Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa Masjid Istiqlal sejak awal dibangun dengan semangat inklusivitas dan persatuan. Bahkan arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang arsitek nonmuslim, yang menjadi simbol kuat persaudaraan dan kebangsaan Indonesia.
“Sejak awal, Istiqlal dibangun dengan semangat kebangsaan. Arsiteknya nonmuslim, tetapi karya dan visinya menyatu dalam cita-cita besar bangsa,” kata Menag saat bertemu dengan Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, membahas penguatan peran Masjid Istiqlal sebagai pusat ibadah, pendidikan, kemanusiaan, dan perdamaian lintas bangsa, di Jakarta.
Pertemuan ini menjadi langkah awal penguatan hubungan kerja sama Indonesia–Jerman berbasis nilai keagamaan, kebudayaan, pendidikan, dan kemanusiaan, dengan Masjid Istiqlal sebagai salah satu simpul dialog dan perdamaian global.
Menag menjelaskan bahwa Masjid Istiqlal tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat. Saat ini, Istiqlal menyediakan ruang bagi pelaku UMKM, program sosial kemanusiaan, serta pendidikan berjenjang mulai dari RA hingga S3.
Salah satu program unggulan yang disampaikan Menag adalah Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) yang bekerja sama dengan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Selain itu, Masjid Istiqlal juga menjalin kerja sama dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pembangunan masjid di kawasan Amerika Latin sebagai pusat ibadah sekaligus ruang kemanusiaan.
“Masjid ke depan tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga ruang untuk pendidikan, dialog, dan kemanusiaan,” tegas Menag.
Menag juga membuka peluang kerja sama kebudayaan dan literasi internasional. Ia menyampaikan bahwa Masjid Istiqlal menyediakan ruang bagi negara-negara sahabat untuk menempatkan buku, informasi, dan wawasan tentang negaranya.
“Jika Jerman berkenan, kami siap menyediakan ruang untuk memperkenalkan Jerman kepada masyarakat Indonesia, sebagai bagian dari pertukaran pengetahuan dan budaya,” tambahnya.
Sementara itu, Duta Besar Jerman, Ralf Beste menyampaikan ketertarikannya untuk menjajaki kerja sama lebih lanjut dengan Masjid Istiqlal. Ia menilai Istiqlal sebagai masjid terbesar di Asia Tenggara yang memiliki peran strategis dalam merawat perdamaian di tengah keberagaman suku, budaya, dan agama Indonesia.
“Istiqlal adalah simbol perdamaian yang nyata. Kami melihat bagaimana masjid ini mampu mengelola perbedaan dan membangun harmoni,” ujar Ralf Beste.
Ia juga menegaskan bahwa Jerman menghormati kebebasan beragama warga Indonesia yang tinggal di negaranya, termasuk dalam menjalankan ibadah Ramadhan dan praktik keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. (*)
