Isra Mikraj: Puncak Perjalanan Ruhani

*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Alumni Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah dan anggota MT PCM Merden Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Isra Mikraj merupakan peristiwa agung yang hanya dilakukan oleh Nabi Muhammad saw atas kehendak Allah Swt. Peristiwa ini merupakan fenomena langka dan sekaligus luar biasa yang tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa. Isra Mikraj yang dilakukan Nabi Muhammad saw sekaligus merupakan mukjizat baginya.

Peristiwa Isra Mikraj juga sebagai tonggak penting dalam dakwah Nabi Muhammad saw dimana beliau mendapat perintah salat lima waktu secara langsung dari Allah Swt. Hal ini membedakan antara ibadah salat dengan ibadah lainnya. Biasanya perintah ibadah selain salat melalui perantara Malaikat Jibril, namun ibadah salat lima waktu langsung dari Allah Swt. Maka tidak berlebihan bila dikatakan bahwa salat lima waktu adalah ibadah yang spesial.

Peristiwa  Isra Mikraj bukanlah cerita apalagi dongeng khayalan, melainkan benar adanya. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam al Qur`an surat al isra berikut:

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ

Artinya: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaksa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra: 1).

Ayat di atas menerangkan bahwa  Isra Mikraj Nabi Muhammad saw dimulai dari Masjidil Haram (Makkah) ke Masjidil Aqsa (Palestian) pada malam hari. Pada peristiwa tersebut Rasulullah diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaa Allah sebagai i`tibar. Terkait dengan ini, Allah Swt menegaskan dalam al Qur`an Surah An-Najm ayat 17-18:

مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغٰى لَقَدْ رَاٰى مِنْ اٰيٰتِ رَبِّهِ الْكُبْرٰى

Artinya: “Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dan tidak melampaui (apa yang dilihatnya). Sungguh, dia telah melihat sebagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.” (An-Najm ayat 17-18).

Pada peristiwa  Isra Mikraj Nabi saw menerima amanat untuk menunaikan salat sebanyak lima puluh waktu. Setelah mengalami “tawar menawar” akhirnya menjadi lima waktu. Hal ini seperti dinyatakan oleh Nabi saw dalam sabdanya:

فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِي خَمْسِينَ صَلَاةً فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى أَمُرَّ بِمُوسَى فَقَالَ مَا فَرَضَ اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ فَرَضَ خَمْسِينَ صَلَاةً قَالَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ فَإِنَّ أُمَّتَكَ لَا تُطِيقُ ذَلِكَ…

Artinya: “…Lalu Allah mewajibkan atas umatku lima puluh salat. Maka aku kembali dengan membawa perintah itu hingga aku melewati Musa. Musa bertanya, ‘Apa yang Allah wajibkan bagi umatmu?’ Aku menjawab, ‘Dia mewajibkan lima puluh salat.’ Musa berkata, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, karena umatmu tidak akan sanggup melakukannya…'” (Hingga akhirnya menjadi lima waktu namun pahalanya tetap lima puluh).(HR. Bukhori Muslim).

Peristiwa ini diawali dengan penyucian hati Nabi oleh malaikat Jibril menggunakan air zamzam. Ini adalah isyarat bahwa untuk menghadap Allah Swt (Mikraj), seseorang harus memiliki hati yang bersih. Perjalanan dari Makkah ke Palestina (Isra) melambangkan hubungan horizontal antarmanusia dan sejarah kenabian, sementara Mikraj ke langit ke tujuh melambangkan hubungan vertikal yang mutlak kepada Sang Pencipta.

Puncak dari segala perjalanan itu bukanlah melihat surga atau neraka, melainkan menerima mandat salat. Salat adalah “hadiah” yang dibawa Nabi dari langit untuk umatnya agar manusia tetap memiliki akses komunikasi langsung dengan Allah tanpa perantara.

Para ulama sufi dan ahli fiqih sering menyebutkan: “Ash-salatu Mi’rajul Mu’minin” (Salat adalah Mikraj-nya orang-orang beriman). Jika Nabi Muhammad secara fisik naik ke Sidratulmuntaha, maka umatnya melakukan “perjalanan ruhani” menuju Allah setiap kali mereka berdiri di atas sajadah.

Kemuliaan salat terletak pada kedudukannya sebagai tiang agama. Rasulullah saw bersabda:

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ

Artinya: “Pembatas antara seseorang dengan syirik dan kekufuran adalah meninggalkan salat.” (HR. Muslim)

Salat menjadi tolok ukur pertama kebaikan seseorang. Jika salatnya mulia dan terjaga, maka seluruh amal lainnya akan ikut mulia. Dan sebaliknya, bila salatnya buruk, maka buruk pula seluruh amalnya.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah menjelaskan bahwa Dia membagi surah Al-Fatihah dalam salat menjadi dua bagian: untuk Diri-Nya dan untuk hamba-Nya. Saat kita berucap “Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin”, Allah langsung menjawab, “Hamba-Ku memuji-Ku.” Inilah kemuliaan luar biasa di mana seorang manusia yang rendah dapat berdialog langsung dengan Penguasa Semesta Alam.

Kemuliaan salat juga nampak pada fungsinya sebagai penolong. Allah berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 45:

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ

Artinya: “Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu.” (Al-Baqarah: 45).

Bagi mereka yang memahami esensi Isra Mikraj, salat bukan lagi beban (taklif), melainkan kebutuhan (hajah). Salat menjadi ruang jeda dari kebisingan dunia, tempat mengadu, dan sarana meraih ketenangan jiwa. Di zaman yang serba cepat dan penuh distraksi ini, peristiwa Isra Mikraj mengajarkan kita tentang pentingnya “berhenti sejenak”. Salat lima waktu adalah waktu istirahat yang sesungguhnya.

Salat lima waktu yang kita kerjakan mestinya bukan sekedar gugur kewajiban, akan tetapi harus dilakukan dengan ikhas dan khusuk sehingga dapat merasakan nikmatnya salat. Lebih dari itu, selanjutnya dapat menerapkan nilai-nilai salat dalam kehidupan sehari hari.

Beberapa nilai dan manfaat yang terkandung dalam salat lima waktu di antaranya; disiplin waktu, kesehatan mental dan penyucian sosial.

Salat melatih manusia menghargai waktu, sebagaimana perjalanan Isra Mikraj yang dilakukan dalam waktu sangat singkat namun sarat makna.

Gerakan salat yang dilakukan dengan tumakninah serta bacaan yang khusuk merupakan bentuk meditasi tertinggi yang mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.

Salat yang mulia adalah salat yang mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar (QS. Al-Ankabut: 45). Artinya, kemuliaan salat harus bertransformasi menjadi kemuliaan akhlak di tengah masyarakat.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa peristiwa Isra Mikraj adalah pengingat abadi bahwa kemuliaan seorang hamba tidak terletak pada harta atau kedudukan dunianya, melainkan pada seberapa berkualitas hubungannya dengan Allah Swt melalui salat. Salat adalah warisan terbesar dari perjalanan langit Nabi Muhammad saw.

Selain itu, menjaga salat berarti menjaga cahaya Isra Mikraj dalam hati kita. Dengan salat yang benar, kita sedang membangun tangga menuju “Sidratulmuntaha” kebahagiaan kita sendiri, yakni rida Allah Swt di dunia dan akhirat. Mari kita jadikan peringatan Isra Mikraj tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas sujud kita, karena dalam sujud itulah posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search