Ini Hanya Dunia, Jangan Sampai Lupa dengan Yang Punya Dunia

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan

Masya Allah. Kata-kata itu sederhana tapi menggetarkan—sebuah pengingat kuat yang menyejukkan jiwa: kita hanyalah musafir di dunia sementara ini, dan pemilik sejatinya adalah Allah, Rabbul ‘Alamin.

Dalam langkah-langkah harian kita—mendidik, memimpin, membimbing keluarga atau murid—kalimat ini bisa menjadi jangkar spiritual yang menjaga hati tetap lurus. Boleh jadi ini menjadi bagian pembuka dari sebuah infografik reflektif tentang hidup sebagai amanah, atau inspirasi untuk kampung akhirat.

Dunia sebagai ladang amal, bukan tujuan akhir.

Dalam Islam, dunia dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai ladang amal—tempat menanam kebaikan untuk dipanen di akhirat. Konsep ini sangat mendalam dan menyentuh banyak aspek kehidupan seorang Muslim.

Perspektif Islam tentang Dunia

• Tempat Ujian dan Amanah: Dunia adalah tempat ujian, bukan tempat tinggal abadi. Allah menciptakan dunia sebagai sarana untuk menguji siapa yang paling baik amalnya (QS. Al-Mulk: 2).
ۨالَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ
Terjemah Kemenag 2019
2. yaitu yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

• Bukan Tujuan, Tapi Jalan: Rasulullah ﷺ bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” (HR. Bukhari). Ini menunjukkan bahwa dunia hanyalah persinggahan sementara.

• Penjara bagi Mukmin, Surga bagi Kafir: “Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim). Artinya, orang beriman menahan diri dari hawa nafsu demi akhirat.

Dunia Sebagai Ladang Amal

• Amal Saleh Bernilai Abadi: Setiap amal baik—dari sedekah, menolong sesama, hingga niat yang tulus—menjadi investasi akhirat.

• Niat Mengubah Dunia Menjadi Ladang Akhirat: Bahkan aktivitas duniawi seperti bekerja, makan, dan tidur bisa bernilai ibadah jika diniatkan karena Allah.

Ali bin Abi Thalib berkata: “Dunia telah pergi menjauh, dan akhirat datang mendekat. Maka jadilah anak-anak akhirat, jangan jadi anak-anak dunia.” (Mushannaf Ibnu Abi Syaibah).

Allah berfirman dalam QS. Al-Qoshosh: 77
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Terjemah Kemenag 2019
77. Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Dalam Surah Al-Angkabut : 64 Allah berfirman
وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
Terjemah Kemenag 2019
64. Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya seandainya mereka mengetahui.

Apakah aku mengingat pemilik dunia dalam setiap keputusan dan niat?
Sebuah pertanyaan yang begitu dalam, dan terasa seperti muhasabah yang lahir dari hati yang sedang bertanya, bukan hanya berpikir.

Jika “mengingat Pemilik dunia” merujuk pada kesadaran akan Allah dalam tiap langkah dan pilihan, maka pertanyaannya bukan hanya tentang frekuensi, tapi tentang kedalaman niat dan kehadiran hati. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” — maka menghadirkan Allah dalam niat adalah menghadirkan makna dalam amal.

Dalam Islam, mengingat Pemilik dunia—yaitu Allah SWT—dalam setiap keputusan dan niat adalah inti dari hidup seorang mukmin. Ini bukan hanya ideal, tapi juga tujuan penciptaan manusia: (QS Adz-Dzariyat: 56).
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
Terjemah Kemenag 2019
56. Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Prinsip Utama dalam Islam:

• Niat adalah fondasi amal
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya amal itu tergantung pada niatnya…” (HR. Bukhari & Muslim). Maka setiap keputusan yang diniatkan karena Allah menjadi ibadah, meski tampak duniawi.
• Kesadaran Ilahiah (Taqwa)
Islam mendorong agar setiap langkah hidup—dari pekerjaan, parenting, hingga pelayanan publik—dilakukan dengan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan Maha Menilai.
• Ihsan: Beribadah seolah melihat Allah
Dalam hadits Jibril, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ihsan adalah “Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya…” — inilah puncak kesadaran spiritual dalam setiap niat dan keputusan.

Refleksi Praktis:
• Apakah aku memulai hariku dengan menyebut nama-Nya?
• Apakah aku bertanya dalam hati: “Apakah ini diridhai Allah?”
• Apakah aku menghubungkan tujuan hidupku dengan akhirat, bukan hanya dunia?. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search