Jaminan Orang Bertakwa: Berkah Melimpah Rahmah Tercurah

www.majelistabligh.id -

Datangnya bulan Ramadan disambut dengan penuh kegembiraan dan sukacita. Tentu, tidak dapat dinafikan peran sentral otoritas semesta yang mengatur sedemikian rupa, sehingga bisa bersua dengan bulan mulia itu.

Sudah barang tentu, sebelum datang Ramadan, niscaya umat Islam mempersiapkan diri  dengan sebaik-baiknya. “Supaya bisa mengisi Ramadan dengan baik,” kata Syukriyanto AR, Dewan Pakar Lembaga Seni Budaya Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Satu tujuan utamanya: takwa. Itu hanyalah kulit luarnya. Kata takwa amat mudah diucapkan. Namun, dari sisi praktiknya, tidaklah mudah, dan bahkan amat berat.

“Takwa itu melaksanakan perintah dan tidak melanggar larangan-larangan Allah,” tuturnya. Takwa tidak hanya ditujukan di bulan Ramadan saja, tetapi berlaku pada bulan-bulan yang lain. “Takwa itu di dalam hati (qalbu),” jelas Syukriyanto.

Disambung Muchlas Abror, bahwa dalam Bulan Ramadan: Keistimewaan, Puasa, dan Tujuannya (1990), menyebut orang bertakwa disebut muttaqin. “Kita hendaklah bertakwa kepada Allah Tuhan Yang Maha Esa,” katanya.

Jika ditarik simpulnya, orang yang bertakwa itu sebagai manifestasi manusia yang baik hubungannya dengan Allah, dengan diri sendiri, dengan sesamanya, dan dengan alam lingkungannya.

“Manusia yang semacam itu adalah manusia yang beriman, berakhlak karimah, baik pula muamalahnya, dan hidupnya semata-semata hanyalah untuk beribadah kepada Allah yang dilaksanakan dengan ikhlas,” tutur Muchlas.

Ditekankan sekali lagi oleh Muchlas, Allah memberikan jaminan orang bertakwa. Yaitu berupa berkah yang melimpah dan rahmah yang tercurah.

“Marilah kita jalani ibadah puasa Ramadan dengan penuh iman dan keikhlasan serta kesungguhan supaya kita bertakwa,” ajak Muchlas, seraya menggarisbawahi, bahwa takwa menjadi tujuan prioritas di bulan Ramadan. “Takwa inilah yang menjadi tujuan utama kita berpuasa,” tandasnya.

Meski berat dituju, namun, pelan tapi pasti, sedikit dan bertahap, takwa pasti bisa digapai. Di sinilah para peserta puasa mesti optimis bahwa ritus puasa yang dijalankan, mampu mengantarkan diri mendapatkan cahaya takwa. Yang dari situ kemudian, kehidupan tampil menjadi bermakna dan berwarna. (*/tim)

Tinggalkan Balasan

Search