*)Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Kalau kalangan Islam liberal menyakini bahwa semua agama benar sehingga mengharuskan seluruh pemeluk agama bersikap toleran, maka hal itu bertentangan dengan apa yang terkandung di Al-Qur’an. Oleh karena itu, anjuran kalangan Islam liberal agar umat Islam tidak mengklaim keyakinan agamanya yang paling benar, justru bertentangan dengan paparan dan narasi Al-Qur’an.
Al-Qur’an justru membongkar keyakinan Yahudi dan Nasrani yang mengklaim agamanya paling benar, dan menganggap pemeluk agama lain sebagai kelompok menyimpang dan tak akan masuk surga. Dengan kata lain, klaim semua agama benar justru bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an yang mengakui bahwa hanya Islam yang diakui kebenarannya oleh Allah.
Islam Liberal dan Toleransi Beragama
Kalangan penganut Islam liberal mendorong seluruh pemeluk agama bersikap toleran sehingga terjadi keteduhan dalam beragama. Hal ini dilatarbelakangi adanya klaim kebenaran yang dilakukan oleh sebagian kelompok Islam sehingga tidak membuka ruang perbedaan. Islam liberal adalah suatu gerakan pemikiran keagamaan yang menekankan pada interpretasi yang lebih bebas dari Al-Qur’an dan Hadis serta menyambut ideologi sekuler, pluralisme, dan kemajuan sosial.
Ciri khas dari Islam liberal adalah menganggap bahwa agama seharusnya digunakan untuk mempromosikan kesetaraan, pembangunan sosial, dan hak asasi manusia. Gerakan ini juga menekankan pada pentingnya menghargai perbedaan, termasuk perbedaan agama, budaya, dan ras. Islam liberal menekankan pada pemahaman modern tentang ilmu pengetahuan dan filsafat, menerima peran agama yang terbatas dalam kehidupan publik, mempromosikan hubungan antara pemeluk agama yang berbeda untuk membangun kerukunan dan saling memahami, serta mengkritik pemahaman tradisional tentang agama Islam, termasuk penafsiran yang kaku dan fundamentalis.
Pandangan ini melahirkan pemahaman yang berbeda dengan yang selama ini menjadi keyakinan umat Islam pada umumnya. Di antaranya semua agama memiliki standar masing-masing, sehingga harus saling toleransi dan tidak mengklaim agamanya paling benar. Padahal pandangan ini bertentangan dengan apa yang diyakini oleh Yahudi maupun Nasrani. Kedua pandangan agama ini sangat khas dan mengklaim agamanya paling benar dan pemeluk agama lain salah dan tak memiliki legitimasi yang kuat. Al-Qur’am mengabadikan hal itu sebagaimana firman-Nya :
وَقَالُواْ لَن يَدۡخُلَ ٱلۡجَنَّةَ إِلَّا مَن كَانَ هُودًا أَوۡ نَصَٰرَىٰ ۗ تِلۡكَ أَمَانِيُّهُمۡ ۗ قُلۡ هَاتُواْ بُرۡهَٰنَكُمۡ إِن كُنتُمۡ صَٰدِقِينَ
Artinya:
Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS. Al-Baqarah : 111)
Baca juga: Pluralisme dalam Perspektif Islam: Antara Toleransi dan Ancaman Akidah
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa kalangan Yahudi dan Nasrasi mengklaim agama lain di jalan yang sesat, dan jauh dari kebenaran. Mereka mengklaim agamanya paling benar dan berada di atas petunjuk. Mereka pun mengklaim masuk surga dan pemeluk agama selain mereka masuk jurang neraka.
Al-Qur’an juga menegaskan bahwa orang Yahudi mengklaim berada di atas petunjuk dan Nasrani di atas kesesata. Demikian pula sebaliknya, Nasrani meyakini sebagai kelompok yang berhak di atas petunjuk, dan kelompok Yahudi di atas kesesata, Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَقَالَتِ ٱلۡيَهُودُ لَيۡسَتِ ٱلنَّصَٰرَىٰ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَقَالَتِ ٱلنَّصَٰرَىٰ لَيۡسَتِ ٱلۡيَهُودُ عَلَىٰ شَيۡءٖ وَهُمۡ يَتۡلُونَ ٱلۡكِتَٰبَ ۗ كَذَٰلِكَ قَالَ ٱلَّذِينَ لَا يَعۡلَمُونَ مِثۡلَ قَوۡلِهِمۡ ۚ فَٱللَّهُ يَحۡكُمُ بَيۡنَهُمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ فِيمَا كَانُواْ فِيهِ يَخۡتَلِفُونَ
Artinya:
Dan orang-orang Yahudi berkata, “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata, “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan”, padahal mereka (sama-sama) membaca Alkitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. Al-Baqarah : 113)
Al-Qur’an memvonis Yahudi dan Nasrani hanya mengklaim, sementara faktanya jauh dari kebenaran. Allah akan mengadili dan memastikan kesalahan keyakinan itu, serta akan membeberkan d hari kiamat kelak.
Islam sebagai Agama Final
Kalau Islam Liberal berpandangan bahwa semua agama benar dan tidak memperbolehkan pemeluk agama mengklaim keyakinannya paling benar, ternyata dibantah oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an mengabadikan pesan terakhir kepada Nabi Ya’kub agar anak keturunannya berpegang teguh pada agama yang benar dengan Tuhan yang Tunggal. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
أَمۡ كُنتُمۡ شُهَدَآءَ إِذۡ حَضَرَ يَعۡقُوبَ ٱلۡمَوۡتُ إِذۡ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعۡبُدُونَ مِنۢ بَعۡدِي ۖ قَالُواْ نَعۡبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبۡرَٰهِـۧمَ وَإِسۡمَٰعِيلَ وَإِسۡحَٰقَ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗا وَنَحۡنُ لَهُۥ مُسۡلِمُونَ
Artinya:
Adakah kamu hadir ketika Ya’qūb kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab, “Kami akan menyembah Tuhan-mu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Isma’il dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”. (QS. Al-Baqarah : 133)
Al-Quran juga menegaskan bahwa mereka menyerahkan hidupnya dalam berserah diri pada Allah (Islam) maka dia akan dalam situasi ketenangan dan tidak ada kesedihan yang neresahkan hatinya. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
بَلَىٰ ۚ مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِنٞ فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ
Artinya:
(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhan-nya, dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah :112)
Gagasan Islam liberal bukan hanya rancu tetap penuh dengan pertentangan. Klaim bahwa semua agama sama dan tidak boleh mengklaim paling benar justru bertentangan dengan fakta yang ditunjukkan Al-Qur’an. Al-Qur’an membeberkan fakta bahwa masing-masing penganut agama, Yahudi atau Nasrani, mengklaim dirinya paling benar dan memerangi kelompok penganut agama lain karena tidak berada di atas petunjuk. Al-Qur’an justru menuturkan bahwa Yahudi-Nasrani sangat tidak toleran karena meyakini sebagai pewaris Tunggal atas surga.
Sementara Al-Qur’an menyatakan bahwa Islam sebagai agama di atas kebenaran, sehingga sangat pantas apabila umat Islam mengklaim agamanya paling benar karena berada di atas petunjuk dari Sang Pemilik kebenaran, yakni Allah.
Surabaya, 1 Maret 2025