Kehidupan adalah panggung ujian. Di atas panggung ini, manusia diuji dengan berbagai bentuk cobaan—termasuk cacian, hinaan, dan perlakuan merendahkan.
Menerima semua itu dengan hati yang lapang bukanlah perkara mudah. Namun justru di situlah letak hikmah kehidupan: bagaimana seseorang bisa tetap tegar, tetap sabar, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan.
Kesabaran bukanlah bentuk kelemahan. Ia adalah kekuatan jiwa yang hanya dimiliki oleh mereka yang mampu menundukkan egonya.
Dalam Islam, kesabaran adalah kunci utama dalam menjalani hidup. Allah berfirman: “Dan bersabarlah; sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Anfal: 46)
Untuk memahami makna kesabaran secara lebih dalam, kita bisa meneladani kisah para nabi yang mengalami ujian berat, namun tetap menjunjung kesabaran sebagai sikap utama mereka.
Nabi Nuh adalah contoh nyata keteguhan dalam menyampaikan kebenaran, meskipun dicaci, dihina, dan dianggap gila oleh kaumnya. Ia berdakwah selama 950 tahun, namun hanya sedikit yang mengikuti ajarannya.
Bayangkan betapa panjang usia perjuangan yang penuh penolakan dan penghinaan. Namun beliau tidak membalas dengan kemarahan. Nabi Nuh tetap berseru, memohon ampunan untuk kaumnya, dan bertawakal kepada Allah.
Nabi Yusuf mengalami fitnah luar biasa ketika difitnah oleh istri pejabat Mesir. Ia dipenjara bukan karena bersalah, melainkan karena menjaga kehormatan dan ketakwaannya.
Tidak hanya itu, sebelumnya Nabi Yusuf juga dijual sebagai budak oleh saudara-saudaranya sendiri. Namun ia tidak menyimpan dendam. Ketika akhirnya menjadi penguasa dan bertemu kembali dengan saudara-saudaranya yang dulu mengkhianatinya, ia berkata dengan lembut:
“Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kalian, semoga Allah mengampuni kalian.” (QS. Yusuf: 92)
Sungguh, sebuah teladan luar biasa dari kesabaran dan kelapangan hati.
Nabi Ayub adalah simbol kesabaran tertinggi. Ia diuji dengan kehilangan harta, anak, dan kesehatan. Tubuhnya penuh luka, dijauhi banyak orang, dan hidup dalam kesendirian. Namun lisannya tidak pernah berhenti berzikir. Ia tidak mengeluh, tidak marah kepada takdir, bahkan tetap bersyukur.
Ketika akhirnya berdoa memohon kesembuhan, ia berkata dengan rendah hati: “Sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” (QS. Al-Anbiya: 83)
Nabi Muhammad saw. menghadapi hinaan dan perlakuan keji dari kaumnya di awal dakwahnya. Beliau dituduh penyihir, pendusta, bahkan dilempari batu ketika berdakwah di Thaif hingga tubuhnya berdarah.
Namun saat Malaikat Jibril menawarkan bantuan untuk membinasakan penduduk Thaif, beliau menolak. Rasulullah bersabda:
“Jangan, aku berharap dari keturunan mereka akan lahir generasi yang menyembah Allah.”
Itulah sabar yang penuh cinta. Kesabaran yang tidak hanya menahan amarah, tetapi juga berharap kebaikan dari mereka yang menyakitinya.
Kesabaran dalam kisah-kisah para nabi bukan sekadar sikap diam, tetapi bentuk kekuatan luar biasa. Mereka tidak membiarkan hinaan mengubah arah hidup mereka. Mereka tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi dengan doa dan ketulusan.
Dari mereka, kita belajar bahwa hinaan bukan akhir dari segalanya. Justru, sering kali cacian adalah batu ujian yang harus dilewati oleh mereka yang akan ditinggikan derajatnya oleh Allah.
