Jangan Bungkam Kebenaran, Sekalipun Itu Berat!

Jangan Bungkam Kebenaran, Sekalipun Itu Berat!
*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Kebenaran terkadang terasa pahit. Namun, rasa pahit itu tidak boleh menjadi alasan untuk membungkam kebenaran.

Seorang Muslim wajib berkata jujur dan menyampaikan kebenaran, baik kepada orang lain maupun kepada dirinya sendiri.

Apabila suatu perkara telah jelas keharamannya, maka tidak boleh dibenarkan. Jika suatu perbuatan tergolong syirik, bid’ah, atau munkar, maka harus dikatakan sebagaimana adanya—bukan dibungkus dengan istilah lain yang menyesatkan.

Yang haram tetap haram, yang syirik tetap syirik, perbuatan bid’ah tidak boleh dianggap sebagai sunnah, dan kemungkaran tidak boleh dikatakan sebagai kebaikan (ma’ruf).

Contohnya adalah menyembah kubur. Ini merupakan perbuatan syirik yang nyata. Namun, sebagian da’i justru menganggap hal ini masih dalam ranah khilafiyah (perselisihan).

Seorang dai sejati harus berani mengatakan bahwa itu adalah kesyirikan. Kebenaran harus ditegaskan berdasarkan dalil syar’i dan penjelasan para ulama yang lurus.

Kebenaran di Hadapan Penguasa

Rasulullah saw bersabda:

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat yang benar di hadapan penguasa yang zalim.” (HR. Ahmad, 5/251, no. 656)

Namun, menyampaikan kebenaran kepada penguasa memiliki adab dan cara tersendiri. Islam melarang cara-cara provokatif seperti orasi, demonstrasi, atau menyebarkan aib penguasa melalui mimbar dan media publik.

Nabi Muhammad saw mengajarkan etika dalam memberi nasihat kepada pemimpin:

“Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, maka jangan dilakukan secara terang-terangan. Hendaknya ia menggenggam tangannya, lalu berbicara secara pribadi. Jika penguasa menerima nasihat tersebut, itu yang terbaik. Namun jika tidak, maka ia telah menunaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah)

Dengan demikian, keberanian menyampaikan kebenaran tidak berarti sembarangan dan tanpa adab.

Keberanian itu harus dibingkai dengan hikmah dan cara yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah saw. (*)

Tinggalkan Balasan

Search