Iduladha 1446 H di Masjid Nurul Huda Ranupakis, Menggaungkan Semangat Jihad Dan Keikhlasan Ibadah Kurban

www.majelistabligh.id -

Langit pagi yang cerah mengiringi semangat jamaah dalam menunaikan shalat Iduladha 1446 H di Masjid Nurul Huda, Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Ranupakis, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang. Pelaksanaan shalat dilangsungkan tepat pukul 06.01 WIB, dihadiri ratusan jamaah dari berbagai lapisan masyarakat yang memadati halaman dan ruangan masjid. Bertindak sebagai imam dan khatib adalah Ustadz Muhlason, Lc., M.Pd, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kemasjidan dan Pesantren PDM Lumajang.

Dalam khutbahnya yang sarat makna dan menyentuh hati, Ustadz Muhlason mengusung tema sentral “Jihādun fī sabīlillāh” (jihad di jalan Allah), sebagai cerminan dari semangat pengorbanan Nabi Ibrahim ‘alaihissalām dan ketaatan Nabi Ismail ‘alaihissalām.

Dengan suara lantang namun penuh kelembutan, beliau mengingatkan bahwa Iduladha bukan sekadar hari raya biasa, melainkan momentum spiritual untuk menggugah kembali keimanan dan ketaqwaan kaum muslimin.

“Tidak ada hari di mana amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada amal shalih yang dilakukan pada hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, tidak juga jihad di jalan Allah?” Beliau menjawab: “Tidak juga jihad di jalan Allah, kecuali seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya, lalu tidak kembali dengan sesuatu apapun.” (HR. Bukhari).

Khutbah yang disampaikan selama kurang lebih 20 menit itu memuat ajakan kuat untuk menjadi muslim yang taat terhadap Rasulullah ﷺ, karena hakikat ibadah Kurban sejatinya adalah meneladani ketundukan total atas perintah Allah, sebagaimana diteladankan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

“Sami’na wa atha’na” (kami dengar dan kami taat), tegas Ustadz Muhlason mengutip QS. An-Nur ayat 51, sebagai bentuk keteladanan iman para sahabat yang patuh total kepada perintah Allah dan Rasul-Nya, tanpa menawar dan menunda.

Setan tidak akan pernah berhenti menggoda manusia, lanjut beliau, “Setiap detik ia mencari celah untuk menjerumuskan hamba-hamba Allah ke dalam kealpaan dan kemaksiatan. Oleh sebab itu, Iduladha menjadi waktu yang sangat tepat untuk merenung dan membersihkan jiwa dari penyakit cinta dunia berlebihan (hubbud dunya)”.

Ia juga  menyoroti kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalām yang mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya yang sangat dicintai, Nabi Ismail, sebagai bentuk ujian keimanan.

“Bagaimana mungkin seorang ayah rela menyembelih anak yang ditunggu sekian lama? Tapi karena perintah itu dari Allah, maka tidak ada ruang bagi Ibrahim untuk ragu,” ujarnya dengan suara yang mulai bergetar.

“Ubud dunia (hamba dunia) itu musuh keikhlasan,” lanjutnya, “Cukuplah Qarun dan Fir’aun menjadi contoh betapa cinta dunia bisa membinasakan manusia.”

Tujuan kurban, kata beliau, bukanlah sebatas menyembelih hewan, tapi menyembelih ego, hawa nafsu, dan kepentingan duniawi yang seringkali menjauhkan manusia dari Allah. Maka, Iduladha menjadi momentum untuk mendekat kepada Allah (‘id: kembali), menyucikan jiwa, dan membuktikan cinta kepada Ilahi.

Khutbah pun ditutup dengan serangkaian pertanyaan reflektif yang menghujam hati para jamaah:

“Sudah siapkah kita menghadap Allah?”

“Sudahkah kita meminta ampun atas dosa kita kepada orang tua?”

“Sudahkah kita menjadi suami yang baik bagi keluarga?”

“Sudahkah kita jauh dari dosa?”

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab dengan kata-kata, melainkan oleh isak tangis beberapa jamaah yang tak kuasa menahan haru. Beberapa jamaah tampak menyeka air mata, tersentuh oleh kekuatan kalimat dan kejujuran introspektif dalam khutbah tersebut.

Pelaksanaan penyembelihan hewan kurban oleh panitia Takmir Masjid Nurul Huda dilaksanakan keesokan harinya, pada hari Sabtu, 7 Juni 2025. Tahun ini, hewan kurban yang akan disembelih terdiri dari 1 ekor sapi dan 8 ekor kambing/domba. Proses penyembelihan dilakukan secara gotong royong oleh panitia, relawan, serta warga setempat. Daging Kurban dibagikan kepada masyarakat sekitar, dengan prioritas warga kurang mampu, janda, lansia, dan kaum dhuafa serta sebagian dipercayakan lewat Lazismu Daerah Lumajang.

Ketua PRM Ranupakis menyampaikan rasa syukur atas kelancaran seluruh rangkaian kegiatan Iduladha tahun ini. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh warga, donatur, dan relawan yang telah bahu-membahu dalam pelaksanaan kegiatan ini.

“Semoga semangat Kurban ini tidak berhenti hari ini saja. Tapi terus menjadi karakter kita sebagai umat Islam yang taat, rela berkorban, dan tidak terikat oleh dunia,” pungkasnya.

Iduladha 1446 H di Masjid Nurul Huda PRM Ranupakis bukan hanya perayaan tahunan, melainkan cermin dari kesalehan kolektif dan semangat jihad dalam menjalankan perintah Allah dengan penuh keikhlasan dan cinta. Seperti Nabi Ibrahim, seperti Nabi Ismail, seperti Rasulullah ﷺ, umat Islam hari ini ditantang untuk menyembelih segala yang menghalangi jalan taat, agar kelak bisa menghadap Allah dengan hati yang bersih, jiwa yang tunduk, dan amal yang diterima.

Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar wa lillāhil-ḥamd. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search