Hujan di Jumat Pagi, Ketika Langkah Kecil Menjadi Pintu Rahmat yang Tak Terduga

Hujan di Jumat Pagi, Ketika Langkah Kecil Menjadi Pintu Rahmat yang Tak Terduga
www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Nashrul Mu’minin
Content Writer Yogyakarta

Pagi itu, langit Yogyakarta masih basah oleh hujan yang turun sejak subuh. Butiran airnya tidak deras, tapi cukup untuk membasahi jalanan dan menempel di daun-daun pepohonan di sekitar Masjid Al Mahkamah. Ada sesuatu yang berbeda tentang Jumat ini. Bukan hanya karena saya akan berdiri sebagai khatib, tapi karena ada getaran khusus yang terasa—seolah alam sendiri sedang mempersiapkan ruang untuk sebuah momen spiritual yang lebih dalam dari sekadar khutbah rutin.

Jumat bukan hari biasa. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menyebutnya sebagai “sayyidul ayyam” (penghulu segala hari). Tapi keistimewaannya seringkali kita lewatkan dalam rutinitas. Kita datang ke masjid, shalat, mendengar khutbah, lalu pulang—seolah itu ritual mekanis tanpa makna.

Padahal, setiap Jumat sebenarnya adalah undangan khusus dari Allah untuk sebuah transformasi. Transformasi apa? Dari kesibukan duniawi yang mengeringkan jiwa, menuju ketenangan yang menyegarkan ruhani. Dari nafsu yang tak pernah puas, menuju syukur yang membebaskan.

Hujan pagi tadi mengingatkan saya pada sebuah kebenaran sederhana: rahmat Allah turun tak terduga, seperti air yang membasahi bumi tanpa pilih-pilih. Ia datang bukan karena kita layak, tapi karena kasih-Nya yang tak terbatas. Persis seperti keberkahan Jumat—ia tidak menuntut kesempurnaan. Cukup dengan niat tulus melangkah ke masjid, Allah sudah menyiapkan pahala yang besar. Cukup dengan tekad mendengarkan khutbah dengan hati terbuka, bisa jadi itu menjadi pintu hidayah yang mengubah hidup seseorang.

Tapi di sinilah ironi zaman kita: di era yang serba instan, kita ingin segala sesuatu—termasuk keberkahan—datang secepat gosok layar smartphone. Kita datang ke masjid tapi pikiran masih di kantor. Kita duduk di shaf terdepan tapi hati masih bergulat dengan dendam atau keinginan duniawi.

Kita ingin perubahan spiritual, tapi tidak mau mengubah cara pandang tentang makna “usaha”. Padahal, rahasia besar justru ada dalam hal-hal kecil yang sering diabaikan:.

1. Langkah kaki menuju masjid yang dihitung sebagai sedekah.
2. Diam sejenak sebelum khutbah yang bisa menjadi momen munajat paling jujur.
3. Air hujan yang membasahi jalan ternyata bisa menjadi pembersih niat, jika kita mau merenungkannya.

Pagi tadi, saya melihat seorang bapak tua berjalan tertatih dengan tongkat menuju masjid. Bajunya basah terkena hujan, tapi matanya berbinar. Di belakangnya, ada pemuda berjas rapi yang terburu-buru sambil mengecek jam. Dua gambaran yang kontras, tapi sama-sama mencari sesuatu di hari Jumat ini. Pertanyaannya: siapa yang lebih siap menerima keberkahan? Bapak tua yang jalannya pelan tapi hatinya tenang, atau pemuda yang fisiknya cepat tapi pikirannya kacau?

Inilah pelajaran besar dari Jumat yang basah ini: keberkahan bukan soal seberapa banyak yang kita lakukan, tapi seberapa dalam kita menyadari bahwa setiap detik adalah anugerah. Hujan yang turun tadi adalah metafora sempurna—ia mengajarkan bahwa rahmat Allah bisa datang melalui hal-hal yang kita anggap “gangguan” (macet karena hujan, alas kaki yang basah, dll). Tapi justru di situlah ujian iman: apakah kita bisa melihat hikmah di balik ketidaknyamanan?

Di akhir khutbah, saya mengajak jamaah untuk melakukan sesuatu yang tidak biasa: “Di antara azan dan iqamah nanti, coba diam sejenak. Lihat tetesan air yang masih menempel di jendela masjid. Itu tidak sekedar air—itu adalah tanda bahwa Allah sedang membersihkan hati kita, jika kita mau.”

Dan ketika kami keluar dari masjid, hujan sudah berhenti. Matahari muncul perlahan, menyinari genangan air di aspal. Seperti pesan tersirat: setelah usaha tulus dan kesabaran, selalu ada cahaya setelah hujan. Bahkan di Jumat yang basah ini, ternyata ada ribuan pintu rahmat yang terbuka—untuk mereka yang mau melangkah dengan niat tulus, dan berhenti sejenak untuk merasakan kehadiran-Nya dalam hal-hal kecil.

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 13). Mungkin, jawabannya ada di setiap tetes hujan Jumat pagi ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Search