Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Zar’ah, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Muhammad ibnu Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Abu Sufyan, dari Ubaid ibnu Umair yang mengatakan bahwa ketika Allah berkehendak akan membinasakan tentara bergajah, maka Dia mengirimkan kepada mereka pasukan burung yang dikeluarkan dari laut yang gesitnya sama dengan burung walet. Tiap ekor burung membawa tiga buah batu yang terbagi pada paruhnya satu buah dan pada masing-masing kedua kakinya satu buah.
Burung-burung itu datang berbaris bersaf-saf di atas mereka, lalu mengeluarkan suaranya dan menjatuhkan batu-batu yang ada pada paruh dan kedua kakinya. Maka tiada sebuah batu pun yang menimpa kepala seseorang dari mereka melainkan tembus sampai ke duburnya, dan tidak sekali-kali batu itu mengenai sesuatu dari tubuh seseorang dari mereka melainkan tembus ke bagian lainnya. Allah mengirimkan pula angin yang kencang sehingga menambah kencang jatuhnya batu-batuan itu hingga semuanya binasa.
As-Saddi telah meriwayatkan dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas, bahwa batu-batuan dari sijjil, makna yang dimaksud ialah tanah liat yang telah berubah menjadi batu. Hal ini disebutkan keterangannya di atas dan tidak perlu diulangi lagi.
Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:
{فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ}
Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (Al-Fil: 5)
Sa’id ibnu Jubair mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah pakan hewan ternak yang dikenal oleh bahasa pasaran dengan istilah habur. Menurut riwayat lain dari’Sa’id, disebutkan daun tanaman gandum. Diriwayatkan pula darinya al-’asfu artinya pakan ternak yang telah digerogoti oleh ulat dedaunannya. Hal yang sama telah dikatakan oleh Al-Hasan Al-Basri. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa al-’asfu artinya kulit ari biji gandum.
Ibnu Zaid mengatakan bahwa al-’asfu artinya daun tanaman dan daun sayuran bilamana telah dimakan oleh ternak, maka kelihatan hanya tangkainya saja. Makna yang dimaksud ialah bahwa Allah (Subhanahu wa Ta’ala) membinasakan mereka dan menghancurkan mereka serta menjadikan mereka ‘senjata makan tuan’ dengan penuh kedongkolan. Tiada suatu kebaikan pun yang mereka peroleh, dan sebagian besar dari mereka binasa, serta tiada yang pulang melainkan dalam keadaan terluka parah, sebagaimanayang dialami oleh raja mereka (yaitu Abrahah). Sesungguhnya dadanya terbelah dan jantungnya kelihatan ketika ia sampai di san’a, lalu ia sempat menceritakan kepada penduduk San’a apa yang telah menimpa diri mereka, setelah itu ia mati. Kemudian tampuk pemerintahan negeri Yaman dipegang oleh anak Abrahah yang bernama Yaksum, setelah itu saudaranya yang bernama Masruq ibnu Abrahah.
Kemudian Saif ibnu Zi Yazin Al-Himyari berangkat menemui Kisra (Raja Persia) dan meminta bantuan kepadanya untuk menghadapi tentara Habsyah. Maka Kisra mengabulkan permintaannya dan menyerahkan kepadanya sebagian dari tentaranya yang berperang bersama Saif ibnu Zi Yazin. Maka Allah mengembalikan kepada mereka kerajaan yang dahulu dimiliki oleh nenek moyang mereka berikut semua kekuasaannya. Kemudian berdatanganlah kepadanya delegasi-delegasi dari orang-orang Arab, mengucapkan selamat atas kemenangannya.
Muhammad ibnu Ishaq mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Abu Bukair, dari Amrah binti Abdur Rahman ibnu As’ad ibnu Zurarah, dari Aisyah yang mengatakan bahwa sesungguhnya ia sempat melihat bekas pawang gajah dan pemegang kendalinya di Mekah dalam keadaan telah tuna netra lagi cacat, tak dapat berjalan, dan meminta-minta (menjadi pengemis). Al-Waqidi telah meriwayatkan hal yang semisal dari Aisyah. Dan Al-Waqidi telah meriwayatkan dari Asma binti Abu Bakar yang telah mengatakan bahwa kedua bekas pawang gajah itu dalam keadaan cacat parah, meminta-minta kepada orang di Asaf dan Na’ilah, tempat orang-orang musyrik menyembelih sembelihan mereka.
Menurut hemat saya, nama pemegang kendali gajah Abrahah bernama Anis. Al-Hafiz Abu Na’im di dalam kitabnya yang berjudul Dala’ilun Nubuwwah telah meriwayatkan melalui jalur Ibnu Wahb, dari Ibnu Lahi’ah, dari Aqil ibnu Khalid, dari Usman ibnul Mugirah, kisah tentang tentara bergajah ini; tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah datang dari Yaman, melainkan dia hanya mengutus pasukannya yang dipimpin oleh seorang lelaki bernama Syamir ibnu Maqshud, jumlah pasukannya kurang lebih dua puluh ribu orang personil. Disebutkan pula bahwa burung ababil datang menyerang mereka di malam hari, dan pada pagi harinya mereka semuanya tewas. Konteks kisah ini aneh sekali, sekalipun Abu Na’im telah menguatkannya di atas riwayat yang lain.
Menurut riwayat yang benar, Abrahah Al-Asyram Al-Habsyi datang ke Mekah sebagaimana yang ditunjukkan oleh konteks riwayat yang lainnya dan juga yang disebutkan dalam syair orang-orang dahulu. Hal yang sama telah disebutkan dalam riwayat yang bersumberkan dari Ibnu Lahi’ah, dari Al-Aswad, dari Urwah, bahwa Abrahah mengirimkan Al-Aswad ibnu Maqsud bersama sejumlah besar pasukannya di sertai dengan gajah, tetapi tidak disebutkan bahwa Abrahah sendiri ikut dalam misi tersebut. Menurut pendapat yang benar, Abrahah pun memang ikut datang dalam misi itu, barangkali Ibnu Maqsud berada di barisan pasukan yang terdepan; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui kebenarannya.
Ibnu Ishaq meriwayatkan sebagian dari syair-syair yang dikatakan oleh orang-orang Arab berkenaan dengan kisah tentara bergajah ini; di antara lain ia mengutip syair Abdullah ibnuz Zaba’ri yang menyebutkan,
تَنَكَّلُوا عَنْ بَطْنِ مَكَّةَ إِنَّهَا … كانتْ قَدِيمًا لَا يُرَام حَريمها …
لَمْ تُخلَق الشِّعرَى لَيَالِيَ حُرّمتْ … إِذْ لَا عزيزَ مِنَ الْأَنَامِ يَرُومها …
سَائِلْ أميرَ الْجَيْشِ عَنْهَا مَا رَأى? … فلسوفَ يُنبي الْجَاهِلِينَ عَلَيْمُهَا …
ستونَ أَلْفًا لَمْ يَؤُوبُوا أرَضهم … بَلْ لَمْ يَعِشْ بَعْدَ الِإْيَابِ سَقِيمُهَا …
كانتْ بِهَا عادٌ وجُرْهُم قَبْلَهَمُ … واللهُ مِنْ فَوْقِ الْعِبَادِ يُقيمها
“Mereka takut terhadap lembah Mekah, karena sejak masa dahulu tiada yang berani melanggar kesuciannya, bintang syi’ra masih belum diciptakan di malam-malam ia disucikan.
