Jejak Alumni UMS di Balik Batik Eksklusif Presiden

Jejak Alumni UMS di Balik Batik Eksklusif Presiden
www.majelistabligh.id -

Suatu sore di dekade ’90-an, seorang mahasiswa Akuntansi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyusuri pertokoan di sekitar Jalan Slamet Riyadi, Solo. Punggungnya menggendong ransel berisi buku-buku kuliah, sementara tangan kirinya sibuk menenteng tas berisi beberapa baju dan kain batik.

Anak muda itu bernama Ahmat Failasuf. Orang-orang kerap memanggilnya Failasuf. Begitulah rutinitasnya sepulang kuliah, singgah dari satu toko ke toko lain menawarkan batik yang dibawanya dari Pekalongan.

“Kalau habis pulang dari rumah, Pekalongan, selalu bawa batik untuk dijual di Solo. Ada yang menerima, ada yang menolak, ada yang menghalangi itu biasa. Pedomanya kalau saya ditolak seratus kali saya akan berhenti. Tapi biasanya ditolak paling sepuluh kali terus laku,” kata Failasuf kala membagikan kenangan semasa kuliahnya dalam wawancara daring, awal Juli lalu.

Kini, Failasuf dikenal sebagai pendiri Batik Failasuf Masterpiece. Merek batik eksklusif yang dikenakan kalangan pejabat hingga Presiden Republik Indonesia. Terbaru, batik rancangannya membalut badan para delegasi penting Konferensi Tingkat Tinggi Group of Twenty (KTT G20) di Bali tahun 2022.

Berasal dari keluarga pengrajin batik di Pekalongan, darah dagang memang sudah mengalir dalam dirinya. Namun, Failasuf tak ingin usahanya hanya berhenti di skala rumahan.

Pria kelahiran 1975 itu mengaku terhitung rajin membaca koran dan buku-buku pemasaran, meski kuliah di jurusan Akuntansi. “Saya sampai langganan majalah Marketing tiap bulan,” jelas dia.

Di kampus Failasuf terbilang mahasiswa yang cukup aktif. Dirinya pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Moh. Hatta Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMS. Ia juga merupakan santri di Pondok Muhammadiyah Hajjah Nuriyah Shabran.

Failasuf muda sangat keukeuh menjalin relasi-relasi kecil dengan berjualan selepas pulang kuliah. Tepatnya pada 1993 saat lulus sarjana, ia bertekad ingin melanjutkan dan membesarkan usaha batik milik keluarganya.

Lahirnya Batik Pesisir dari Kemplong

Lima tahun berselang, krisis moneter 1998 mengguncang ekonomi nasional. Banyak pelaku usaha gulung tikar, namun Failasuf justru membaca peluang.

Di tengah situasi yang serba tak pasti, ia nekat mendirikan merek batik tulis sendiri yang diberi nama Batik Pesisir Failasuf. Usaha ini resmi berdiri pada 1999 di Desa Kemplong, Kabupaten Pekalongan.

Nama Batik Pesisir Failasuf dipilihnya bukan hanya karena lokasi geografis tempat tinggalnya, tapi juga untuk menguatkan identitas batik khas pesisiran yang dikenal penuh warna dan kaya corak flora-fauna.

“Saya pilih nama Batik Pesisir karena mudah diingat, mudah diucap, dan kuat menempel di ingatan pembeli,” kata Failasuf.

Langkah Failasuf mulanya dianggap terlalu nekat. Membuka usaha di tengah krisis membuatnya sempat mendapat cibiran dari orang-orang sekitar.

Tapi Failasuf tak begitu menghiraukan. Dengan modal dari hasil menjual batik milik orang tua dan kerabat, ditambah keberaniannya membangun relasi dari satu toko ke toko lain, perlahan nama Batik Pesisir Failasuf mulai dikenal.

Jejak Alumni UMS di Balik Batik Eksklusif Presiden

Menjajaki Istana

Relasi demi relasi tetap dijalinnya hingga batik karyanya mulai dipasarkan di beberapa kota dan kabupaten di Jawa Tengah, juga merangsek memasuki Kota Jogja. Mimpinya terus tumbuh besar. “Kalau mau besar skala provinsi, dekat-dekat dengan gubernur. Kalau mau skala nasional, harus dekat dengan presiden,” kata pria asal Pekalongan itu.

Namun ia sadar betul, presiden bukan orang yang mudah dijangkau. Ada ajudan, protokoler, hingga para desainer khusus yang menangani pakaian kepala negara.

Maka langkah pertamanya adalah mencari tahu siapa sosok di balik pakaian sang presiden. Ia pun menemukan nama seorang desainer ternama, Adjie Notonegoro.

