Jejak Kyai Dahlan dan Fondasi Pendidikan Modern Muhammadiyah

www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, menyampaikan pesan mendalam mengenai visi Islam Berkemajuan, yang menjadi bagian penting dari perjalanan Muhammadiyah.

“Kyai Dahlan telah mempelopori sistem pendidikan Islam modern yang menjadi dasar penting bagi kemajuan Muhammadiyah dan Islam di Indonesia,” kata Haedar Nashir pada peresmian Masjid Al-Musannif ke-50 Tabligh Institute di Yogyakarta, pada Ahad (19/1/2025).

Sebelum era Kyai Dahlan, pendidikan Islam di pesantren hanya menekankan pengajaran agama, sementara ilmu pengetahuan umum kurang diperhatikan dan dianggap tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Kyai Dahlan, dengan wawasan jauh ke depan, menghadirkan inovasi dengan mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum dalam pendidikan.

Dia mendirikan sekolah dan madrasah yang mengajarkan tidak hanya agama, tetapi juga ilmu pengetahuan yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

Haedar juga mengingatkan pentingnya ajaran Kyai Dahlan tentang surah Al-Ma’un, yang diajarkan selama tiga bulan.

Ajaran ini menginspirasi berbagai gerakan sosial yang revolusioner, termasuk pendirian rumah sakit, rumah yatim, dan rumah miskin.

Gerakan sosial ini memunculkan PKU Muhammadiyah pada 15 Februari 1923, yang menjadi cikal bakal pelayanan kesehatan Muhammadiyah di Yogyakarta, serta menjadi tonggak sejarah penting dalam perjuangan organisasi ini.

Lebih lanjut, Haedar menegaskan bahwa Kyai Dahlan sudah meletakkan fondasi bagi Islam yang berkemajuan, yang diharapkan dapat berjalan melalui Muhammadiyah.

Meski begitu, Haedar mengakui bahwa pada awalnya, Muhammadiyah belum sepenuhnya dapat menerjemahkan gagasan besar Kyai Dahlan.

Namun, seiring berjalannya waktu, Muhammadiyah berusaha untuk menyambungkan dan menindaklanjutinya untuk menciptakan sistem yang lebih baik, melahirkan konsep berkemajuan dan pencerahan.

Menurut Haedar, gerakan pencerahan ini lahir dari praktek Islam yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan umat.

Hal ini sesuai dengan nilai yang terkandung dalam ayat Ali-Imran 104 dan 110. Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah tidak sepenuhnya mengadopsi gaya Barat dalam pergerakannya, melainkan melakukan proses transendensi—mengambil sisi positif dari modernitas Barat tanpa kehilangan akar ajaran agama Islam.

Haedar mengingatkan bahwa meskipun Barat mencatatkan kemajuan dalam ilmu pengetahuan, teknologi, demokrasi, dan humanisasi, modernitas Barat juga menumbuhkan pemikiran seperti atheisme dan agnostisisme yang bertentangan dengan ajaran agama.

Lebih jauh, Haedar menjelaskan bahwa Islam, karena terhalang dominasi pemikiran Barat, terkadang terlupakan atau hanya dianggap sebagai kenangan sejarah.

Namun, Kyai Dahlan berhasil mentransformasikan kejayaan Islam melalui gerakan nyata yang memperkuat relevansi Islam di dunia modern.

Haedar menekankan bahwa Kyai Dahlan telah merepresentasikan sejarah Islam dan sejarah Muhammadiyah sebagai dua elemen yang saling melengkapi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Haedar juga menyinggung tantangan dakwah di era modern yang dipengaruhi oleh perkembangan sosial dan teknologi yang pesat.

Ia menyoroti bahwa generasi muda, yang mulai mempertanyakan relevansi agama dalam kehidupan mereka, membutuhkan sentuhan spiritual untuk menjaga mereka tetap berada di jalur yang benar.

Dalam konteks ini, peran Muhammadiyah menjadi semakin penting untuk menghadirkan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman dan dapat memberikan solusi bagi tantangan globalisasi.

Pada akhir pidatonya, Haedar mengajak seluruh kader Muhammadiyah untuk terus bekerja dengan semangat dan ikhlas meskipun ada berbagai kendala.

Menurutnya, tantangan ini justru akan semakin menguatkan jiwa irfani (spiritual) dalam diri kader. Ia juga menekankan pentingnya dakwah yang harus menyesuaikan dengan perkembangan zaman, menjaga relevansi ajaran Islam dalam menghadapi tantangan modern, termasuk melalui media sosial.

Haedar mengajak Muhammadiyah untuk terus menjaga dimensi iman dan akhlak dalam setiap langkah perjuangannya, dengan orientasi dakwah yang selalu mengedepankan keseimbangan antara iman, akhlak, dan modernitas menuju Indonesia 2045 yang lebih baik.

Dengan demikian, Haedar mengingatkan bahwa Muhammadiyah harus tetap teguh pada fondasi yang telah dibangun Kyai Dahlan dan meneruskan perjuangannya dengan inovasi yang relevan dengan tantangan zaman. (ain)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search