Setiap manusia memiliki kepandaian dan kelebihan masing-masing. Ada yang pandai berbicara, namun kesulitan menuangkan gagasannya ke dalam bentuk tulisan.
Ada yang mahir menulis, tapi tidak mampu berceramah. Ada yang gemar bersedekah, namun kurang mampu menghargai orang lain.
Sebaliknya, ada pula yang pandai menghargai orang lain, tetapi belum mampu bersedekah.
Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada manusia yang sempurna dalam amal salehnya. Namun sayangnya, sebagian dari kita justru dengan mudah menghakimi.
Kita mengatakan, “Ceramah si Fulan tidak enak didengar,” atau sebaliknya, “Ceramah si Fulan sangat menarik.”
Padahal, orang yang menghakimi itu sendiri belum tentu mampu berceramah, bahkan belum tentu memiliki kemauan untuk menyeru manusia kepada kebaikan sebagaimana diperintahkan Allah.
Bersikap idealis tentu tidak salah. Tetapi idealisme tidak seharusnya menjadi alasan untuk berpecah belah.
Apalagi saat ini, kita mulai melihat fenomena munculnya kelompok-kelompok yang gemar menghakimi kelompok lain.
Mereka berkata, “Kelompokmu bukan kelompok kami, karena kelompokmu adalah kelompok kotor, sesat.”
Mereka merasa bahwa hanya kelompok mereka yang benar, paling pantas masuk surga, sementara kelompok lain dianggap layak masuk neraka.
Faham seperti ini, yang sesungguhnya adalah cerminan dari sikap iblis, kini semakin subur di tengah masyarakat.
Ketika ada kajian dan yang menjadi penceramah adalah kiai atau ustaz dari kelompok mereka, mereka akan berbondong-bondong hadir dan menyimak dengan penuh antusias, bahkan terkadang sampai pada tingkat fanatisme yang berlebihan.
Padahal Rasulullah saw melarang sikap melampaui batas dalam memuji seseorang, termasuk beliau sendiri.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:
لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ، فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku sebagaimana kaum Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya. Maka katakanlah: ‘(Muhammad) adalah hamba Allah dan utusan-Nya.” (HR. Bukhari)
Sebaliknya, jika penceramah berasal dari luar kelompok mereka, mereka dengan serta-merta meninggalkan kajian tersebut.
Mereka menuduh sang penceramah sebagai kiai/ustaz yang najis, bid‘ah, sesat, dan sebutan lainnya yang tidak pantas.
Melihat realitas seperti ini, saya pun merenung: Rasulullah saw diutus sebagai rahmatan lil ‘aalamiin, pembawa rahmat bagi seluruh alam.
Maka, sebagai umatnya, sudah seharusnya kita melanjutkan misi itu. Pertanyaannya, apakah kita sudah menjadi rahmat bagi orang lain?
Sejak berdirinya pada 18 November 1912, Muhammadiyah terus berikhtiar untuk mengemban amanah dakwah amar ma’ruf nahi munkar. Melanjutkan misi kenabian Rasulullah saw dengan menebar rahmat bagi seluruh semesta.
Amal usaha Muhammadiyah merupakan perwujudan nyata dari semangat ini, untuk menyejahterakan umat, memberi kebermanfaatan, dan membawa berkah bagi semua. (*)
