Ilmu Tak Sekadar Dihafal: Urgensi Ilmu Bermanfaat dalam Islam

*) Oleh : Amrozi Mufida
Anggota Lembaga Pembinaan Haji dan Umroh (LPHU) PDM Lamongan
www.majelistabligh.id -

Menuntut ilmu merupakan amal mulia dalam Islam. Namun, tidak semua ilmu membawa keberkahan. Islam menekankan pentingnya ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang diamalkan, membentuk akhlak, serta mendekatkan seorang hamba kepada Allah Swt.

Ilmu Bermanfaat, Bukan Sekadar Dihafalkan

Banyak orang giat menuntut ilmu, tetapi ilmunya tidak memberi dampak nyata. Hal ini terjadi karena ilmu hanya berhenti pada hafalan, bukan pengamalan. Padahal, ukuran utama ilmu dalam Islam adalah manfaatnya.

Imam Syafi’i rahimahullah berkata:

العلم ما نفع، ليس العلم ما حفظ

“Ilmu adalah sesuatu yang bermanfaat, bukan sekadar yang dihafalkan.”

Ilmu yang bermanfaat akan menumbuhkan ketakwaan dan memperdalam pengenalan seseorang kepada Rabb-nya. Ilmu semacam ini tidak melahirkan kesombongan, tidak mendorong pencarian popularitas, serta tidak menjadikan seseorang gila dunia atau merendahkan orang lain.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

إنكم فى زمان كثير علماؤه قليل خطباؤه. وسيأتي بعدكم زمان قليل علماؤه كثير خطباؤه

“Kalian hidup pada zaman yang banyak ulama’nya dan sedikit orang yang pandai berkoar-koar. Akan datang setelah kalian suatu zaman yang sedikit ulamanya, tetapi banyak orang yang pandai berkoar-koar.”

Orang yang benar-benar berilmu justru cenderung menjaga lisannya. Ia berbicara seperlunya dan hanya pada hal-hal yang penting.

Ibnu Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

فمن كثر علمه وقل قوله فهو الممدوح. ومن كان بالعكس فهو مذموم

“Barangsiapa yang banyak ilmunya dan sedikit bicaranya, maka dialah orang yang terpuji. Sebaliknya, orang yang sedikit ilmunya namun banyak bicaranya adalah orang yang tercela.”

Urgensi Ilmu Bermanfaat dalam Kehidupan

Ilmu yang bermanfaat memiliki kedudukan agung dalam Islam. Bahkan, menempuh jalan ilmu menjadi salah satu sebab kemudahan menuju surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu):

من سلك طريقا يلتمس فيه علما سهل الله له به طريقا إلى الجنة

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”

Keutamaan ilmu tidak berhenti saat pemiliknya wafat. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalirkan pahala meskipun seseorang telah meninggal dunia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu):

إذا مات إبن أدم إنقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakan orang tuanya.”

Lebih dari itu, ilmu merupakan warisan paling berharga dari para Nabi. Mereka tidak mewariskan harta, melainkan ilmu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu):

العلماء ورثة الأنبياء وإن الأنبياء لم يورثوا دينارا ولا درهاما ولكن ورثوا العلم فمن أخذه أخذ بحظ وافر

“Para ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Barangsiapa mengambilnya, maka ia telah memperoleh bagian yang besar.”

Adab Didahulukan Sebelum Ilmu

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab menempati posisi yang sangat penting. Bahkan, adab sering kali didahulukan sebelum ilmu itu sendiri.

Konsep ini ditekankan dalam sistem pendidikan Pondok Pesantren Gontor Ponorogo. KH Imam Zarkasyi rahimahullah berkata:

المادة مهمة ولكن الطريقة أهم من المادة
الطريقة مهمة ولكن المدرس أهم من الطريقة
المدرس مهم ولكن روح المدرس أهم من المدرس

“Materi itu penting, tetapi metode penyampaiannya lebih penting daripada materi.”
“Metode itu penting, tetapi guru lebih penting daripada metode.”
“Guru itu penting, tetapi ruh dan keteladanan guru lebih penting daripada sosoknya.”

Ilmu yang tidak disertai adab akan kehilangan keberkahan. Sebaliknya, adab tanpa ilmu juga tidak akan sempurna. Abu Zakariya al-Anbari berkata:

علم بلا أدب كنار بلا حطب. وأدب بلا علم كروح بلا جسد

“Ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu bakar. Adab tanpa ilmu bagaikan ruh tanpa jasad.”

Para ulama salaf sangat menekankan pentingnya mempelajari adab sebelum ilmu. Dengan adab, ilmu mudah diraih dan dijaga. Tanpa adab, ilmu justru akan disia-siakan.

Ibnul Mubarak rahimahullah berkata:

تعلمنا الأدب ثلاثين عاما وتعلمنا العلم عشرين

“Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, sedangkan mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.”

Ilmu yang bermanfaat bukan hanya mencerdaskan akal, tetapi juga membersihkan hati dan memperbaiki amal. Oleh karena itu, menuntut ilmu harus dibarengi dengan niat yang lurus, adab yang baik, serta kesungguhan dalam mengamalkannya. Dengan cara inilah ilmu menjadi cahaya, bukan sekadar hafalan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search