Di malam yang hening, dalam bening hati para hamba Rahman,
terlantun doa syahdu memohon karunia dari Tuhan:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan dan keturunan sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan [25]: 74)
Ibn ‘Abbas berkata,
Itulah permohonan agar keluarga menjadi perhiasan taat,
yang sejuk di dunia, lebih indah di akhirat.
Sebab tiada kebahagiaan mukmin,
melebihi melihat amal shalih anak, istri, dan sahabatnya bertabur cahaya yakin.
Mereka ingin menjadi imam,
bukan karena kuasa atau mahkota,
tetapi karena teladan yang menggugah jiwa.
Agar siapa pun yang meniru jalan kebaikan mereka,
mengalirkan pahala abadi tanpa henti,
bagaikan sungai yang tak pernah surut dari sumber suci.
Namun…
Imamah bukan jalan bertabur bunga.
Ia adalah jalan Khalilullah yang penuh ujian tiada dua.
Tapaknya diuji dengan api, bintang, dan hijrah yang senyap.
Bahkan ketika putranya diuji,
dia berserah dalam cinta yang tak retak:
وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَٰهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَٰتٍ فَأَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا
“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku menjadikanmu Imam bagi manusia.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Lalu Ibrahim berkata penuh cinta:
قَا لَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ
“Dan dari keturunanku juga, wahai Rabb?”
Namun jawab Allah penuh hikmah:
قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ
“Allah berfirman, ‘Janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang yang zalim.’”
(QS. Al-Baqarah [2]: 124)
Sungguh, keimaman hanyalah milik mereka yang adil,
yang tunduk hanya pada hukum Rabbul ‘Alamin,
dan tak pernah membiarkan benci menenggelamkan kebenaran dalam gelap.
Sebab keimaman bukanlah kekuasaan,
tetapi getar hati yang mengajak jiwa pada jalan Tuhan.
Ibrahim, seorang diri,
tapi dinilai sebuah umat oleh langit yang tinggi:
إِنَّ إِبْرَٰهِيمَ كَانَ أُمَّةً قَانِتًا لِّلَّهِ حَنِيفًا ۖ وَلَمْ يَكُ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang taat kepada Allah, hanif, dan sekali-kali bukanlah dia dari golongan orang-orang musyrik.”
(QS. An-Nahl [16]: 120)
Keikhlasan itu,
yang membuat setan tak mampu menyentuh langkahnya,
yang membuat Allah rida,
dan umat manusia mencinta.
Doanya pun abadi,
hingga lidah-lidah kita hari ini masih menyebutnya dengan penuh pengharapan:
وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي ٱلْآخِرِينَ
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.”
(QS. Asy-Syu’ara [26]: 84)
Dan Allah mengabulkan:
وَوَهَبْنَا لَهُم مِّن رَّحْمَتِنَا وَجَعَلْنَا لَهُمْ لِسَانَ صِدْقٍ عَلِيًّا
“Dan Kami anugerahkan kepada mereka sebagian dari rahmat Kami dan Kami jadikan mereka buah tutur yang baik lagi tinggi.”
(QS. Maryam [19]: 50)
Mari memohon kepada Allah,
agar keluarga kita bukan sekadar darah dan rupa,
tetapi penyejuk jiwa lewat amal dan teladan yang nyata.
Dan semoga langkah kita—meski kecil—mengikuti jejak para imam dalam iman dan istikamah,
menjadi buah tutur yang harum,
di dunia dan akhirat yang penuh rahmah. (*)
