Iman yang Sejati Tak Harus Lewat Derita

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Marilah kita selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan, serta memanjatkan puja dan puji syukur ke hadirat Ilahi Rabbi yang masih memberikan anugerah, hidayah, taufik dan inayahNya.

Selawat dan salam selalu kita haturkan kepada junjungan Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam beserta keluarga, sahabat, tabi’in, tabi’it-tabi’in dan semuanya yang mengikuti jejak beliau sampai yaumul qiyamah.

Ujian iman dalam Islam salahsatunya melalui penderitaan. Tidak dikatakan beriman manakala seorang muslim dalam hidupnya ditempa terlebih dahulu dengan berbagai penderitaan.

Allah memberikan penderitaan berupa sedikit ketakutan, kelaparan, dan kekurangan harta untuk menyeleksi hamba-hambaNya.

Allah berjanji akan mengangkat derajat manusia yang mampu menerima cobaan berupa derita dengan sabar, tenang, dan ikhlas. Sebagaimana tertera dalam QS. al-Baqarah ayat 155, Allah Ta’ala berfirman:

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Kesan penderitaan sebagai alat ukur kualitas keimanan dalam perkembangannya membuahkan sikap keagamaan yang cenderung aneh. Rasa-rasanya semakin menderita semakin dekat dengan Tuhan.

Akhirnya mereka kadang membuat buat penderitaan dalam beragama. Meskipun bukan perbuatan yang dilarang, namun ada orang yang tetap memaksakan puasa saat bepergian, enggan melaksanan salat jamak saat dalam perjalanan, dan melakukan sembahyang salat lengkap dengan sajadah dan mukena di tengah-tengah keramaian terminal.

Ketaatan yang keras kepala ini sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan kualitas keimanan. Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam pernah menegur sahabat yang beribadah secara berlebih- lebihan. Kisah yang direkam Aisyah ini menceritakan tiga orang sahabat yang mengaku menjalankan agamanya dengan baik.

Masing-masing dari ketiga sahabat itu mengaku rajin berpuasa dan tidak berbuka; selalu sholat malam dan tidak pernah tidur; dan tidak menikah lantaran takut mengganggu ibadah.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam saat itu menegaskan bahwa ‘aku yang terbaik di antara kalian’. Karena Nabi berpuasa dan berbuka, sholat malam dan tidur, dan menikah.

Nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam tujuan utama diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak bukan untuk memberikan penderitaan kepada orang- orang beriman

Dalam QS. al-Anbiya ayat 107 ditegaskan bahwa “Tiadalah Kami mengutus engkau Muhammad melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta”.

Kalau pun diberikan sedikit penderitaan, Allah telah pastikan dalam QS. al-Baqarah ayat 286 bahwa :
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan pencapaian prestasi spiritual melalui penderitaan. Memang pelaksanaan kewajiban agama itu ada yang menyukarkan, namun kesukarannya berada dalam kewajaran manusiawi.

Apabila terdapat kesukaran yang di luar batas manusiawi, maka terdapat kaidah kaidah dan asas-asas yang memayungi dan memberi keringanan.

Islam mewajibkan kepada umatnya agar mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk beribadah kepada Allah Subhanallahu Wa Ta’ala.

Itulah orientasi tunggal yang harus dipegang oleh kaum muslimin ketika menjalani kehidupan.
Islam lalu memerintahkan umatnya agar melaksanakan perintah Allah dengan segenap potensi yang ia miliki dan tidak melanggar larangan- larangan Allah.

Namun demikian, Islam adalah “din waqi’iy” yakni agama yang sangat menghormati realitas obyektif dan realitas kongkrit yang terdapat di sekitar dan dalam diri manusia.

Ketika manusia menyukai keindahan, kecantikan, ketampanan, kelezatan dan kemerduan, Islam kemudian menghalalkannya.
(QS. An-Nahl : 6), (QS. al-A’raf : 31)

Dengan syarat hal tersebut didapatkan dengan cara yang baik dan dilakukan dengan cara yang benar. Sebagaimana Firman-Nya :

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Islam bukanlah agama yang membelenggu dan membatasi manusia. Islam juga bukanlah agama yang utopis, yang memperlakukan manusia seolah- olah malaikat yang tidak memiliki keinginan atau nafsu sama sekali.

Islam memperlakukan manusia sesuai dengan naluri kemanusiaannya. Islam sangat memberikan keluasan dan kelapangan bagi manusia untuk merasakan kenikmatan hidup, asalkan tidak melampaui batas.

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman ! Janganlah kamu mengharamkan apa yang baik yang telah dihalalkan Allah kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang melampaui batas.” (QS. al-Maidah: 87). (*)

Tinggalkan Balasan

Search