Isra Mikraj dalam Bingkai Dakwah dan Epistemologi Qur’ani

*) Oleh : M. Hidayatulloh
PRM Berbek Waru Sidoarjo dan Pengasuh kajian rutin tafsir Al Qur'an di masjid Al Huda Berbek
www.majelistabligh.id -

Peristiwa  Isra Mikraj merupakan salah satu momen agung dalam sejarah kenabian yang selalu mengundang perenungan mendalam. Dari generasi ke generasi, umat Islam memaknainya sebagai tanda kebesaran Allah sekaligus penguat keimanan. Di masa kini, sebagian kalangan mencoba mendekati peristiwa tersebut melalui bahasa ilmu pengetahuan modern. Hal ini dapat dipahami sebagai bentuk ikhtiar akal manusia untuk mendekat kepada realitas yang melampaui pengalaman sehari-hari.

Namun Al-Qur’an menghadirkan  Isra Mikraj dengan pendekatan yang sangat khas dan penuh ketenangan. Kisah ini tidak disertai penjelasan teknis tentang mekanisme perjalanan, tetapi dibuka dengan kalimat tasbih: Subḥāna. Sebuah isyarat bahwa peristiwa ini berada dalam wilayah kekuasaan Allah yang Mahasuci, dan tidak dibebankan kepada akal manusia untuk dijelaskan secara rinci.

Dalam perspektif dakwah, hal ini penting ditegaskan agar umat memahami bahwa iman tidak pernah dijadikan beban intelektual. Kebenaran wahyu tidak bergantung pada sejauh mana seseorang memahami teori-teori ilmiah. Al-Qur’an dapat dipahami dan diimani oleh siapa pun—baik yang mendalami sains, maupun yang sederhana dalam pengetahuan—tanpa mengurangi nilai kebenarannya sedikit pun.

Prinsip ini sejalan dengan perintah Iqra’ bismi rabbik. Islam mengajarkan umatnya untuk membaca dan memahami realitas dalam bingkai tauhid. Akal diberi ruang untuk berpikir dan bertanya, tetapi juga diberi tuntunan agar tidak bekerja di luar kapasitasnya. Dengan demikian, akal dimuliakan, iman diteguhkan, dan manusia tidak dibebani kewajiban memahami segala sesuatu secara total.

Isra Mikraj juga tidak berdiri sendiri dalam narasi Al-Qur’an. Kitab suci ini memuat banyak peristiwa luar biasa yang melampaui hukum sebab-akibat biasa: api yang tidak membakar Nabi Ibrahim, laut yang terbelah bagi Nabi Musa, tongkat yang berubah menjadi ular, kelahiran Nabi ‘Isa tanpa ayah serta kemampuannya menghidupkan orang mati dengan izin Allah, hingga kisah Maryam yang menerima rezeki tanpa sebab material yang kasatmata. Bahkan Al-Qur’an menuturkan tentang seorang hamba yang memiliki ilmu dari Kitab yang mampu memindahkan singgasana Ratu Bilqis sebelum mata berkedip.

Menariknya, seluruh peristiwa tersebut disampaikan tanpa penjelasan teknis tentang bagaimana caranya. Fokus Al-Qur’an bukan pada mekanisme, melainkan pada sumbernya: kehendak dan kekuasaan Allah. Mukjizat-mukjizat itu berfungsi sebagai penguat iman dan penenang hati, bukan sebagai beban rasional yang harus dipikul oleh setiap mukmin.

Puncak  Isra Mikraj pun memperjelas tujuan dakwahnya. Dari peristiwa yang melampaui nalar biasa, Allah menurunkan perintah shalat—ibadah yang sangat membumi, dapat dilaksanakan oleh seluruh umat Islam, tanpa prasyarat pengetahuan ilmiah apa pun. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak mempersulit umatnya, dan tidak menjadikan iman sebagai urusan yang memberatkan.

Dalam konteks inilah pentingnya pemahaman epistemologis Qur’ani bagi kegiatan tabligh. Dakwah tidak hanya menyampaikan isi ajaran, tetapi juga menata cara umat memahami kebenaran. Hubungan antara wahyu, akal, dan pengalaman hidup perlu ditempatkan secara proporsional agar keimanan tumbuh dengan tenang dan rasionalitas tetap berada dalam bingkai tauhid. Pendekatan ini menjadi bagian dari ikhtiar keilmuan yang terus dikembangkan dalam kajian Epistemologi Qur’ani, sebagai upaya membangun pemahaman Islam yang utuh dan berkesinambungan.

Akhirnya,  Isra Mikraj mengajarkan kepada kita bahwa ada saatnya akal bertanya dengan penuh takjub, dan ada saatnya ia beristirahat dalam ketundukan. Di sanalah wahyu dalam Al-Qur’an hadir bukan untuk membebani manusia, tetapi untuk membimbingnya menuju keteguhan iman, ketenangan batin, dan keikhlasan dalam beribadah. (*)

Tinggalkan Balasan

Search