Jangan Sombong, Hidayah Bisa Dicabut!

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56)

Ayat ini menegaskan bahwa hidayah adalah hak prerogatif Allah. Hidayah tidak bisa dipaksakan, bahkan oleh seorang Nabi sekalipun kepada orang terdekatnya.

Hidayah tidak semata-mata hasil dari logika, retorika, atau usaha manusia, melainkan murni karunia dari Allah yang Maha Mengetahui siapa yang layak menerimanya.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam adalah manusia terbaik, yang akhlaknya mulia dan dakwahnya penuh kasih sayang.

Namun, beliau sendiri tidak mampu memberikan hidayah kepada pamannya, Abu Thalib, yang membelanya hingga akhir hayat. Hal ini menjadi pelajaran besar bahwa tugas kita adalah menyampaikan, sementara hidayah mutlak ada di tangan Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman:

“Maka ketika mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.” (QS. Ash-Shaff: 5)

Ayat ini menjadi peringatan bagi setiap insan. Hidayah bukan sesuatu yang bersifat abadi bila tidak dijaga. Orang yang telah mendapat petunjuk bisa saja kembali tersesat apabila berpaling dari kebenaran dan memilih untuk menentang perintah Allah.

Contoh-contoh nyata dari pencabutan hidayah dalam Al-Qur’an:

1. Iblis

Dahulu ia adalah makhluk yang rajin beribadah, bahkan berada di barisan para malaikat. Namun, karena kesombongannya—ia enggan sujud kepada Adam—maka Allah mencabut hidayah dari hatinya dan menjadikannya makhluk yang terkutuk. (QS. Al-A’raf: 12)

2. Orang-orang Munafik

Mereka berpura-pura beriman di hadapan manusia, namun hatinya penuh penolakan terhadap kebenaran. Karena kemunafikan yang terus-menerus, Allah mengunci hati mereka sehingga tidak dapat menerima cahaya iman.
(QS. Al-Baqarah: 7)

Mengapa Allah Mencabut Hidayah?

Beberapa sebab utama dicabutnya hidayah oleh Allah antara lain:

1. Kesombongan

Seperti halnya Fir’aun yang mengingkari kebenaran meskipun telah ditunjukkan berbagai mukjizat. Ia merasa paling berkuasa dan menolak untuk tunduk kepada ajaran Nabi Musa.
Kesombongan adalah penghalang utama hidayah.

2. Kedurhakaan yang Terus-Menerus

Orang-orang yang terus menerus berbuat dosa tanpa rasa takut kepada Allah dan tanpa upaya untuk bertaubat, akan disesatkan oleh Allah karena mereka sendiri telah memilih jalan kesesatan.
(QS. Al-Baqarah: 6-20)

3. Penolakan terhadap Kebenaran Setelah Petunjuk Datang

Mereka telah melihat kebenaran dengan jelas, namun tetap memilih untuk menolaknya karena hawa nafsu, kebencian, atau kepentingan duniawi. Maka Allah membiarkan mereka dalam kesesatan yang mereka pilih sendiri.
(QS. Al-An’am: 110)

Hidayah adalah anugerah yang sangat mahal. Ia bisa datang kepada siapa saja, kapan saja, dan dengan cara yang tak terduga.

Namun, ia juga bisa hilang bila tidak dijaga. Maka tugas kita adalah terus mengetuk pintu hidayah dengan doa, amal saleh, rendah hati, dan semangat mencari ilmu.

“Ya Allah, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan mereka yang dimurkai, dan bukan pula jalan mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6-7)

Tinggalkan Balasan

Search