Jangan Meminta-minta kepada Kuburan dan Menjadikannya Wasilah

www.majelistabligh.id -

Ziarah kubur merupakan salah satu amalan yang dianjurkan dalam Islam. Melalui ziarah, seorang Muslim diingatkan akan kematian sekaligus memiliki kesempatan untuk mendoakan orang-orang yang telah wafat. Namun demikian, syariat juga memberikan batasan yang jelas agar praktik ziarah kubur tidak menyimpang dari ajaran tauhid.

Salah satu penyimpangan yang harus dihindari adalah meminta-minta kepada penghuni kubur atau menjadikan mereka sebagai perantara (wasilah) untuk mendekatkan diri kepada Allah. Perbuatan semacam ini tidak dibenarkan dalam ajaran Islam, karena doa dan permohonan hanya boleh ditujukan kepada Allah semata.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan agar manusia tidak memohon kepada selain Allah. Dalam firman-Nya disebutkan:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah engkau menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak pula memberi mudarat kepadamu. Jika engkau melakukannya, maka sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus: 106).

Ayat ini menegaskan bahwa segala bentuk permohonan, harapan, dan ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Meminta pertolongan kepada makhluk yang telah meninggal dunia jelas tidak sesuai dengan prinsip tauhid yang diajarkan Islam.

Fenomena meminta kepada kuburan sering kali disertai dengan keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dapat menjadi perantara yang mendekatkan seseorang kepada Allah. Padahal, Al-Qur’an juga menyinggung alasan serupa yang pernah digunakan oleh kaum musyrik pada masa dahulu. Allah berfirman:

وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى

“Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Dia (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya’.” (QS. az-Zumar: 3)

Ayat tersebut menjelaskan bahwa menjadikan makhluk sebagai perantara dalam ibadah kepada Allah merupakan salah satu bentuk penyimpangan dalam akidah. Karena itu, dalam praktik ziarah kubur, seorang Muslim harus menjaga kemurnian tauhid dengan tidak memohon apa pun kepada penghuni kubur.

Yang dianjurkan justru sebaliknya, yaitu mendoakan mereka yang telah wafat. Rasulullah saw memberikan contoh doa ketika berziarah ke kuburan, sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah ra. Beliau mengucapkan:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللّٰهُ بِكُمْ لَلَاحِقُونَ، اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِأَهْلِ بَقِيعِ الْغَرْقَدِ

“Semoga keselamatan tercurah kepada kalian wahai penghuni negeri kaum mukminin. Sesungguhnya kami, insya Allah, akan menyusul kalian. Ya Allah, ampunilah penghuni Baqi’ al-Gharqad.” (HR. Muslim).

Doa ini menunjukkan arah yang benar dalam berziarah. Bukan meminta kepada yang telah meninggal, melainkan memohon kepada Allah agar mengampuni mereka.

Dengan demikian, ziarah kubur tetap merupakan amalan yang baik selama dilakukan sesuai dengan tuntunan syariat. Tujuannya adalah untuk mengingat kematian dan mendoakan ahli kubur, bukan untuk meminta pertolongan kepada mereka atau menjadikannya sebagai perantara kepada Allah. || Referensi: Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

 

Tinggalkan Balasan

Search