Isfahan dan Fitnah Akhir Zaman: Studi atas Hadis 70.000 Pengikut Dajjal

*) Oleh : Moh. Mas’al, S.HI. M.Ag
Kepala sekolah SMP Al Fattah dan Anggota MTT PDM Sidoarjo
www.majelistabligh.id -

Pembahasan tentang al-Masīḥ ad-Dajjāl merupakan bagian penting dalam kajian eskatologi Islam (‘ilm asyrāṭ as-sā‘ah). Salah satu riwayat sahih yang sering menjadi perhatian para ulama adalah hadis tentang 70.000 orang yang akan mengikuti Dajjal dari Isfahan.

Riwayat ini memiliki signifikansi teologis sekaligus historis karena menyebutkan identitas komunitas dan lokasi geografis tertentu. Tulisan ini bertujuan menelaah teks hadis tersebut, memahami penjelasan ulama klasik, serta meninjau pandangan ulama kontemporer dalam memaknainya secara proporsional.

Rasulullah ﷺ bersabda:

يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُودِ أَصْبَهَانَ سَبْعُونَ أَلْفًا، عَلَيْهِمُ الطَّيَالِسَةُ

Dajjal akan diikuti oleh tujuh puluh ribu orang Yahudi dari Isfahan, mereka memakai thiyālisah (semacam kain penutup kepala).”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Ṣaḥīḥ Muslim, Kitāb al-Fitan wa Ashrāṭ as-Sā‘ah. Statusnya sahih dan diterima oleh para ulama Ahlus Sunnah.

Isfahan merupakan kota tua di wilayah Persia. Dalam sebagian riwayat disebutkan bahwa mereka berasal dari perkampungan Yahudi yang dikenal dengan nama al-Yahūdiyyah. Penyebutan geografis ini menunjukkan bahwa hadis tersebut bersifat deskriptif, bukan simbolik.

Penjelasan Ulama Klasik

  1. Imam An-Nawawi

Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa kata thiyālisah adalah bentuk jamak dari ṭaylasān, yaitu pakaian atau selendang yang biasa dipakai oleh sebagian masyarakat saat itu. Tidak terdapat indikasi bahwa penyebutan pakaian tersebut memiliki makna metaforis. Beliau juga menegaskan bahwa angka 70.000 dipahami secara hakiki karena tidak ada dalil yang memalingkannya kepada makna simbolik.

An-Nawawi menekankan bahwa hadis ini tidak berarti seluruh Yahudi akan mengikuti Dajjal, melainkan kelompok tertentu pada masa kemunculannya.

  1. Ibnu Katsir

Dalam karya eskatologisnya, Ibnu Katsir mengaitkan dominasi pengikut Dajjal dari kalangan Yahudi dengan konsep mesianisme yang berkembang dalam sebagian tradisi mereka. Ketika Dajjal muncul dengan klaim ketuhanan dan kemampuan luar biasa, sebagian manusia yang lemah iman akan tertipu.

Ibnu Katsir juga mengingatkan bahwa fitnah Dajjal adalah ujian terbesar sejak penciptaan Nabi Adam عليه السلام.

  1. Al-Qurthubi

Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah menjelaskan bahwa riwayat ini menunjukkan kedahsyatan fitnah Dajjal yang mampu menarik pengikut dalam jumlah besar. Ia menekankan pentingnya memperkuat iman dan memohon perlindungan dari fitnah tersebut.

Pandangan Ulama Kontemporer

  1. Umar Sulaiman al-Asyqar

Umar Sulaiman al-Asyqar menegaskan bahwa riwayat ini termasuk bagian dari nash sahih yang wajib diimani tanpa takwil spekulatif. Menurutnya, kaum Muslimin tidak boleh tergesa-gesa mengaitkan hadis ini dengan dinamika politik modern sebelum tanda-tanda besar kiamat benar-benar terjadi.

  1. Yusuf al-Wabil

Yusuf al-Wabil dalam kajiannya tentang tanda-tanda kiamat menjelaskan bahwa keberadaan komunitas Yahudi di Persia merupakan fakta historis. Namun ia mengingatkan agar hadis ini tidak dijadikan legitimasi kebencian kolektif, karena yang dimaksud adalah peristiwa khusus di akhir zaman.

  1. Wahbah az-Zuhaili

Pakar fikih dan tafsir asal Suriah, Wahbah az-Zuhaili, menekankan bahwa seluruh riwayat tentang Dajjal harus dipahami dalam kerangka akidah yang seimbang: mengimani tanpa berlebihan dan tanpa menjadikannya alat propaganda politik.

Kesimpulan yang dapat dirumuskan:

  • Hadis ini sahih secara sanad dan matan, karena tercantum dalam Ṣaḥīḥ Muslim.
  • Penyebutan Isfahan bersifat informatif, bukan generalisasi terhadap wilayah tersebut sepanjang sejarah.
  • Jumlah 70.000 menunjukkan skala besar fitnah, menandakan luasnya pengaruh Dajjal.
  • Pesan utama hadis adalah peringatan akidah, bukan isu etnis atau geopolitik.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan doa perlindungan dari fitnah Dajjal dalam setiap salat:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

Hal ini menunjukkan bahwa fokus utama ajaran adalah kesiapan iman, bukan spekulasi politik.

Penutup

Hadis tentang 70.000 pengikut Dajjal dari Isfahan merupakan bagian integral dari narasi eskatologi Islam. Para ulama klasik seperti An-Nawawi, Ibnu Katsir, dan Al-Qurthubi memahaminya secara literal dalam bingkai akidah Ahlus Sunnah, sedangkan ulama kontemporer seperti Umar Sulaiman al-Asyqar menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam mengaitkannya dengan realitas modern.

Dengan demikian, hadis ini lebih tepat dipahami sebagai peringatan spiritual agar umat Islam memperkuat iman dan memohon perlindungan dari fitnah terbesar di akhir zaman. (*)

Tinggalkan Balasan

Search