Imam, Khatib, dan Kotak Infak: Saatnya Memberi Teladan Nyata

*) Oleh : Akhmad Sutikhon
Wartawan dan Ketua PRM Ngawen Sidayu Gresik
www.majelistabligh.id -

Salat Jumat adalah mimbar pendidikan umat. Di atas mimbar, khatib menyampaikan ayat-ayat Allah, mengingatkan tentang takwa, kejujuran, keadilan, dan kepedulian sosial. Imam memimpin salat, menjadi figur yang diikuti gerak dan diamnya oleh jamaah.

Namun dari hasil pengamatan langsung di beberapa masjid, muncul satu pertanyaan yang patut direnungkan bersama: ketika kotak infak diedarkan atau diletakkan di pintu masjid, apakah imam dan khatib ikut memasukkan infak?

Fakta yang terlihat, dari banyak imam dan khatib yang teramati, sebagian besar tidak berinfak saat itu. Ini bukan soal jumlah uang. Ini soal keteladanan.

Infak: Perintah yang Jelas dan Berulang

Al-Qur’an berbicara tentang infak bukan sekali dua kali, melainkan berulang-ulang. Allah berfirman:

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji…”(QS. Al-Baqarah: 261)

Ayat ini menjelaskan bahwa balasan infak minimal 700 kali lipat. Bahkan para ulama tafsir seperti Ibnu Katsir dan As-Sa’di menegaskan, pelipatgandaan ini bisa lebih, tergantung pada keikhlasan, kualitas harta, kebutuhan penerima, dan kondisi pemberi.

Allah juga berfirman:

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai…” (QS. Ali ‘Imran: 92)

Artinya, infak bukan sisa. Bukan yang tidak terasa. Tetapi sesuatu yang kita cintai.

Lebih tegas lagi, Allah memperingatkan:

“Wahai orang-orang yang beriman! Infakkanlah sebagian dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang hari ketika tidak ada lagi jual beli…”(QS. Al-Baqarah: 254)

Dan juga:

“Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian…” (QS. Al-Munafiqun: 10)

Ayat-ayat ini tidak ditujukan hanya untuk jamaah biasa. Ia ditujukan untuk orang-orang yang beriman. Dan imam serta khatib tentu berada di barisan terdepan orang yang memahami ayat-ayat ini.

Ciri Orang Bertakwa

Allah menyebut salah satu ciri orang bertakwa adalah:

“(Yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit…” (QS. Ali ‘Imran: 133–134)

Bukan menunggu kaya. Bukan menunggu longgar. Tapi dalam segala keadaan.

Rasulullah ﷺ sendiri adalah teladan terbesar dalam hal memberi. Dalam hadis disebutkan bahwa beliau adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan dalam riwayat lain disebutkan bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah (HR. Bukhari dan Muslim).

Keteladanan inilah yang membuat para sahabat berlomba-lomba dalam infak. Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Umar membawa separuh hartanya. Mereka bukan hanya mendengar ayat—mereka mengamalkannya.

Mimbar dan Integritas Moral

Imam dan khatib adalah figur publik. Setiap gerakan dan sikapnya diperhatikan. Saat khatib menyampaikan ayat tentang sedekah dan infak, lalu setelah salat tidak terlihat ikut berinfak, pesan moralnya menjadi lemah.

Bukan berarti infak harus dipamerkan. Islam melarang riya. Namun dalam konteks kepemimpinan publik, ada ruang keteladanan yang justru dianjurkan. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. Ash-Shaff: 2–3)

Ayat ini sangat kuat. Ia menjadi cermin bagi siapa saja yang berdiri di mimbar.

Ketika imam atau khatib ikut memasukkan infak—meskipun jumlahnya kecil—itu adalah pesan diam yang sangat kuat: “Saya juga mengamalkan apa yang saya sampaikan.”

Bukan Soal Nominal, Tapi Arah Pendidikan Umat

Mungkin ada yang beralasan: sudah berinfak di tempat lain, sudah menyalurkan zakat secara rutin, atau memiliki cara lain dalam bersedekah. Semua itu baik. Namun momen Jumat adalah momen pendidikan kolektif.

Bayangkan jika setiap imam dan khatib secara konsisten memberi contoh. Jamaah akan terdorong. Anak-anak yang melihat akan belajar. Budaya memberi akan tumbuh. Sebaliknya, jika figur utama justru pasif, jamaah bisa merasa bahwa infak adalah urusan sekunder.

Padahal Allah telah menegaskan:

“Dan apa saja yang kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah Pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba’: 39)

Janji ini bukan untuk jamaah saja. Ia juga untuk imam dan khatib.

Saatnya Refleksi Bersama

Artikel ini bukan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak refleksi. Imam dan khatib adalah orang-orang yang dimuliakan karena ilmunya. Justru karena kemuliaan itu, tanggung jawabnya lebih besar.

Umat tidak hanya mendengar apa yang disampaikan dari mimbar. Umat juga melihat apa yang dicontohkan setelah turun dari mimbar.

Jika kita ingin membangun umat yang dermawan, maka budaya itu harus dimulai dari depan—dari saf pertama, dari mimbar Jumat, dari tangan para imam dan khatib.

Semoga kita semua, terutama para pemimpin umat, termasuk dalam golongan:

“Orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit…” (QS. Ali ‘Imran: 134)

Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa bukan jabatan sebagai imam atau khatib, melainkan amal yang nyata di hadapan Allah. Wallahu a’lam. (*)

Tinggalkan Balasan

Search