dari sudut pandang yang berbeda. Ia adalah rahmat, sebagaimana diyakini oleh banyak ulama.

Pada akhirnya, baik yang telah bertakbir di pagi Idulfitri maupun yang masih berpuasa, keduanya sama-sama menengadah ke langit yang sama. Hilal yang dicari, dihitung, dan direnungi itu tetap satu, menggantung sunyi di cakrawala. Menjadi saksi bahwa manusia dengan segala keterbatasannya, terus berusaha memahami tanda-tanda kebesaran-Nya.

Justru dalam perbedaan itulah, kita belajar: bahwa iman tidak selalu seragam, tetapi tetap menuju arah yang sama. Allah Swt. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search