Tingginya harga mesin sangrai kopi modern, yang umumnya berukuran besar, belum sepenuhnya elektrik, dan dibanderol puluhan hingga ratusan juta rupiah, masih menjadi kendala utama bagi pelaku UMKM kopi di Indonesia, khususnya kafe kecil dan industri rumahan.
Padahal, kualitas sangrai sangat menentukan cita rasa dan nilai jual kopi, baik di pasar domestik maupun ekspor.
Menanggapi permasalahan tersebut, Ir. Rinasa Agistya Anugrah, S.Pd, M.Eng, dosen Program Studi Teknologi Rekayasa Otomotif, Teknik Mesin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), bersama timnya mengembangkan inovasi berupa mesin sangrai biji kopi otomatis dan portabel.
Alat ini dirancang untuk mempermudah proses sangrai dengan sistem otomatis yang efisien, praktis, dan terjangkau, sehingga pelaku usaha kecil tetap dapat memproduksi kopi berkualitas tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
“Selama ini, mesin sangrai kopi yang tersedia ukurannya besar dan harganya mahal, bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah. Ini tentu memberatkan pelaku UMKM atau kafe kecil yang ingin menyangrai kopi sendiri,” jelas Rinasa seperti dilansir di laman resmi UMY, pada Senin (23/6/2025).
Berdasarkan pengamatannya, banyak kafe di Yogyakarta terpaksa membeli mesin roasting bekas seharga Rp 35 juta hingga Rp 50 juta, sedangkan mesin baru bisa menembus harga lebih dari Rp100 juta. Padahal, kebutuhan mereka cukup kecil, yakni hanya sekitar satu kilogram kopi per proses sangrai.
“Oleh karena itu, kami merancang mesin kecil berkapasitas maksimal satu kilogram, otomatis mati saat kopi matang, dan harganya jauh lebih terjangkau, sekitar Rp 4,5 juta hingga Rp 5 juta,” lanjutnya.
Mesin sangrai buatan tim UMY ini berukuran ringkas, hanya sekitar 50 cm panjang dan 25 cm lebar, sehingga mudah dipindahkan alias portabel.
Mesin ini dilengkapi pemanas elektrik, tabung sangrai yang berputar otomatis, serta fitur pengatur suhu dan waktu berbasis mikrokontroler.
“Kalau mesin konvensional harus diawasi terus karena risiko gosong. Tapi dengan alat ini, pengguna cukup mengatur suhu dan waktu, lalu mesin akan berhenti otomatis. Tingkat kematangan pun bisa disesuaikan: Light, medium, atau dark roast,” jelas Rinasa.
Untuk menjaga kualitas aroma dan rasa, mesin ini juga dilengkapi sistem pendingin berupa wadah dan kipas otomatis yang menurunkan suhu biji kopi pasca-sangrai.
Prototipe ini dikembangkan dalam waktu sekitar empat bulan dan sekaligus menjadi bagian dari tugas akhir mahasiswa bimbingan Rinasa.
Proses perancangan menggabungkan aspek mekanik dan sistem kontrol elektronik, meski diakui, tim sempat mengalami tantangan dalam penguasaan sistem otomatisasi.
“Dasar kami teknik mesin, jadi untuk sistem kontrol elektrik kami perlu belajar dan riset terlebih dahulu. Tapi justru dari sinilah kami melihat pentingnya kolaborasi lintas bidang,” ujarnya.
Mesin ini telah diuji coba di salah satu kafe di Yogyakarta dan mendapat respons positif. Menurut Rinasa, cita rasa kopi yang dihasilkan tidak kalah dari mesin komersial, bahkan beberapa pelaku usaha menunjukkan minat untuk membeli, meski alat ini masih dalam tahap prototipe dan belum diproduksi massal.
Ke depannya, Rinasa dan tim berharap dapat mengembangkan versi lanjutan mesin ini yang mampu menyesuaikan proses sangrai secara otomatis berdasarkan karakteristik masing-masing biji kopi, seperti kadar air dan varietas yang berbeda.
“Setiap kopi punya karakter unik. Bahkan dari lahan yang sama, kadar airnya bisa berbeda. Itu jadi PR kami berikutnya, yakni bagaimana membuat alat ini semakin presisi dan adaptif tanpa perlu penyesuaian manual,” pungkasnya. (*/wh)
