Jadikan Pemimpin Hidupmu adalah Ilmu Bukan Perasaan

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan

“Jadikan pemimpin hidupmu adalah ilmu, bukan perasaan” mengajak kita untuk menapaki kehidupan dengan pijakan akal dan pemahaman, bukan sekadar terpaut oleh gejolak emosi sesaat.

Namun, bukan berarti perasaan tak punya tempat. Justru dengan ilmu yang memimpin, perasaan akan mendapatkan arah yang tepat—tidak liar, tapi luhur.

Dalam kacamata filsafat dan nilai spiritual, ini mengandung pesan berikut:

1. Ilmu sebagai kompas kebenaran
Ilmu membantu kita membedakan antara benar dan salah, bukan berdasarkan perasaan sesaat, tapi berdasarkan hakikat dan dalil yang kokoh. Dalam konteks Islam, ini selaras dengan seruan untuk tafaqquh fid-din—mendalami ilmu agama agar langkah hidup tidak salah arah.

2. Pengendalian diri dan kematangan emosional
Perasaan seringkali berubah-ubah. Jika hidup dipimpin oleh emosi, maka arah kita mudah goyah. Ilmu memberi stabilitas: ia mengajarkan kapan kita harus bersikap tegas, sabar, atau bahkan menahan diri.

Ilmu adalah fondasi yang menentukan kualitas arah dan dampak dari keputusan yang diambil

1. Ilmu Menjadi Landasan Keputusan yang Bijak
Seorang pemimpin yang berilmu tidak sekadar bertindak berdasarkan intuisi atau tekanan situasi. Ia mempertimbangkan data, dalil, pengalaman, serta prinsip moral yang kokoh. Ini menciptakan keputusan yang adil, visioner, dan tepat sasaran—bukan keputusan reaktif.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, maka Allah akan memahamkannya dalam agama.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Artinya, kepemimpinan yang baik lahir dari pemahaman yang mendalam—bukan hanya semangat, tapi juga ilmu.

2. Ilmu Menumbuhkan Keteladanan dan Wibawa Moral
Pemimpin yang berilmu tak hanya didengar, tapi juga ditauladani. Ilmunya tampak dalam tutur katanya yang tertata, keputusannya yang berprinsip, serta sikapnya yang konsisten. Ia menjadi figur yang diikuti bukan karena jabatan, tetapi karena kebijaksanaannya.

3. Ilmu Mencegah Penyimpangan Kekuasaan
Tanpa ilmu, kekuasaan bisa mudah tergelincir pada otoriterisme atau keputusan egoistik. Ilmu menuntun pemimpin untuk mengendalikan hawa nafsu, menyadari tanggung jawabnya, serta menghormati struktur musyawarah dan prinsip kolektif—terutama dalam konteks seperti Muhammadiyah.

4. Ilmu Membuka Jalan Inovasi dan Kemajuan
Pemimpin yang terus belajar akan mampu menjawab tantangan zaman. Ia tidak statis, tidak anti-kritik, dan selalu mencari solusi berbasis keilmuan. Di sinilah peran ilmu menjadikan kepemimpinan adaptif namun tetap berakar pada nilai.

Ilmu tidak hanya menjadi fondasi moral dan etis, tetapi juga penggerak utama inovasi dalam kepemimpinan. Berikut peran-peran utamanya:

1. Membuka Perspektif Baru
Ilmu memperluas horizon berpikir seorang pemimpin. Dengan memahami berbagai disiplin—dari sosiologi hingga teknologi, dari tafsir hingga teori kepemimpinan kontemporer—seorang pemimpin bisa melihat masalah dari berbagai sudut dan merancang solusi yang kreatif, bukan sekadar mengikuti pola lama.

2. Menumbuhkan Sikap Growth Mindset
Pemimpin yang berilmu menyadari bahwa dunia terus berubah. Maka ia tidak takut pada perubahan, tetapi siap tumbuh bersamanya. Ilmu menciptakan landasan untuk terus belajar, mengevaluasi, dan berani mencoba pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah.

3. Mengarahkan Inovasi dengan Nilai
Tanpa ilmu, inovasi bisa kehilangan arah dan nilai. Ilmu memastikan bahwa pembaruan tetap berakar pada prinsip: misalnya, inovasi pendidikan dalam Muhammadiyah yang tetap mengedepankan Tauhid, akhlak, dan kebermanfaatan.

4. Memampukan Adaptasi Teknologi dan Strategi
Dalam dunia digital, pemimpin yang menguasai ilmu akan lebih mudah beradaptasi dengan AI, big data, media sosial, dan berbagai alat modern. Mereka bisa menyusun strategi dakwah atau pemberdayaan yang lebih efektif—bukan sekadar ikut tren, tetapi memaknai dan mengarahkan tren.

5. Menumbuhkan Budaya Eksperimen dan Evaluasi
Ilmu mengajarkan bahwa kegagalan bukan aib, tapi bagian dari proses belajar. Pemimpin yang berilmu mendorong timnya untuk bereksperimen, lalu melakukan evaluasi yang objektif, sehingga inovasi tidak berhenti di ide, tapi menjadi budaya.

Ilmu membangun inovasi berarti mengungkap bagaimana pengetahuan menjadi bahan bakar untuk perubahan kreatif yang terarah.

1. Ilmu sebagai Titik Awal Identifikasi Masalah
Inovasi tidak lahir dari ruang hampa—ia lahir dari kepekaan terhadap masalah. Ilmu melatih seseorang untuk menganalisis situasi secara sistematis: mengenali ketimpangan, mencari pola, dan memahami akar masalah. Tanpa pemahaman mendalam, solusi cenderung spekulatif atau salah sasaran.
Contoh: Dalam gerakan Muhammadiyah, pendekatan berbasis riset terhadap kebutuhan masyarakat mendorong lahirnya klinik PKU atau sekolah alternatif berbasis Islam yang solutif dan kontekstual.

2. Ilmu Memperkaya Proses Kreasi Gagasan
Ketika seseorang memiliki dasar ilmu dari berbagai bidang, ia lebih mudah melakukan interkoneksi gagasan—seperti menggabungkan prinsip syariah dengan teknologi, atau memadukan nilai lokal dengan model ekonomi modern. Inilah fondasi dari inovasi lintas bidang.

3. Ilmu Mengarahkan Uji Coba dan Validasi
Inovasi bukan sekadar ide brilian, tetapi juga proses eksperimen. Ilmu menyediakan metodologi untuk menguji ide, mengukur efektivitasnya, dan menyempurnakannya. Tanpa pendekatan ilmiah, inovasi bisa berhenti pada slogan tanpa realisasi.

4. Ilmu Menumbuhkan Kerendahan Hati untuk Belajar Ulang
Pemimpin dan inovator sejati bukan yang merasa paling tahu, tetapi yang terus belajar dan siap membongkar ulang asumsi. Ilmu mengajarkan bahwa kebenaran terus dikaji, diuji, dan diperbarui—itulah semangat inovasi.

5. Ilmu Memberi Kerangka Nilai agar Inovasi Tidak Menyimpang
Di tengah semangat pembaruan, ilmu menjaga agar inovasi tetap berada dalam rel nilai dan etika. Dalam konteks dakwah atau pendidikan, ini penting agar inovasi tidak kehilangan makna spiritual dan tanggung jawab sosial. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search