Inspiratif! Ibu Rumah Tangga Ini Lulus S2 Magister Akuntansi UMY dengan IPK 4,00 dan 2 Publikasi Ilmiah

www.majelistabligh.id -

Di balik sorotan lampu panggung wisuda Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), berdiri sosok perempuan muda yang wajahnya memancarkan kebahagiaan dan keteguhan hati.

Dialah Kiky Puji Lestari, M.Ak, seorang ibu rumah tangga yang berhasil menaklukkan tantangan pendidikan tinggi dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Magister Akuntansi (Magsi) UMY.

Kiky bukan hanya lulus dengan predikat cumlaude dan Indeks Prestasi Kumulatif sempurna — 4,00, tapi juga telah menorehkan dua publikasi ilmiah di jurnal bereputasi nasional, yakni Jurnal Riset Akuntansi dan Bisnis (JRAK) dan Journal of Accounting and Investment (JAI) yang terindeks Sinta 2.

Pencapaian tersebut terasa lebih istimewa karena diperolehnya hanya dalam tiga semester — waktu yang terbilang cepat untuk jenjang magister.

Namun, kisah sukses ini tidak datang tanpa perjuangan.

Sebelum memutuskan melanjutkan pendidikan, Kiky telah menjalani karier di dunia perbankan selama hampir tujuh tahun. Posisi terakhirnya adalah sebagai Account Officer di PT. BPR Bhakti Daya Ekonomi (BDE), sebuah lembaga perbankan di Yogyakarta.

Namun, di balik rutinitas dan stabilitas pekerjaan, Kiky mulai merasakan sesuatu yang mengganggu: kehausan akan ilmu dan pengalaman baru.

“Saya merasa sudah bekerja hampir tujuh tahun, sementara lingkungan dan ilmu saya itu stuck di situ saja,” ujarnya jujur seperti dilansir di laman resmi UMY, pada Selasa (17/6/2025).

Ketika sebagian orang mungkin memilih tetap nyaman di jalur kariernya, Kiky justru mengambil keputusan berani: meninggalkan pekerjaan dan kembali ke bangku kuliah.

Keputusan itu tidak diambil dalam kondisi yang mudah. Kiky saat itu tengah mengandung anak pertamanya, dan tak lama kemudian memutuskan untuk fokus sebagai ibu rumah tangga penuh waktu.

Namun peran sebagai IRT tidak menyurutkan langkahnya. Justru menjadi cambuk untuk membuktikan bahwa perempuan bisa tetap berdaya, bahkan di rumah.

“Alhamdulillah selama ini tidak terganggu, pintar-pintar bagi waktu aja. Siang bekerja, malam kuliah dan ngerjain tugas. Dan ketika sudah jadi IRT, tesis saya sudah selesai,” kenangnya dengan bangga.

Enam tahun setelah lulus dari S1 Akuntansi di Universitas Teknologi Yogyakarta (UTY), Kiky mengakui ada rasa minder saat kembali ke ruang kelas. Ia harus beradaptasi dengan pola pikir akademik yang lebih tajam dan cepat, ditambah lagi teman-teman sekelasnya berasal dari berbagai latar belakang profesional yang kuat.

“Teman-teman di angkatan saya hebat-hebat. Ada yang dosen, auditor, bahkan pegawai kementerian. Saya sempat merasa malu kalau tidak bisa mengikuti pelajaran,” ujarnya.

Namun perasaan itu tidak membuatnya mundur. Justru menjadi motivasi untuk belajar lebih keras, mengikuti perkembangan ilmu terkini, dan menyelesaikan setiap tantangan akademik dengan maksimal.

Perjuangan Kiky berbuah manis. Ia bukan hanya menuntaskan tesis dengan tepat waktu, tapi juga berhasil menerbitkan artikelnya di jurnal ilmiah terakreditasi. Capaian yang tidak mudah, apalagi bagi mahasiswa magister yang juga harus mengurus rumah tangga.

Kiky membuktikan bahwa IRT pun bisa produktif secara akademik, dan bahwa pendidikan tinggi bukan hanya milik mereka yang bekerja di luar rumah.

Setelah wisuda, Kiky belum langsung kembali ke dunia kerja. Ia memilih menikmati masa-masa awal sebagai ibu dan mendampingi buah hatinya tumbuh. Namun bukan berarti kariernya berakhir di situ.

“Untuk yang terdekat ini masih menjadi full IRT dahulu. Tapi kalau ada pembukaan CPNS atau peluang kerja lainnya, saya tetap akan coba daftar,” ungkapnya.

Di akhir perbincangan, Kiky menyampaikan pesan yang menginspirasi banyak perempuan, khususnya para ibu rumah tangga.

“Jadi IRT itu tidak ada salahnya. Kita di rumah itu mendidik anak, dan wawasan dari pendidikan itu sangat bermanfaat untuk anak kita. Kalau ada kesempatan kuliah lagi, ambil saja. Karena saat kita kembali bekerja, itu semua pasti akan berguna,” tutupnya.

Kisah Kiky adalah cermin bahwa setiap perempuan memiliki kekuatan dalam dirinya untuk tumbuh dan berkembang, terlepas dari peran sosial yang disandangnya.

Menjadi ibu rumah tangga bukan berarti menutup pintu pencapaian. Justru bisa menjadi ladang baru untuk membuktikan bahwa belajar dan berkontribusi adalah hak setiap insan, di mana pun ia berada. (*

Tinggalkan Balasan

Search