Ikhlas Sejati: Tak Terpengaruh Pujian, Tak Gentar Celaan

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Salah satu tanda paling nyata dari keikhlasan dalam beramal adalah ketika seseorang memandang pujian dan celaan dengan cara yang sama.

Artinya, pujian tidak membuatnya menjadi sombong atau berbangga diri, sementara celaan tidak membuatnya lemah, putus asa, atau berhenti dari jalan kebaikan.

Ia tetap konsisten dalam ketaatan kepada Allah, tidak terpengaruh oleh penilaian manusia.

Keikhlasan seperti inilah yang sangat penting, terutama bagi mereka yang terlibat dalam dakwah dan amal kebaikan.

Karena di medan amal dan dakwah, pujian dan celaan akan datang silih berganti. Orang yang ikhlas akan tetap teguh karena yang menjadi tujuan utamanya adalah keridaan Allah, bukan sanjungan manusia.

Allah Ta’ala menegaskan perintah untuk ikhlas dalam firman-Nya:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya (artinya: ikhlas) dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

Ayat ini menunjukkan bahwa inti dari ibadah adalah memurnikan niat hanya kepada Allah semata. Jika niat bercampur dengan keinginan lain—seperti riya’, ingin dipuji, atau mengharapkan keuntungan duniawi—maka amalan tersebut akan kehilangan nilainya di sisi Allah.

Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam juga mengingatkan tentang bahaya riya’. Dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

“Aku sama sekali tidak butuh pada sekutu dalam perbuatan syirik. Barangsiapa yang menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku akan meninggalkannya (tidak menerima amalannya) dan perbuatan syiriknya.” (HR. Muslim, no. 2985)

Ini menunjukkan bahwa siapa pun yang beramal dengan tujuan selain Allah, seperti ingin mendapat pujian atau perhatian manusia, maka amalannya tidak akan diterima. Riya’ adalah bentuk syirik kecil yang secara halus merusak keikhlasan.

Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab Al-Fawaid menyatakan dengan indah:

“Tidak mungkin dalam hati seseorang menyatu antara ikhlas dan mengharap pujian serta tamak pada sanjungan manusia kecuali bagaikan air dan api.”

Sebagaimana kita tahu, air dan api tidak akan pernah bisa bersatu. Jika dipertemukan, keduanya justru saling memadamkan.

Demikian pula, keikhlasan dan keinginan untuk dipuji tidak akan pernah bersatu dalam hati seseorang. Jika seseorang masih mencintai pujian manusia, maka niatnya belum murni untuk Allah.

Seseorang pernah bertanya kepada Yahya bin Mu’adz, “Kapan seorang hamba dikatakan ikhlas?” Beliau menjawab:

“Jika keadaannya seperti anak kecil yang sedang menyusu. Ia tidak peduli apakah orang lain memujinya atau mencelanya.”

Itu adalah gambaran keikhlasan yang sangat tulus—berbuat bukan karena ingin dilihat atau dikenal, melainkan semata-mata karena kebutuhan jiwa dan ketundukan kepada Allah.

Muhammad bin Syadzan juga memberi nasihat penting:

“Berhati-hatilah dari ketamakan ingin meraih kedudukan tinggi di sisi Allah, sementara di sisi lain masih berharap pujian manusia.”

Pesannya sangat jelas: siapa pun yang ingin dekat dengan Allah harus membersihkan niat dari keinginan-keinginan duniawi seperti ketenaran dan pengakuan manusia.

Begitu pula Dzun Nuun Al-Mishri rahimahullah ketika ditanya, “Kapan seorang hamba bisa mengetahui bahwa dirinya ikhlas?” Ia menjawab:

“Jika ia telah mencurahkan segala usahanya dalam ketaatan, dan tidak tergila-gila akan pujian manusia.”

Keikhlasan adalah inti dari semua amal. Tanpanya, amalan menjadi kosong, bahkan bisa menjadi sia-sia di hadapan Allah.

Oleh karena itu, setiap muslim harus senantiasa memperbarui niat, mengoreksi hati, dan tidak pernah berhenti berdoa agar Allah senantiasa menjaga keikhlasan dalam setiap langkah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita untuk menjadi hamba-hamba-Nya yang ikhlas dalam beramal, dalam berdakwah, dan dalam setiap bentuk kebaikan yang kita lakukan. Aamiin. (*)

Tinggalkan Balasan

Search