“Istigfar is not just a speech in oral, but also awareness in the heart not to repeat the same mistakes.”
(Istigfar bukan hanya sekadar ucapan di lisan, tapi juga kesadaran dalam hati untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama)
Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, tak jarang hati kita ternodai oleh khilaf dan dosa. Sebagai manusia yang lemah, kita tak luput dari kesalahan, baik yang disadari maupun tidak.
Namun, Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang membuka pintu ampunan seluas-luasnya melalui istighfar.
Istighfar, secara sederhana, adalah memohon ampunan kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah diperbuat.
Lebih dari sekadar ucapan di lisan, istighfar yang tulus melibatkan penyesalan mendalam di hati, pengakuan atas kelemahan diri, dan tekad yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
Hal ini ditegaskan dalam firman-Nya:
وَمَن يَعْمَلْ سُوٓءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُۥ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ ٱللَّهَ يَجِدِ ٱللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
“Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’:110)
Rasulullah saw yang merupakan manusia paling mulia dan terjaga dari dosa (maksum), diriwayatkan beristigfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya amalan ini bagi setiap muslim. Dalam sebuah hadis, Dari Abu Hurairah, ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَاللَّهِ إِنِّى لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِى الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Demi Allah, aku sungguh beristighfar pada Allah dan bertaubat pada-Nya dalam sehari lebih dari 70 kali.” (HR. Bukhari No. 6307)
Beberapa faedah dari hadis di atas:
1. Hadis di atas memotivasi supaya memperbanyak taubat dan istighfar.
2. Rasulullah saw adalah makhluk terbaik di sisi Allah dan dosanya yang telah lalu dan akan datang telah diampuni, namun beliau masih beristighfar sebanyak 70 kali dalam rangka pengajaran kepada umatnya dan supaya meninggikan derajat beliau di sisi Allah.
3. Terus memperbanyak taubat dan istighfar akan menghapuskan dosa dan kesalahan yang bisa jadi dilakukan tanpa sengaja.
4. Bilangan istighfar dalam yang disebutkan dalam kedua hadits di atas tidak menunjukkan angka tersebut sebagai batasan dalam istighfar, namun yang dimaksud adalah banyaknya Rasulullah SAW beristighfar.
Jadi, Istigfar bukanlah sekadar ucapan tanpa makna, melainkan sebuah tindakan spiritual yang mendalam dan memiliki dampak besar bagi kehidupan seorang muslim.
Dengan senantiasa melazimkan istigfar, kita membersihkan diri dari noda dosa, meraih ampunan dan rahmat Allah, serta membuka pintu keberkahan dalam hidup.
Marilah kita jadikan istighfar sebagai amalan harian yang tak pernah kita tinggalkan, sebagai wujud penghambaan dan harapan akan ampunan dari Sang Maha Pengampun.
Semoga bermanfaat. (*)
