Jelang Puncak Haji, PPIH Siapkan 8 Sektor Ad-Hoc dan 24 Pos Pantau

www.majelistabligh.id -

Menyambut fase puncak ibadah haji, yaitu Arafah-Muzdalifah-Mina (Armuzna), Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi tahun 1446 H/2025 M terus mematangkan kesiapan operasional. Kepala Bidang Perlindungan Jemaah (Kabid Linjam) Harun Ar-Rasyid menegaskan, petugas PPIH dari Daker Madinah saat Armuzna berada di bawah komando Satuan Operasional (Satop) Mina.

Hal itu disampaikan Harun saat memberikan pengarahan di Kantor Daker Madinah pada Sabtu (17/5). Ia menegaskan pentingnya pembentukan struktur operasional yang solid di wilayah Mina untuk mendukung layanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia.

“Nanti akan kita bentuk di Mina itu 8 Sektor Ad-Hoc dan 10 Pos Pantau yang tersebar di sepanjang rute Jamarat,” ujarnya.

Tak hanya itu, lanjut Harun, untuk menjawab kebutuhan penanganan cepat dalam situasi darurat, dibentuk pula 5 titik Mobile Crisis Rescue (MCR) di lantai tiga. MCR ini menjadi pos taktis yang memiliki kemampuan mobilisasi tinggi untuk membantu jemaah dalam kondisi krisis.

“Kita sosialisasikan agar para petugas tidak hanya tahu secara teori, tapi juga praktik di lapangan. Menjelang Armuzna akan diadakan geladi operasional,” imbuhnya.

Salah satu inovasi yang tengah digencarkan adalah penempatan petugas PPIH berbasis syarikah (perusahaan pelayanan haji lokal). Harun menegaskan pentingnya pemetaan markas syarikah dan jumlah petugas di tiap lokasi.

“Teman-teman harus hafal delapan syarikah itu, tahu markasnya di mana, dan siapa yang ditugaskan. Ini bagian dari mitigasi operasional di lapangan,” jelasnya.

Dengan pendekatan ini, orientasi medan akan lebih terstruktur. Nantinya saat petugas tiba di Makkah, selain teori, juga akan ada geladi lapangan secara langsung untuk memperkuat pemahaman.

“Jadi nanti ketika ditanya mana Pos A, mana sektor ad-hoc yang kita pelajari, teman-teman sudah paham,” ucapnya.

Harun juga menekankan pentingnya perhatian khusus terhadap jemaah lanjut usia dan disabilitas. Salah satu program andalannya adalah Safari Wukuf Lansia, yang memungkinkan jemaah dengan keterbatasan fisik tetap bisa menjalankan ibadah wukuf secara aman dan nyaman.

Setiap syarikah disebutkan telah mulai mempersiapkan tenda dan infrastruktur khusus, bahkan membuat gapura pembeda sebagai simbol keseriusan pelayanan.

“Dengan adanya delapan syarikah yang siap, ini jadi bukti komitmen Arab Saudi dalam memberikan layanan terbaik,” ujarnya.

Di luar fase Armuzna, Harun mengungkapkan adanya peningkatan jumlah pos pemantauan di area Masjidil Haram. Dari semula tujuh, kini menjadi sembilan pos. Penambahan dilakukan untuk menjangkau jemaah yang tersebar di hotel-hotel sekitar Masjidil Haram.

Pos-pos ini mencakup area strategis seperti Terminal Syib Amir, Bukit Marwa, WC 3, Mathaf, depan Zamzam Tower, kawasan perluasan Abdullah, hingga Jabal Ka’bah.

“Teman-teman dari Daker Madinah juga akan diperbantukan di sana saat menjelang puncak haji,”

Menutup arahannya, Harun memberikan imbauan kepada jemaah haji Indonesia agar mempersiapkan diri menyambut puncak haji dengan menjaga kesehatan secara optimal.

“Cuaca di Arab Saudi sangat berbeda dengan Indonesia. Perbanyak minum, jangan tunggu haus, dan jaga stamina,” pesannya.

Dengan koordinasi matang, pembekalan terstruktur, serta kerja sama lintas sektor, diharapkan layanan kepada jemaah haji Indonesia tahun ini semakin optimal, terutama dalam menghadapi tantangan fase Armuzna yang menjadi titik krusial dalam ibadah haji. (afifun nidlom)

Tinggalkan Balasan

Search