Menjelang pelaksanaan wukuf di Arafah pada Kamis (5/6/2025) atau 9 Zulhijah 1446 H, Indonesia kembali mencatatkan langkah penting dalam perlindungan jemaahnya. Dalam skema pergerakan puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Indonesia menjadi satu-satunya negara yang mendapat izin dari Pemerintah Arab Saudi untuk menempatkan ambulans secara langsung di kawasan suci Armuzna.
Keistimewaan ini ditegaskan oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam konferensi pers di Makkah, Rabu (4/6). Ia mengungkapkan bahwa keputusan ini merupakan hasil diplomasi yang matang, berbasis data, dan berlandaskan semangat perlindungan kepada jemaah.
“Tidak ada negara lain yang boleh memasukkan ambulansnya ke area perkemahan di Arafah dan Mina. Semua layanan biasanya hanya menggunakan ambulans milik Saudi,” kata Menag.
“Namun, setelah pendekatan intensif dan menunjukkan kebutuhan riil jemaah Indonesia, Arab Saudi memberikan dispensasi khusus hanya kepada kita. Ambulans akan ditempatkan secara tersebar, tidak bergerombol, demi efisiensi dan kecepatan penanganan,” imbuhnya.
Selain ambulans, Pemerintah Indonesia juga mendapat izin untuk mengoperasikan Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) secara penuh di area perkemahan. Ini termasuk layanan tindakan medis ringan dan penanganan darurat langsung di lokasi tenda-tenda jemaah.
“Kami bersyukur KKHI diizinkan kembali memberikan layanan seperti semula. Termasuk tindakan medis minor di dalam perkemahan, yang sangat langka ditemukan pada jemaah dari negara lain,” ungkap Nasaruddin.
Keputusan ini menjadi tonggak penting dalam misi haji Indonesia yang selalu menempatkan kesehatan dan keselamatan jemaah sebagai prioritas utama. Langkah ini tidak hanya soal kesiapan teknis, tetapi juga mencerminkan hubungan erat dan saling percaya antara Indonesia dan Arab Saudi.
Ambulans akan dikerahkan ke titik-titik strategis yang diperkirakan padat, terutama area tenda jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah risiko tinggi (risti). Dengan suhu ekstrem yang diperkirakan mencapai 50 derajat Celsius, kehadiran ambulans bisa menjadi penentu keselamatan jiwa.
Petugas dari Tim Kesehatan Haji Indonesia akan bergerak sesuai standar protokol KKHI, dilengkapi pelatihan dan alat medis untuk mendukung pelayanan di puncak ibadah.
“Langkah-langkah ini adalah bentuk nyata tanggung jawab negara dalam menjaga jemaah. Kami juga mengapresiasi dukungan penuh dari TNI dan Polri dalam mendampingi dan mengamankan misi kesehatan ini,” tambah Menag. (afifun nidlom)