Tanpa kenalan di Jakarta, Failasuf nekat menelepon sang desainer yang biasa membuat baju Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Tepatnya di tahun 2000, ia memperkenalkan diri sebagai desainer dari Pekalongan dan mengajukan janji temu.

Tak disangka, pertemuan itu membuka jalan besar. Nama Batik Failasuf mulai dikenal, pesanan berdatangan, dan tawaran pameran mengalir. Salah satunya adalah pameran di Istana Bogor.

Sejumlah pejabat negara seperti Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kiri), Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno, dan mantan Menteri Sosial Tri Rismaharini (kanan) membeli batik tulis eksklusif garapan Failasuf beberapa waktu silam. Dok. Pribadi

Puncak lain dalam perjalanan kreatifnya datang pada 2009, saat batik resmi diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Kala itu, Failasuf kembali dipercaya membuatkan batik eksklusif untuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ibu Ani Yudhoyono.

Salah satu momen yang tak pernah ia lupakan adalah ketika Presiden SBY secara khusus meminta batik dengan motif dan filosofi tertentu. “Pak SBY itu detail sekali. Beliau minta batik dengan corak khas Indonesia, tapi tetap elegan untuk tampil di forum internasional,” tutur Failasuf.

Ia lalu merancang batik tulis Sawunggaling di atas kain sutra. Motif tersebut berlambangkan burung Phoenix yang seakan-akan terbang menuju surga.

Rencananya, batik eksklusif itu akan menjadi seragam keluarga Presiden SBY untuk perayaan Idulfitri.

Namun takdir berkata lain, ibu Ani Yudhoyono berpulang lebih awal pada 1 Juni 2019, tepat 4 hari sebelum hari raya datang.

Kain batik motif Burung Surga pun digunakan sebagai kain penutup jenazah almarhumah. Sejak saat itu, batik Burung Surga karyanya menjadi simbol kebanggaan tersendiri bagi keluarga presiden. SBY mengenakan batik itu dalam berbagai acara kenegaraan.

Resep Mengembangkan Usaha

Usaha Failasuf berkembang pesat, bak buah ranum yang tumbuh di kebunnya sendiri. Dari yang semula hanya mempekerjakan empat orang, jumlah karyawannya sempat mencapai 600 sebelum pandemi melanda.

Tersisa sekitar 100 orang masih aktif di berbagai lini produksi. Ia pun piawai membangun struktur organisasi yang tertata.

“Usaha akan terus jalan jika SDM-nya jujur, rutin monitoring, dan jaringan pemasaran terus dijaga,” tekannya membagikan resep berbisnis.

Dalam menjalankan bisnisnya, ia membagi merek dagang menjadi tiga segmen, yakni Batik Simonet untuk seragam dan kelas terjangkau,

Batik Pesisir Failasuf untuk segmen menengah, dan Batik Failasuf Masterpiece of Batik untuk kalangan eksklusif. Rentang harganya pun bervariasi, dari Rp100 ribu hingga lebih dari Rp100 juta.

“Motifnya tidak diproduksi ulang. Ada unsur eksklusif dan artistik yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata,” tuturnya.

Pada 2006, Failasuf turut menggagas Kampung Batik Wiradesa, sebuah sentra batik sekaligus pusat edukasi budaya di Pekalongan. Lewat kampung itu, ia ingin membuktikan bahwa anak kampung pun bisa mendunia, asalkan punya mimpi dan kemauan untuk terus belajar.

Setelah lebih dari dua dekade menekuni dunia batik, Failasuf menyampaikan pesan bagi para mahasiswa UMS yang ingin merintis usaha seperti dirinya dahulu.

Menurutnya, langkah pertama bukan sekadar merancang rencana, melainkan segera mempraktikkan ilmu yang dipelajari.

“Jangan habiskan waktu bertahun-tahun hanya menunggu kesempatan! Magang, jualan, bangun relasi sedini mungkin,” sarannya.

Selain itu, karakter jadi pondasi utama dalam menjalankan usaha. “Orang tidak akan mau bermitra kalau karakter kita tidak bisa dipegang,” imbuh dia.

Sebagai seorang muslim, Failasuf tak lupa menanamkan prinsip spiritual dalam setiap langkahnya. Ia meyakini bahwa rasa syukur akan mendatangkan lebih banyak nikmat, dan amal yang terus dilakukan akan membawa keberkahan rezeki. Prinsip itu ia pegang terus sejak awal merintis usaha. (genis dwi gustati)

Tinggalkan Balasan

Search