Jelang Idulfitri: Antara Sajadah dan Belanja

*) Oleh : Chusnun Hadi
Editor majelistablig.id
www.majelistabligh.id -

Ramadan perlahan memasuki ujung akhirnya. Bulan suci yang diawali dengan gema “Ramadan Mubarak di Hati” kini mendekati garis finis. Hari-hari berpuasa tinggal menghitung jari, sementara Idulfitri sudah berdiri di depan pintu waktu, menunggu disambut dengan penuh haru.

Namun di penghujung Ramadan ini, suasana sering kali menghadirkan ironi yang sunyi. Di awal bulan, masjid-masjid penuh sesak. Saf salat tarawih memanjang hingga ke halaman masjid. Lantunan ayat suci menggema dari sudut-sudut kampung hingga kota. Hati terasa ringan, langkah menuju masjid terasa dekat, dan waktu seolah berlomba mengantarkan manusia kepada rahmat Tuhan.

Tetapi memasuki sepuluh hari terakhir, keadaan sering berubah. Saf tarawih justru mulai maju. Jemaah semakin berkurang. Padahal inilah masa yang paling mulia—masa ketika malam kemuliaan, Lailatul Qadar, turun membawa rahmat yang lebih baik dari seribu bulan.

Ironisnya, ketika pintu langit terbuka lebar, sebagian manusia justru menoleh ke arah lain. Bukan lagi ke sajadah, melainkan ke etalase toko. Pasar-pasar semakin ramai. Pusat perbelanjaan dipadati pengunjung. Jalanan macet oleh kendaraan yang membawa manusia menuju diskon dan promosi.

Malam Ramadan yang dahulu dihidupkan dengan jari-jari tangan bergerak mengikuti ucapan zikir, kini jari-jari tangan berada pada riuh memilih pakaian dari model yang satu ke model yang lain, serta menghitung lembaran uang dari dompet untuk dibayarkan.

Peningkatan Belanja

Fenomena ini bukan sekadar kesan subjektif. Data menunjukkan bahwa Ramadan memang menjadi puncak aktivitas konsumsi masyarakat. Laporan berbagai lembaga ekonomi mencatat belanja rumah tangga meningkat signifikan menjelang Idulfitri, terutama untuk pakaian, makanan, dan kebutuhan rumah tangga.

Bahkan lebih dari separuh konsumen di Indonesia berencana menambah anggaran belanja Ramadan, dengan sekitar 50 persen di antaranya mengeluarkan lebih dari Rp3 juta untuk kebutuhan Ramadan dan Lebaran.

Bank Indonesia juga mencatat terjadi lonjakan konsumsi selama Ramadan dan menjelang Idulfitri, terutama pada sektor makanan, minuman, serta pakaian. Pertumbuhan penjualan ritel pada Maret 2025 lalu, meningkat sekitar 8,3 persen secara bulanan karena tingginya kebutuhan masyarakat dalam menyambut Lebaran.

Di dunia digital, fenomena ini bahkan lebih terasa. Aktivitas aplikasi belanja di Indonesia meningkat sekitar 11 persen selama Ramadan dibandingkan rata-rata tahunan. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya dorongan konsumsi menjelang hari raya.

Tak mengherankan jika pusat-pusat perbelanjaan dipenuhi manusia yang berburu pakaian baru, kue Lebaran, perabot rumah tangga, hingga berbagai hidangan yang akan tersaji di meja tamu.

Bagi sebagian masyarakat, Idulfitri terasa kurang lengkap tanpa baju baru. Seakan kebahagiaan hari raya harus dibungkus dengan pakaian terbaik. Tanpa ketupat dan opor di meja makan, tanpa toples kue yang tersusun rapi di ruang tamu, Lebaran terasa hambar.

Budaya ini tentu bukan sepenuhnya salah. Tradisi berbagi makanan, memberi hadiah, dan menyambut tamu adalah bagian dari kehangatan sosial masyarakat. Bahkan dalam banyak keluarga, Lebaran adalah momen mempererat hubungan yang lama renggang.

Namun persoalan muncul ketika budaya mulai mengalahkan esensi. Ketika ibadah yang seharusnya memuncak justru meredup di garis akhir Ramadan.

Puasa sejatinya adalah perjalanan spiritual. Ia dimulai dari menahan lapar, lalu beranjak pada menahan lisan, hingga akhirnya mendidik hati untuk lebih dekat kepada Sang Khalik. Sepuluh hari terakhir seharusnya menjadi puncak perjalanan itu, bagai pendaki yang hampir mencapai puncak gunung.

Tetapi sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Semangat ibadah yang menyala di awal Ramadan perlahan meredup. Progres spiritual yang semestinya memuncak justru tergelincir oleh kesibukan duniawi.

Ramadan akhirnya menjadi medan tarik-menarik antara langit dan pasar. Antara sajadah dan keranjang belanja. Antara doa yang lirih di sepertiga malam dan lampu terang pusat perbelanjaan.

Padahal hakikat Idulfitri bukanlah tentang apa yang kita pakai, melainkan tentang siapa diri kita setelah sebulan berpuasa. Baju baru tidak selalu menandakan hati yang baru. Meja makan yang penuh tidak selalu mencerminkan jiwa yang kenyang dengan iman.

Pada akhirnya, pertanyaan sederhana patut kita renungkan: ketika Ramadan berlalu, apa yang benar-benar kita bawa pulang? Apakah tas belanja yang penuh, atau hati yang lebih dekat kepada Sang Pemilik Hati?

Idulfitri bukan sekadar hari kemenangan. Ia adalah cermin: apakah selama Ramadan kita benar-benar berubah. Apakah kita sudah benar-benar memenangkan pertempuran melawan hawa nafsu? Wallahu a’lam bish shawab. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search