Kesabaran adalah cahaya. Ia menerangi hati yang gelap oleh luka, menenangkan jiwa yang terguncang oleh perkataan orang. Dalam sabar, ada kekuatan untuk terus melangkah, untuk tidak menyerah, dan untuk tetap menjadi manusia yang bermartabat—meskipun dunia seolah merendahkan.
***
Ujian terbesar dalam hidup terkadang bukan datang dari musuh, melainkan dari orang-orang yang paling dekat. Bisa dari teman, sahabat, bahkan saudara seperjuangan.
Saya, dan mungkin juga Anda pernah mengalaminya. Rasa sakit karena ditusuk dari belakang oleh mereka yang kita percaya—yang pernah bersama dalam suka dan duka—sering kali lebih menyakitkan dari sekadar hinaan orang luar. Luka itu tidak hanya di permukaan, tapi menusuk sampai ke dalam hati.
Namun justru dalam momen seperti itulah, kesabaran diuji pada level tertinggi:
– Kesabaran untuk tidak membalas dengan cara yang sama.
– Kesabaran untuk tidak menjelekkan balik.
– Kesabaran untuk tetap mendoakan, meski hati terasa dikhianati.
Rasulullah saw pun mengalami hal ini. Beliau pernah dikhianati oleh orang-orang munafik di Madinah. Mereka bersyahadat di depan beliau, namun merencanakan makar di belakang.
Salah satu contoh nyata adalah saat Perang Uhud. Abdullah bin Ubay dan pengikutnya mundur dari barisan kaum Muslimin di saat-saat genting. Tapi apa yang dilakukan Rasulullah? Beliau tetap bersikap bijak, tidak menyebarkan keburukan mereka, dan menyerahkan urusan mereka kepada Allah.
Bahkan terhadap sahabat dekat seperti Abu Sufyan sebelum masuk Islam, yang sempat memusuhi beliau, Rasulullah tetap membuka pintu maaf dan persahabatan.
Begitu pula dengan Wahsyi, orang yang membunuh paman tercintanya, Hamzah. Setelah Wahsyi bertaubat dan masuk Islam, Rasulullah menerimanya, meski tentu luka itu tidak mudah dilupakan. Tapi itulah akhlak seorang yang sabar: ia memilih memaafkan, bukan menyimpan dendam.
Kesabaran dalam menghadapi pengkhianatan bukan berarti kita harus terus-menerus membiarkan diri disakiti. Kita tetap boleh menjaga jarak, membatasi kedekatan, dan melindungi diri.
Namun yang tidak boleh hilang adalah kelapangan hati untuk tidak membalas dengan keburukan dan kekuatan untuk tidak menjatuhkan harga diri sendiri hanya karena amarah sesaat.
Allah mengajarkan dalam Surah Fussilat ayat 34:
“Tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan, seakan-akan dia adalah teman yang setia.”
Sungguh indah ajaran ini. Tidak semua sakit harus dibalas dengan amarah. Tidak semua luka harus dibalas dengan senjata.
Terkadang, cukup dengan diam dan berserah diri kepada Allah, kita telah menunjukkan kemenangan yang sejati.
***
Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, cacian, hinaan, bahkan pengkhianatan adalah bagian dari ujian yang tidak bisa kita hindari.
Namun, dari kisah para nabi dan teladan mereka, kita belajar bahwa kesabaran bukan sekadar bertahan, tapi juga bentuk tertinggi dari kekuatan batin.
Sabar bukan hanya diam, tapi memilih untuk tetap bermartabat saat disakiti, tetap mendoakan saat dikhianati, dan tetap berjalan teguh dalam kebaikan meski dilukai.
Hidup mungkin tidak selalu adil di mata manusia. Tapi percayalah, Allah tidak pernah luput dari setiap tetes air mata dan luka hati hamba-Nya.
Maka, bersabarlah. Karena di balik kesabaran, ada hikmah besar yang sedang disiapkan Allah untuk jiwa-jiwa yang kuat. (*)
