*)Oleh: Munahar
Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
Entah sampai kapan perdebatan persoalan ijazah mantan Presiden RI Joko Widodo akan berakhir. Banyak yang memprediksi sampai pemilu 2029. Apakah tidak bisa dipercepat? Bisa, tergantung niat. Apakah juga tidak bisa diperpanjang dari 2029? Bisa, tergantung niat pula.
Ijazah bisa dibuat horeg sesuai selera. Mau horeg sebentar, sedang, lama, atau sangat lama. Skalanya pun bisa diatur, tergantung selera pula. Hanya perlu kesadaran.
Namun, menunggu kesadaran orang rasa-rasanya tidak akan sadar, sebab yang belum sadar pun merasa bahwa dirinya sadar. Mungkin, perlu fatwa MUI untuk mengecilkan volumenya atau bila perlu pemimpin tertinggi mengeluarkan abolisi, amnesti, atau apalah namanya untuk menghentikannya. Yang penting berhenti, sebab banyak yang terganggu gegara horegnya.
“Negeri selembar ijazah.” Saya pernah baca pikiran tertulis tersebut dari sebuah buku “Markesot” karya Emha Ainun Najib yang sering dijuluki “Kyai Mbeling” saat itu, saat saya masih kuliah S1, dulu, sekitaran 1999-an. Sudah agak lupa, jadi ingat kembali setelah horegnya ijazah menghiasi media-media mainstream di tanah air bahkan sampai pula di tanah air orang, hingga saat ini.
Indonesia memang beda. Rata-rata, syarat melamar pekerjaan perlu punya ijazah, tidak peduli ijazah asli atau sangat asli, yang penting bawa ijazah. Toh, saat melamar biasanya juga tidak pernah di-ELA (Error Level Analysis). Jika yang asli ketlisut, maka boleh dengan legalisir yang penting stempel legalisirnya ada tulisan yang menyatakan bahwa salinan ijazah tersebut telah disahkan dan sesuai dengan aslinya.
Selain ijazah, nilainya pun dipilih yang tertinggi, meskipun nilai tinggi, terkadang tidak berbanding lurus dengan kejujuran dan integritas yang tinggi pula. Artinya, jika tidak punya ijazah atau legalisirnya, Anda harus siap nganggur. Sekedar informasi, penganggur saat ini sudah banyak, jadi jangan menambah populasi jenis ini.
Oleh sebab itu, pastikan jika tidak punya ijazah, kuatkan keterampilan hidup Anda. Apapun itu, termasuk membuat sound horeg. Jika tidak punya keterampilan membuat, Anda bisa jadi pengusahanya. Jika tidak punya modal untuk membuka usaha, maka bisa jadi operatornya.
Namun saya berpesan saat memutar sound horeg, volumenya dikecilkan, banyak orang tua dan anak kecil yang sakit, terlebih sekuat apapun suara sound horeg Anda akan tetap kalah dengan horegnya suara selembar ijazah. (*)
