Jadikan Al-Qur’an sebagai Pedoman Utama Kehidupan

www.majelistabligh.id -

Umat Islam harus menempatkan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam kehidupan. Al-Qur’an merupakan karunia dan rahmat terbesar yang Allah berikan kepada umat manusia. Karena itu, umat Islam seharusnya merasa gembira dan bangga memiliki kitab suci tersebut.

“Allah memerintahkan kita untuk berbahagia dengan karunia dan rahmat-Nya. Semua itu jauh lebih baik daripada apa pun yang kita kumpulkan di dunia ini,” kata Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Ikhwan Ahada, dalam ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Ahad (8/3).

Menurutnya, dalam kajian ilmu tafsir dikenal konsep munasabah ayat, yakni keterkaitan antara satu ayat dengan ayat lainnya, antara satu ayat dengan surat lain, ataupun dengan hadis Nabi sebagai penjelas.

Ia menambahkan bahwa Surah Yunus ayat 58 berkaitan erat dengan ayat sebelumnya yang menjelaskan bahwa karunia dan rahmat Allah yang dimaksud adalah Al-Qur’an itu sendiri. Penjelasan tersebut juga disebutkan dalam kitab tafsir Zubdatut Tafsir min Fathil Qadir karya Sulaiman al-Asyqar, seorang ulama yang pernah mengajar di Islamic University of Madinah.

“Karunia dan rahmat Allah itu adalah Al-Qur’an. Maka dengan Al-Qur’an itulah kita hendaknya berbahagia, karena ia menjadi pedoman dan petunjuk dalam menjalani kehidupan,” jelasnya.

Empat Sikap Manusia terhadap Al-Qur’an

Dalam ceramahnya, Ikhwan juga mengutip hadis Nabi yang menggambarkan empat tipe manusia dalam bersikap terhadap Al-Qur’an.

Pertama, seorang mukmin yang membaca Al-Qur’an. Rasulullah mengibaratkannya seperti buah utrujah, buah yang harum aromanya dan manis rasanya.

Kedua, mukmin yang tidak membaca Al-Qur’an. Ia diibaratkan seperti kurma yang rasanya manis tetapi tidak memiliki aroma.

Ketiga, orang munafik yang membaca Al-Qur’an. Ia diibaratkan seperti bunga raihanah yang aromanya harum tetapi rasanya pahit.

Keempat, orang munafik yang tidak membaca Al-Qur’an. Ia diibaratkan seperti buah hanzalah yang rasanya pahit dan baunya tidak sedap.

“Hadis ini memberikan gambaran kepada kita tentang bagaimana posisi kita terhadap Al-Qur’an,” jelasnya.

Ikhwan juga menjelaskan bahwa kemuliaan Al-Qur’an tampak dari berbagai sisi. Kitab suci tersebut berasal dari Allah, diturunkan melalui malaikat Jibril, dan disampaikan kepada Nabi Muhammad, yang disebut sebagai pemimpin para nabi dan rasul. Bahkan, bulan diturunkannya Al-Qur’an juga dimuliakan oleh Allah, yakni bulan Ramadan.

Ia mengutip ayat, Syahru Ramadan alladzi unzila fihil Qur’an hudan linnas, yang menjelaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.

Menurutnya, meskipun Ramadan sering kali menuntut energi dan pengeluaran yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan lain, umat Islam tetap merindukan kehadirannya karena kemuliaan yang Allah berikan di dalamnya.

Keutamaan Lailatul Qadar

Tidak hanya bulan Ramadan, Allah juga memuliakan malam ketika Al-Qur’an pertama kali diturunkan, yaitu malam Lailatul Qadr. Ia mengutip Surah Al-Qadr yang menyatakan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan.

“Seribu bulan jika dikonversi sekitar 80 tahun lebih. Artinya, amal pada malam itu memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah,” katanya.

Menurut Ikhwan, Al-Qur’an berfungsi sebagai cahaya yang menerangi hati manusia dan membantu membedakan antara kebenaran dan kebatilan, antara yang bermanfaat dan yang sia-sia. Karena itu, umat Islam harus menjadikan Al-Qur’an sebagai “panglima” dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan tentang keutamaan bagi orang yang menghafal Al-Qur’an. Dalam hadis disebutkan bahwa orang tua dari para penghafal Al-Qur’an akan diberikan mahkota kemuliaan pada hari kiamat. Meskipun tidak semua orang mampu menghafal seluruh Al-Qur’an, setiap Muslim tetap dapat meraih keutamaan dengan membaca, memahami, dan mengamalkannya. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search