Ingat, Lebih Baik Dipaksa Masuk Surga Daripada Sukarela Masuk Neraka

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M.Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur

Antara Paksaan dan Pilihan

Dalam kehidupan, kita sering dihadapkan pada pilihan antara kenyamanan sesaat dan kebaikan jangka panjang. Ungkapan “lebih baik dipaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka” bukan sekadar provokasi retoris, melainkan ajakan untuk merenungi arah hidup kita: apakah kita sedang berjalan menuju cahaya atau justru memilih kegelapan dengan sadar?

Makna “Dipaksa” dalam Konteks Spiritual
Dalam Islam, paksaan bukan berarti kekerasan atau pemaksaan kehendak, melainkan bisa dimaknai sebagai:
– Dorongan dari orang tua, guru, atau lingkungan yang mengarahkan kita kepada kebaikan, meski awalnya terasa berat.
– Disiplin spiritual dan moral yang membentuk karakter, meski bertentangan dengan hawa nafsu.
– Ujian hidup yang memaksa kita untuk sabar, ikhlas, dan bertumbuh secara ruhani.

Sering kali, jalan menuju surga tidak selalu nyaman. Ia penuh tantangan, pengorbanan, dan perjuangan melawan ego. Namun, justru di sanalah nilai dan kemuliaan manusia diuji.

Sukarela Masuk Neraka: Pilihan yang Terlihat Ringan, Tapi Berat Akibatnya
Sukarela masuk neraka bukan berarti seseorang ingin disiksa, melainkan:
– Memilih jalan maksiat dengan sadar, karena dianggap lebih menyenangkan atau bebas.
– Menolak nasihat dan petunjuk, karena merasa cukup dengan logika dan keinginan pribadi.
– Mengabaikan konsekuensi akhirat, karena terlalu terpaku pada kenikmatan dunia.

Pilihan ini sering dibungkus dengan dalih kebebasan, hak individu, atau ekspresi diri. Padahal, kebebasan sejati adalah tunduk kepada kebenaran, bukan tunduk kepada hawa nafsu.

Surga: Tujuan yang Layak Diperjuangkan
Surga bukan hadiah instan, melainkan buah dari:
– Keikhlasan dalam beribadah dan berbuat baik
– Kesabaran dalam menghadapi ujian
– Ketundukan kepada Allah dan Rasul-Nya
– Komitmen terhadap nilai-nilai kebenaran, meski bertentangan dengan arus zaman

Jika ada yang “memaksa” kita ke arah ini—baik melalui nasihat, pendidikan, atau lingkungan yang saleh—maka itu adalah bentuk kasih sayang, bukan pengekangan.

Pilihan yang Menyelamatkan
Lebih baik dipaksa masuk surga daripada sukarela masuk neraka—karena paksaan menuju kebaikan adalah bentuk cinta, sedangkan kesukarelaan menuju keburukan adalah bentuk kelalaian. Mari kita syukuri orang-orang yang “memaksa” kita untuk shalat, belajar, bersabar, dan berbuat baik. Mereka adalah penjaga fitrah kita.

Dan jika kita merasa berat di jalan kebaikan, ingatlah: surga itu mahal, dan neraka itu nyata. Maka, biarlah kita “dipaksa” oleh cinta, bukan “sukarela” karena lalai.

Refleksi Parenting & Pendidikan:
* “Kadang anak menangis karena disuruh shalat. Tapi kelak, ia akan menangis karena bersyukur pernah diajarkan.”
• “Guru yang tegas dalam kebaikan adalah penjaga masa depan muridnya.”

Pertanyaan Reflektif:
• Apakah aku sedang berjalan menuju surga atau menjauh darinya?
• Siapa yang “memaksa” aku dalam kebaikan, dan sudahkah aku berterima kasih?
• Apakah aku membiarkan anak/murid memilih jalan yang menyenangkan tapi berbahaya?

Mari jadi “pemaksa” yang penuh cinta—yang menuntun, bukan menekan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search