Iman adalah Kehidupan

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Iman adalah fondasi utama kehidupan yang menggerakkan hati, lisan, dan perbuatan manusia sesuai ajaran Tuhan, menciptakan kedamaian, serta memberi arah tujuan hidup yang hakiki. Iman bukan sekadar keyakinan pasif, melainkan kekuatan aktif yang memotivasi amal saleh, akhlak mulia, serta memberikan ketenangan mental.

Orang-orang yang sesungguhnya paling sengsara adalah mereka yang miskin iman dan mengalami krisis keyakinan. Mereka selamanya akan berada dalam kesengsaraan, kepedihan, kemurkaan, dan kehinaan.

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةٗ ضَنكٗا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

“Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit.” (QS. Thaha: 124)

Maksud ayat tersebut menjelaskan ancaman Allah bagi mereka yang berpaling dari Al-Quran (peringatan-Nya) berupa kehidupan dunia yang sempit (penuh gelisah, tidak tenang meski kaya), azab kubur yang menghimpit, serta dibangkitkan dalam keadaan buta di hari kiamat.

Ayat ini adalah peringatan tegas agar manusia selalu kembali kepada Al-Quran dan Sunah agar terhindar dari kesengsaraan dunia dan akhirat.

Tak ada sesuatu yang dapat membahagiakan jiwa, membersihkannya, menyucikannya, membuatnya bahagia, dan mengusir kegundahan darinya, selain keimanan yang benar kepada Allah Swt., Rabb semesta alam. Singkatnya, kehidupan akan terasa hambar tanpa iman.

Kehidupan tanpa iman terasa hambar, hampa, dan tak bernilai, karena iman adalah kompas yang memberikan arah, makna, serta ketenangan sejati. Tanpa iman, aktivitas manusia hanya menjadi rutinitas jasmani yang melelahkan dan sering kali berujung pada keresahan. Iman menjadikan setiap detik bernilai ibadah dan mendatangkan rasa syukur.  Iman yang benar juga menuntut adanya amal saleh dan bimbingan ilmu agar hidup tidak hanya berarti secara spiritual tetapi juga bermanfaat nyata.

Dalam pandangan para pembangkang Allah yang sama sekali tidak beriman, cara terbaik untuk menenangkan jiwa adalah dengan bunuh diri. Menurut mereka, dengan bunuh diri orang akan terbebas dari segala tekanan, kegelapan, dan bencana dalam hidupnya. Betapa malangnya hidup yang miskin iman! Dan betapa pedihnya siksa dan azab yang akan dirasakan oleh orang-orang yang menyimpang dari tuntunan Allah di akherat kelak!

وَنُقَلِّبُ أَفْـِٔدَتَهُمْ وَأَبْصَٰرَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا۟ بِهِۦٓ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِى طُغْيَٰنِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan, (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (al-Quran) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat sesat.” (QS. Al-An’am: 110)

Ayat tersebut  menjelaskan bahwa Allah memalingkan hati dan pandangan orang-orang musyrik sehingga mereka tetap menolak iman, meskipun mukjizat telah datang, serupa dengan penolakan pertama mereka. Allah membiarkan mereka tersesat dalam kebingungan akibat keras kepala mereka sendiri. Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah, dan orang yang menutup hatinya dari kebenaran akan dibiarkan dalam kesesatan.

Kini, sudah saatnya dunia menerima dengan tulus ikhlas dan beriman dengan sesungguhnya bahwa “tidak ada llah selain Allah”. Betapapun, pengalaman dan uji coba manusia sepanjang sejarah kehidupan dunia ini dari abad ke abad telah membuktikan banyak hal; menyadarkan akal bahwa berhala-berhala itu takhayul belaka, kekafiran itu sumber petaka, pembangkangan itu dusta, para rasul itu benar adanya, dan Allah benar-benar Sang Pemilik kerajaan bumi dan langit— segala puji bagi Allah dan Dia sungguh-sungguh Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Seberapa besar — kuat atau lemah, hangat atau dingin — iman Anda, maka sebatas itu pula kebahagiaan, ketentraman, kedamaian dan ketenangan Anda.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)

Ayat tersebut menegaskan bahwa siapa pun, laki-laki atau perempuan, yang beramal saleh dalam keadaan beriman, akan dianugerahi hayatan thayyibah (kehidupan yang baik/bahagia) di dunia dan balasan terbaik di akhirat. Hayatan thayyibah ditafsirkan sebagai qanaah (hati puas), rezeki halal, ketenangan jiwa, dan ketaatan.

Ayat ini memberikan motivasi bahwa kesuksesan hidup tidak semata-mata diukur dari materi, tetapi dari ketenangan hati, keistikamahan dalam beramal, dan keimanan yang kokoh.

Maksud kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dalam ayat ini adalah ketenangan jiwa mereka dikarenakan janji baik Rabb mereka, keteguhan hati mereka dalam mencintai Dzat yang menciptakan mereka, kesucian nurani mereka dari unsur-unsur penyimpangan iman. Juga ketenangan mereka dalam menghadapi setiap kenyataan hidup, kerelaan hati mereka dalam menerima dan menjalani ketentuan Allah, dan keikhlasan mereka dalam menerima takdir.

Dan itu semua adalah karena mereka benar-benar yakin dan tulus menerima bahwa Allah adalah Rabb mereka, Islam agama mereka, dan Muhammad adalah Nabi dan Rasul yang diutus Allah untuk mereka. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search