Dalam cerita Saba’, bangsa yang hidup dalam kemakmuran serta kesuburan tanah mereka malah terjebak dalam kesombongan (hubris). Dari sudut pandang psikologi, hubris merupakan keadaan di mana seseorang—atau kelompok—merasa sangat superior sehingga menolak memandang keterbatasan diri sendiri.
Perihal ini membuat mereka mengabaikan peringatan serta petunjuk yang diberikan, apalagi kala fakta nyata dari kebesaran Si Pencipta sudah terdapat di depan mata.
Secara psikologis, hubris bisa merangsang sikap mengganggu sebab meningkatkan kepercayaan kalau seluruh suatu terdapat di dasar kendali sendiri.
Dalam konteks Saba’, mereka merasa kalau keberkahan dunia yang melimpah merupakan kepunyaan mereka, tanpa menyadari kalau kekayaan serta kemakmuran itu cumalah titipan yang bertabiat sedangkan
Kala peringatan Allah timbul lewat bencana banjir besar, ilusi tersebut juga sirna. Mereka tidak siap menerima realitas yang kita nikmati di dunia haruslah dipertanggungjawabkan, sehingga pada kesimpulannya kekayaan itu berganti penderitaan dalam wujud kebun yang penuh dengan buah-buahan getir.
Hancurnya Negeri Saba’
فَأَعۡرَضُواْ فَأَرۡسَلۡنَا عَلَيۡهِمۡ سَيۡلَ ٱلۡعَرِمِ وَبَدَّلۡنَٰهُم بِجَنَّتَيۡهِمۡ جَنَّتَيۡنِ ذَوَاتَيۡ أُكُلٍ خَمۡطٖ وَأَثۡلٖ وَشَيۡءٖ مِّن سِدۡرٖ قَلِيلٖ
“Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Aṡl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS. Saba :16)
Ketika peristiwa bencana tiba mereka tidak bisa menciptakan penyeimbang emosional yang dibutuhkan untuk menjawab pergantian yang tiba-tiba.
Kebahagiaan dunia yang mereka kejar nyatanya cumalah ilusi sesaat, apabila digantikan oleh realitas yang getir menimbulkan krisis keyakinan serta penyesalan yang mendalam.
Secara psikologis, penolakan terhadap realitas—atau denial—adalah mekanisme pertahanan yang kerap timbul saat orang ataupun kelompok merasa terancam oleh pengalihan yang tidak diduga.
Bangsa Saba’, dengan seluruh kemegahannya, menolak mengakui jika nikmat dunia dapat menjadi cobaan serta terdapat kehidupan sesudah kematian.
Saat Allah mengirimkan banjir besar, penolakan mereka terhadap peringatan sudah membuat mereka rentan terhadap kehancuran. Dalam prosesnya, mereka kehabisan apa yang dahulu mereka anggap selaku sumber kekuatan serta bukti diri.
Psikologi menerangkan jika penolakan terhadap kenyataan dapat membuat orang tidak siap mengalami konsekuensi nyata, sehingga kala bencana itu tiba tidak terdapat lagi mekanisme menyesuaikan diri yang efisien.
Perihal ini tercermin dalam pergantian drastis—dari kebun yang penuh dengan buah-buahan manis jadi kebun dengan buah-buahan getir, itu adalah simbol jika apa yang dahulu jadi sumber kebahagiaan saat ini berganti menjadi beban serta penderitaan.
Cerita hancurnya negara Saba’. merupakan pelajaran mendalam tentang kesombongan yang merupakan pangkal dari kehancuran.
Dalam QS. Saba’:16, Allah menegaskan bila nikmat dunia yang luar biasa sepatutnya tidak membuat kita lalai terhadap kehidupan. Dari sudut pandang psikologi serta spiritualitas, keberhasilan yang sejati muncul dari pemahaman akan keterbatasan diri serta kerendahan hati.
Pemahaman ini dapat membuat kita memandang dunia adalah ujian—bukan merupakan tujuan akhir. Dengan mengetahui jika seluruh kenikmatan dunia itu fana, manusia bisa meningkatkan rasa syukur serta penyerahan diri kepada Allah (tawakal).
Hal ini bukan hanya menguatkan kesehatan mental serta emosional, namun dapat membentuk kepribadian yang sanggup menerima realitas dari setiap cobaan.
Dengan berjalannya waktu, orang yang bersyukur serta bertawakal akan sanggup menjalani kesusahan dengan lebih bijaksana serta tenang, dan membangun ikatan yang harmonis dengan sesama. (*)
