Hari ini, tidak sedikit orang mengejar gelar bukan untuk ilmu, tapi demi status. Ijazah, yang seharusnya menjadi tanda perjalanan panjang penuh usaha, kini kadang-kadang hanya dianggap sekadar kertas yang bisa dibeli.
Fenomena ijazah palsu perlahan mencoreng wajah pendidikan, membuat banyak orang bertanya-tanya: masih adakah makna sejati dari sebuah gelar?
Dunia ini berjalan cepat. Kadang, terlalu cepat. Banyak orang ingin sukses dalam semalam. Mau cepat dapat kerja, mau cepat kelihatan keren.
Di sinilah ijazah palsu masuk. Satu jalan pintas yang, bagi sebagian orang, terasa sangat menggoda.
Ijazah itu mestinya lambang kerja keras. Tanda kalau seseorang pernah jatuh, bangun lagi, belajar, gagal, terus mencoba. Tapi dengan ijazah palsu, semua itu dihapus.
Tinggal selembar kertas. Kosong. Tidak ada perjuangan di baliknya, hanya uang dan tipu daya.
Allah sudah memperingatkan kita dalam Al-Baqarah 188, jangan ambil jalan batil. Tapi manusia sering lupa. Tergiur. Merasa dunia ini lebih penting dari kejujuran.
Sedikit demi sedikit, hatinya mengeras. Tidak lagi malu menipu. Tidak lagi merasa bersalah. Ini yang disebut dalam psikologi sebagai moral disengagement — proses diam-diam di dalam kepala yang bilang, “ah, semua orang juga begitu.”
Masalahnya, ijazah palsu itu tidak berhenti di situ. Bayangkan dokter yang tidak benar-benar belajar. Guru yang tak pernah menguasai ilmu. Apa jadinya dunia ini?
Kita hidup di antara kepalsuan yang kita buat sendiri. Dan akhirnya, semua orang rugi.
Pada akhirnya, mungkin butuh keberanian lebih besar untuk tetap jujur. Untuk tetap percaya bahwa proses itu penting.
Karena ketika semua orang berlari, kita yang berjalan kadang terlihat bodoh. Tapi percayalah, kejujuran selalu lebih tahan lama daripada kertas-kertas kosong itu. (*)
